Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami

Judul: BRAZIL: BERHASIL MEMIMPIN INDUSTRI BIOFUEL

Brazil dengan industri ethanolnya kini dikenal sebagai negara yang bediri paling depan dalam bisnis biofuel. Bahkan Amerika sebagai negara adidaya, tidak malu-malu mengakui keberhasilan tersebut. Banyak yang menilai bahwa keberhasilan ini sebagai suatu contoh “ kemenangan” negara berkembang atas negara maju pada salah satu isu stretegis dunia di masa depan, yaitu isu energi. Jadi, Brazil kini tida saja menjadi kiblat sepak bola dunia, tetapi kini juga menjadi kiblat pengembangan industri biofuel, yang dimasa depan diyakini sebagai salah satu senjata dalam memenangkan persaingan global.

 

Menggapainya dengan Jatuh Bangun

Pencapaian Brazil dalam industri biofuel tidak dilalui secara mudah, tetapi melalui proses jatuh-bangun, bahkan mendekati kebangkrutan. Pengembangan biofuel ethanol Brazil pada mulanya diilhami oleh semangat patriotisme kalangan militer, bukan pertimbangan ekonomi apalagi lingkungan. Pemerintahan militer yang berkuasa pada periode 1964-1985, didorong oleh semangat patriotisme, bermaksud mengurangi ketergantungan terhadap BBM yang bersumber dari Timur Tengah dengan harga sangat tnggi pada tahun 1970-an. Untuk itu, pemerintah Brazil mengembangankan program industri alcohol/ethanol sebagai bahan substitusi BBM yang disebut Pro-Alcohol Programme .

Agar program ini dapat terwujud, dua jenis subsidi merupakan intrumen kebijakan yang mendukung. Subsidi jenis pertama adalah subsidi kepada petani yang menanam tebu untuk diolah menjadi ethanol sehingga mereka memperoleh pendapatan yang berimbang bila dibandingkan dengan petani yang tebunya diolah menjadi gula. Subsidi jenis kedua adalah subsidi harga pada stasiun pengisian bahan bakar yang membuat ethanol menjadi lebih murah dari BBM.

Kebijakan tersebut cukup efektif dalam mencapai sasarannya. Industri otomotif di Brazil secara signifikan meningkatkan jumlah produksi kendaraan yang mengunakan bahan bakar ethanol. Puncaknya terjadi pada tahun 1985 dan 1986 dimana sekitar 75% sepeda motor dan 90% mobil dirancang untuk bisa menggunakan campuran BBM-etanhol (Gambar 1). Periode ini boleh disebut sebagai jilid I era kejayaan biofuel ethanol di Brazil.

Sesudah era kejayaan tersebut, industri biofuel di Brazil secara mendadak mengalami masa suram dam terus merosot ke titik nadir. Menurut Plummer (2006), ada empat faktor yang secara simultan menggiring industri tersebut ke titik nadir yaitu:

•  Pemerintah sipil yang mengambil alih pemerintahan militer kurang memberi perhatian pada biofuel sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional;

•  Harga gula meningkat tajam sehingga membuat subsidi untuk petani yang tebunya diproses menajdi ethanol menjadi meningkat tajam;

•  Harga minyak terus menurun sehingga biofuel menjadi tidak kompetitif walau dengan subsidi;

•  Perusahaan minyak negara Brazil Petrobras menemukan lading minyak baru di sebuah lepas pantai sehingga Brzil menjadi lebih mampu menyediakan BBM dari dalam negeri.

 

Dengan perubahan tersebut, kinerja industri ethanol di Brazil secara terus-menerus mengalami tekanan. Walaupun pihak industri menggunakan argumen lingkungan untuk mempertahankan industri tersebut, dukungan terhadap industri tidak dapat dipertahankan. Akhirnya industri ethanol turun ke titik nadir pada tahun 1997, diindikasikan oleh penurunan produksi kendaraan yang menggunakan ethanol menjadi hanya 0.06% dari total produksi (Gambar 1). Situasi suram ini semula diperkirakan akan menamatkan industri ethanaol sebab masa sulit tersebut terus berlanjut sampai dengan awal tahun 2000-an.

 

Era Kejayaan Jilid II dan Double Switch Mechanisms

Pada kondisi yang hampir bangkrut, Brazil seperti mendapat “ second wind ” atau momentum kebangkitan kembali industri ethanolnya. Beberapa faktor yang membentuk momentum tersebut adalah :

•  Kenaikan harga minyak bumi sejak tahun 2003 dan terus meningkat tajam sampai dengan awal tahun 2006 yang mencapai sekitar US$ 70/barrer sehingga industri ethanol menjadi kembali kompetitif.

•  Upaya penyediaan enegi yang berkesinambungan ( sustainable energy ) yang semakin menggema sehinga langkah antisipasi terhadap isu jangka panjang ketersediaan BBM yang semakin menipis perlu segera diwujudkan. Penyediaan energi alternatif yang berkesinambungan, seperti ethanol, harus sudah dipersiapkan secara dini.

•  Kebijakan keringan pajak otomotif yang menggunakan campuran ethanol. Untuk mobil tersebut dikenakan pajak 14%, sedangkan mobil yang sepenuhnya mengunakan BBM dikenakan pajak 16%.

•  Kecendrungan isu lingkungan yang semakian menguat, khususnya di negara maju ( Eropa , US , dan Jepang) juga turut mendorong/memaksakan sampai jumlah tertentu penggunan energi non-fosil.

 

Perubahan lingkungan strategis tersebut membuat industri ethanol di Brazil menemukan momentum untuk bangkit kembali. Momentum tersebut menjadi semakin lengkap dengan diterapkannya double switch mechanisms yaitu satu di industri tebu dan satu lagi pada industri otomotif. S witch mechanisms yang pertama terjadi pada industri pengolahan tebu. Pada industri pengolahan tebu, banyak pabrik gula dan pabrik ethanol dibangun secara terintregrasi. Dalam hal ini pabrik tersebut dapat mengolah tebu untuk menjadi gula atau menjadi ethanol, sesuai dengan dinamika pasar gula dan tebu, secara otomoatis. Istilah populernya, dengan men- switch sebuah tombol, pabrik tersebut akan mengubah tebu menjadi ethanol atau gula secara otomatis.

Switch mechanisms yang kedua terjadi pada industri otomatif yang merupakan dampak langsung dari sistem insentif perpajakan yang bias pada otomotif yang menggunakan bahan baku campuran. Insentif tersebut mendorong lahirnya mobil mobil generasi baru tahun 2003 yang dikenal sebagai flexi-fuel car . Flexi-fuel car tersebut dapat memakai bahan bakar yang murni ethanol, murni BBM, atau campuran keduanya. Ketika tangki mobil tersebut diisi bahan bakar, sebuah chip komputer di tangki mobil tersebut akan menganalis komposisi antara ethanol dan BBM dan selanjutnya “mengarahkan” mesin bekerja berdasarkan komposisi tersebut.

Ketika mobil tersebut memasuki pasar tahun 2004, pangsa pasarnya mencapai 17%. Pada tahun 2005, pasar mobil tersebut tumbuh pesat dengan pangsa pasar mencapai 53.%, langsung melampui pangsa pasar mobil konvensional. Bahkan pada akhir Desember 2005, sekitar 183 600 kendaraan atau lebih dari 70% yang dibeli adalah kendaraan flexi-fuel car . Pada masa mendatang, sekitar 95% dari kendaraan yang akan diproduksi adalah flexi-fuel car (Philips, 2006).

Dengan situasi yang kondusif tersebut, upaya Brazil untuk terus memimpin pasar bio-fuel tampaknya tidak akan banyak mengalami hambatan pasar, baik di pasar domestik maupun pasar internasional/ekspor. Secara keseluruhan, bahan bakar ethanol sudah mencapai sekitar 33% dari seluruh bahan bakar yang digunakan di Brazil dan akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan flexi-fuel car yang ditargetkan mencapai 95% dari pasar otomotif. Dengan harga yang hanya sekitar 60% dari harga BBM, target tersebut akan dengan relatif mudah dapat diwujudkan. Industri ethanol juga berkembang karena permintaan ekspor yang terus meningkat dan tahun 2005 telah mencapai sekitar 2 miliar liter, menempatkan Brazil sebagai eksporter terbesar. Pada tahun 2010, untuk memunuhi permintaan domestik dan ekspor, produksi diharapkan mencapai 10 miliar liter. Brazil tampaknya potensial mewujudkannya karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas, curah hujan yng cocok, iklim, dan pengalaman (Philips, 2006).

Dengan kondisi sumberdaya alam, ekonomi, sosial budaya, dan kondisi politik yang banyak memiliki kemiripin dengan Brazil , Indonesia sebenarnya berpeluang untuk mengikuti jejak Brazil tersebut. Kesigapan dan konsistensi kebijakan pemerintah untuk mendukung program tesrebut dan visi jauh kedepan dari para pengusaha, akan sangat menentukan keberhasilan untuk mewujudkan hal tersebut di tanah air kita tercinta.

Sumber: Plummer (2006)

 

References

Philips, T. 2006. Brazil 's Biofuel Success Strory, Mail Guarddian Online, http://www.mg.co.za/ , 27 Februari 2006.

Plummer, R. 2006. The rise, fall and rise of Brazil 's biofuel, BBC News, http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/4581955.stm , 24 Januari 2006.



Kunjungan ke-2637,
Sejak: 7 April 2006

   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami