Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login


Bambang Drajat

ANALISIS PROSPEK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI HILIR KOPI


Sejak 30 tahun lalu, perkopian dunia kembali dihadapkan pada masalah kelebihan penawaran, sehingga harga biji kopi pada bulan Nopember 2000 di pasar internasional terpuruk ketitik terendah. Kondisi ini kembali menyadarkan kita bahwa pengembangan industri hilir kopi mempunyai arti startegis untuk mengantisipasi kejenuhan pasar biji kopi, meningkatkan nilai tambah, mengurangi resiko fluktuasi harga biji kopi, memperkuat struktur ekspor dan meningkatkan peran Indonesia dalam perkopian dunia.
Saat ini pasar ekspor kopi olahan makin terbuka, terutama ke negara-negara yang sedang berkembang seperti Malaysia, Jepang, Taiwan dan Saudi Arabia. Permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah pengembangan industri pengolahan kopi masih terkendala oleh image bahwa negara produsen belum mampu menghasilkan produk olahan sesuai dengan permintaan pasar, disamping ketatnya persaingan pasar produk olahan.
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi dan prospek berbagai jenis kopi olahan Indonesia di pasar internasional dan domestik, nilai tambah domestik kopi olahan, keterkaitan (linkages) antara industri hilir berbasis kopi dengan industri lainnya, dan mengajukan alternatif strategi dan kebijakan pengembangan industri hilir kopi. Penelitian ini menggunakan pendekatan beberapa aspek, yaitu aspek pasar (internasional dan domestik), tekno-ekonomi (nilai tambah), aspek pengembangan industri, dan aspek manajemen dan kebijakan strategis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi ekspor kopi Indonesia tahun 2000 melemah dibandingkan tahun 1996. Indonesia mengalami penurunan nilai sekaligus pangsa nilai ekspor. Pertumbuhan ekspor dunia dan Indonesia sedang mengalami penurunan, tetapi penurunan Indonesia lebih tinggi dibandingkan penurunan dunia. Vietnam muncul sebagai negara pengekspor dengan tingkat pertumbuhan ekspor positif, seperti halnya negara-negara maju. Sedangkan negara-negara pengekspor lain, seperti Brazil, Kolumbia, El Salvador dan Meksiko juga sedang mengalami penurunan pertumbuhan ekspor. Pertumbuhan negatif ekspor kopi Indonesia terjadi karena adanya kelemahan pada komposisi produk, distribusi pasar, dan daya saing. Indonesia belum memanfaatkan jenis produk dan negara pengimpor yang sedang tumbuh permintaannya, yaitu kopi olahan, disamping kalah bersaing dengan negara pengekspor lain bila harga kopi mengalami penurunan.
Dalam hal nilai tambah, industri kopi bubuk memberikan nilai tambah tertinggi yang mencapai Rp. 318.9 miliar atau 43,5% dari total nilai tambah seluruh industri pengolahan kopi, kemudian diikuti oleh industri kopi arabika OIB pada urutan kedua dan industri kopi robusta OIB pada urutan ketiga masing-masing dengan nilai tambah sebesar Rp. 226,7 miiliar (30,9%) dan Rp. 105 milliar (14,3%).
Berdasarkan analisis perankingan masalah hasil wawancara dengan para pelaku industri hilir kopi diketahui bahwa masalah utama dari lambannya pengembangan industri hilir kopi di Indonesia berturut turut mulai dari masalah terberat adalah (1) masalah dalam menembus jaringan pasar ekspor produk hilir kopi; (2) kurangnya keterdiaan sarana dan prasarana; (3) adanya hambatan dalam peraturan khususnya ketenagakerjaan, perpajakan dan perdagangan; (4) kurangnya motivasi dari pengusaha; (5) kekurangan modal; (6) teknologi pengolahan dan pengemasan yang belum dikuasai sepenuhnya; dan (7) kualitas SDM untuk pemasaran produk hilir yang belum memadai.
Dalam konteks pengembangan industri, industri biji kopi dan kopi olahan Indonesia mempunyai potensi untuk dikembangkan karena nilai keterkaitan ke depan dan belakang langsung dan tidak langsung lebih besar dari satu. Peningkatan permintaan di industri biji kopi dan kopi olahan sebesar satu satuan akan meningkatkan output di semua industri, termasuk terhadap dirinya sendiri, yang relatif besar yaitu 1,5 kali lipat. Dengan memperhitungkan efek konsumsi masyarakat, yaitu jika terjadi peningkatan pengeluaran rumah tangga yang bekerja di industri kopi, maka kenaikan output tersebut dapat mencapai 3 kali lipat. Industri biji kopi dan kopi olahan juga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pendapatan tenaga kerja di semua industri. Efek induksi pendapatan tenaga kerja di industri kopi dan kopi olahan terhadap industri lain sekitar 1,6 kali lipat. Keterbatasan dari industri biji kopi dan kopi olahan adalah daya penyebaran ke belakang lebih tinggi dibandingkan daya penyebaran ke depan, sehingga pertumbuhan industri ini lebih banyak tergantung pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam rangka penumbuhan ekspor kopi Indonesia, maka pengembangan komposisi produk, distribusi pasar, dan daya saing harus diperhatikan. Strategi penetrasi dan pengembangan pasar ekspor merupakan pilihan strategi yang dapat dilakukan. Pada saat bersamaan, peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran ekspor tetap perlu dilakukan. Potensi pengembangan yang dimiliki industri kopi biji dan kopi olahan Indonesia perlu diaktualisasikan dengan memperhitungkan peluang pengembangan pasar internasional. Berbagai produk kopi olahan yang telah dapat diproduksi di Indonesia perlu diekspor untuk memperbaiki kelemahan ekspor Indonesia pada komposisi produk.

 

   Kunjungan ke-3667,
Sejak: 31 Agustus 2004
 
   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login