MENGUASAI ENERGI, MENGUASAI DUNIA
Era dekade ke 20 adalah era teknologi informasi. Oleh sebab itu, muncul suatu paradigma bahwa barang siapa yang menguasai informasi, maka dialah yang akan menguasai dunia. Era tersebut ditandai oleh kemajuan pesat dalam bidang teknologi informasi sehingga dikenalah istilah dunia tanpa batas ( borderless world ). Dari sisi ekonomi, keberhasilan Bill Gates sebagai salah satu orang terkaya di dunia merupakan salah satu bukti pembenaran paradigma tersebut.
Pada awal abad ke-21, paradigma tersebut tidak lagi begitu dominan. Seiring dengan krisis energi yang ditandai oleh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang sudah diatas US$ 70/barel, BBM menjadi sumberdaya yang amat strategis pada masa mendatang. Paradigma baru muncul yaitu bahwa barang siapa yang menguasai energi, maka dialah yang akan menguasai dunia. Gejala-gejala ini sebenarnya sudah mulai muncul di negara-negara maju, khususnya di Eropa, dengan melakukan diversifikasi sumber energi. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan mereka pada energi impor (BBM) sehingga meningkatkan derajat ketahanan energi mereka. Negara maju sudah mulai mengantisipasi akan penurunan pasokan energi dari BBM yang berbasis fosil, karena mereka yakin cepat atau lambat enegi berbasis fosil pasokannya akan terus menurun karena tidak dapat diperbaharui.
INDONESIA MULAI MENGALAMI KRISIS ENERGI
Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia menghadapai masalah energi yang cukup mendasar. Sumber energi yang tidak renewable tingkat ketersediaanya semakin berkurang. Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang telah mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1,7 juta barel per hari terus menurun hingga tinggal 1,125 juta barel per hari tahun 2004. Di sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat dan tercatat 0,95 juta barel per hari tahun 2000, menjadi 1,0516 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 1,0362 juta barel per hari tahun 2004 (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi dan konsumsi minyak bumi Indonesia
Tahun |
Produksi
(juta barel/hari)
|
Konsumsi (juta barel/hari) |
2000 |
1,4 |
0,9446 |
2001 |
1,3 |
0,9632 |
2002 |
1,2 |
0,9959 |
2003 |
1,1 |
1,0516 |
2004 |
1,125 |
1,0362 |
Sumber: Media Indonesia, 8 September 2004 dan Kompas, 27 Mei 2004.
Indonesia yang semula adalah net-exporter di bidang BBM, sejak tahun 2000 telah menjadi net importer, jika produksi minyak mentah Indonesia dikurangi dengan bagian kontraktor asing sebesar 35% produksi. Pada tahun 2003, net impor BBM Indonesia mencapai 0,336 juta barel per hari atau sedikit lebih kecil dari produksi bagian kontraktor asing. Net impor ini diperkirakan akan terus meningkat dengan makin menurunnya produksi ladang-ladang minyak Indonesia dan meningkatnya konsumsi minyak penduduk Indonesia.
Indonesia sebagai salah satu konsumen terbesar BBM sudah mulai semakin tertekan menghadapi tekanan harga BBM yang kini melambung. Subsidi BBM yang semula telah ditetapkan akan mengalami tekanan karena akhir-akhir ini harga minyak mentah terus meningkat dan sudah diatas US$ 70/barel. Di samping itu, cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan hanya tinggal tidak lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itulah, pemerintah dengan gencar mencanangkan pengembangan energi alternatif yang dapat diperbaharui. Pengembangan biofuel merupakan pilihan yang strategis dan berdimensi jangka panjang. Hal ini antara lain tertuang dengan dikeluarkannya Inpres No 25/2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati/BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain.
Selanjutnya, Peraturan Pemerintah No. 5/2006 tentang kebijakan energi nasional semakin mempertegas arah pengembangan biofuel. Salah satu butir penting dari peraturan tersebut adalah perubahan pada bauran sumber energi ( energy mix ) yang memberi ruang peningkatan pangsa biofuel. Sampai saat ini, bauran energi terdiri dari 54% bersumber dari minyak bumi, gas bumi 26%, dan batubara 14%. Pada tahun 2025, kontribusi minyak bumi diharapkan kurang dari 20%, gas bumi lebih dari 30%, batubara lebih dari 33%, batubara cair 2%, biomas, air, angin, surya, dan nuklir 5%, dan biofuel sebesar 5%.
BIODIESEL SEBAGAI ALTERNATIF YANG PROSPREKTIF
Minyak solar sebagai salah satu komponen BBM terbesar mengalami kecendrungan yang sama. Konsumsi solar terus meningkat dengan laju 5% per tahun dan pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 26 juta kiloliter. Di sisi lain, produksi dalam negeri hanya dapat memenuhi 75% dari kebutuhan tersebut atau sekitar 18,75 juta kiloliter. Defisit tersebut diperkirakan akan terus meningkat sama seperti defisit yang dialami total minyak mentah Indonesia .
Dalam upaya mengatasi masalah defisit solar tersebut, pengembangan biodiesel dari minyak sawit (CPO) sebagai sumber energi alternatif merupakan pilihan yang strategis. Aplikasi B10 yang dicampur solar akan dapat menurunkan subsidi solar sekitar Rp 2.56 triliu, sedangkan bila dicampur minyak tanah akan menurunkan subsidi minyak tanah sebesar Rp 1.66 triliun per tahun (Kompas, 10 Mei 2006, hal : 13). Industri biodiesel dapat dikembangkan dalam skala besar dengan orientasi eskpor atau skala kecil dengan orientasi pasar domestik. Di samping untuk mengatasi defisit solar tersebut, alternatif ini memili ki beberapa kelebihan. Pertama , biodiesel merupakan sumber energi yang bersifat renewable sehingga bisa menjamin kesinambungan produksi. Kedua , Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit sehingga ketersediaan bahan baku akan terjamin dan industri ini berbasis produksi dalam negeri. Ketiga , pengembangan biodiesel dapat berperan sebagai katup pengaman terhadap fluktuasi harga minyak sawit yaitu dengan meningkatkan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel pada saat harga minyak sawit rendah. Sebaliknya, pada saat harga minyak sawit tinggi, pabrik biodiesel menggunakan input lain, karena pabrik biodiesel umumnya bersifat multi input. Keempat , pengembangan biodiesel juga merupakan proses produksi yang ramah lingkungan, non-toksik, dan biodegradable . Kelima , dari sisi teknis, biodiesel memiliki beberapa keunggulan seperti melindungi mesin dan meningkatkan efisiensi pembakaran.
Mengacu pada kebutuhan solar nasional yang mencapai sekitar 26 juta kiloliter per tahun, maka peluang pengembangan biodiesel berbasis sawit cukup potensial. Sesuai dengan sasaran bauran energi yang menetapkan biofuel mempunyai pangsa sebesar 5%, maka kebutuhan biodiesel per tahun adalah sekitar 1,3 juta kiloliter. Untuk memproduksi biodiesel sejumlah tersebut, diperlukan pabrik biodiesel sebanyak 11 37 unit, dengan kapasitas antara 30 100 ribu ton per tahun. Luas areal kebun kelapa sawit yang dibutuhkan sebagai sumber bahan baku diperlukan sekitar 340 ha (Darnoko et al , 2006). Dengan areal perkebunan kelapa sawit yang sudah mencapai 5,2 juta ha dan diperkirakan terus tumbuh dengan laju 6%-8% per tahun, ketersediaan bahan baku diperkirakan tidak akan mengganggu ketersedian CPO untuk bahan baku untuk minyak goreng.
Teknologi biodiesel secara umum relatif sederhana dan relatif sudah dikuasai. Berbagai lembaga telah mengklaim menguasai teknologi tersebut seperti oleh ITB, BPPT, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dan lembaga swasta. Dari sisi investasi juga tidak ada masalah yang substansial karena nilai investasi tidaklah terlalu besar, berkisar antara Rp 0,7 Rp 200 miliar, bergantung kapasitas. Masalah yang masih perlu pemecahan adalah belum ditetapkannya aturan pendistribusian biofuel, termasuk biodeisel, sehingga belum mempunyai landasan hukum untuk mendistribusikan/memasarkan di SPBU.
PABRIK CPO-BIODIESEL: PENDEKATAN TERINTEGRASI
Sementara masalah distribusi/pemasaran belum jelas penataannya, upaya-upaya untuk mempercepat pengembangan industri biofuel harus terus dipacu. Salah satu upaya untuk menyiasati masalah tersebut adalah dengan mengembangkan pabrik biodiesel yang terintegrasi dengan pabrik CPO dan biodiesel tersebut diprioritaskan sebagai sumber bahan bakar di perusahaan yang bersangkutan ( Intergrated CPO-Biodiesel Model /ICBM). Pendekatan ini akan memberikan beberapa manfaat baik dari sisi percepatan pengembangan biodiesel berbasis CPO, maupun manfaat teknis dan ekonomis, sebagai berikut.
- Percepatan pengembangan energi altrenatif berbasis biodiesel . Pendekatan ICBM tidak perlu menunggu sampai keluarnya kebijakan pemerintah mengenai pemasaran/tataniaga yang berkaitan dengan distribusi biodiesel. Hal ini disebabkan produksi biodiesel tersebut terutama digunakan secara internal perusahaan. Di samping itu, komposisi campuran biodiesel dengan solar dapat dibuat lebih luwes (tidak harus B5 atau B10), disesuaikan dengan kondisi teknis pabrik. Kedua hal ini akan mempercepat pengembangan biodiesel sebagai energi alternatif di Indonesia.
- Optimasi sumberdaya yang sudah ada di pabrik CPO . Dengan mengintegrasikan pabrik CPO dengan biodiesel, berbagai sumberdaya yang sudah ada di pabrik akan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Beberapa sumberdaya yang dapat ditingkatkan efisiensinya antara lain lahan untuk pabrik, air, uap, dan listrik.
- Peningkatan nilai tambah industri berbasis CPO . Proses produksi biodiesel sudah jelas akan meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan perusahaan. Dengan perkiraan harga CPO rata-rata Rp 3375/kg dan harga biodiesel diasumsikan sekitar Rp 5300/kg (harga solar untuk industri), maka proses yang relatif sederhana tersebut sudah mampu meningkatkan nilai tambah yang cukup substansial.
- Penurunan risiko bisnis kelapa sawit . Salah satu risiko terbesar dari bisnis perkebunan adalah fluktuasi harganya yang relatif tinggi. Untuk CPO, harga dapat berfluktuasi dari US$ 200 US$ 650 per ton, suatu risiko harga yang sangat tinggi. Dengan pendekatan ICBM, resiko fluktuasi harga CPO menjadi terkendali, analog dengan terintregrasinya pabrik gula dan ethanol di Brazil. Ketika harga CPO di pasar internasional turun, perusahaan dapat lebih banyak mengalokasikan CPO untuk biodiesel, dibandingkan menjualnya dalam bentuk CPO, dan sebaliknya. Upaya ini sangat strategis untuk pengendalian risiko yang bersumber dari fluktuasi harga CPO.
- Meningkatkan ketahanan energi di pedesaan . Salah satu masalah yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia adalah lemahnya ketahanan energi di pedesaan, baik itu dari aspek volume, kesinambungan, dan harga. Jika pendekatan ICBM dapat diterapkan, energi biodiesel yang dapat diperbaharui ini akan tersedia di pedesaan dengan jumlah yang memadai, berkesinambungan, dan harga yang relatif terkendali.
BUSINESS PLAN ICBM
Dengan manfaat yang demikian substansial, baik dari sisi perusahaan, regional, dan nasional, pengembangan ICBM akan menjadi salah satu daya tarik investor yang bergerak pada bisnis yang berbasis kelapa sawit. Untuk para investor, beberapa gambaran umum dari ICBM adalah sebagai berikut.
Peluang Pasar
Secara umum, ada tiga kategori pasar biodiesel dengan pendekatan ICBM yaitu penggunaan secara internal perusahaan, pasar domestik, dan pasar eskpor.
- Konsumsi internal . Dengan jumlah pabrik CPO yang mencapai 250 unit dengan total kapasitas sekitar 10 ribu ton TBS/jam, kebutuhan biodesel secara internal diperkirakan mencapai 0,325 juta liter per tahun. Konsumsi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan internal akan terus tumbuh mengingat karena areal kelapa sawit terus tumbuh dengan laju lebih dari 10% pada dekade terakhir.
- Konsumsi pasar domestik. Dengan asumsi bahwa sekitar 5% kebutuhan energi bersumber dari biodiesel, maka maka peluang pasar yang terbuka untuk jangka menengah adalah sekitar 1,3 juta kilo liter per tahun sampai dengan tahun 2025, atau setara dengan kebutuhan pabrik sebanyak 11 37 pabrik, bergantung kapasitas.
- Pasar ekspor . Peluang pasar ekspor secara kuantitatif masih belum diidentifikasi. Namun demikian secara kualitatif, peluang pasarnya cukup terbuka karena negara-negara maju yang sudah melakukan diversifikasi energi untuk memanfaatkan biofuel, belum memiliki bahan baku yang sekompetitif CPO. Amerika Serikat dengan bahan baku jagung dan kedele, belum mampu menyaingi sumber energi alternatif berbasis tebu yang dihasilkan Brazil dan berbasis CPO. Dengan biaya produksi sekitar US$ 0,6/liter, jelas tidak akan mampu bersaing dengan Brazil atau produk biodiesel yang harga pokoknya kurang US$ 0,5/liter. Hal yang sama juga berlaku untuk negara-negara Eropa yang biaya produksi biofuelnya tidak akan mampu bersaing, khususnya untuk jangka panjang.
Ketersediaan Teknologi
Teknologi biodesel dikenal relatif sederhana dengan produk berupa alkil ester asam lemak (metil atau etil ester) yang diproduksi dengan proses transesterifikasi/metanolisis. Sebenarnya teknologi tersebut sudah menjadi milik umum dan sudah dikuasai oleh Indonesia. Beberapa rancang-bangun pabrik biodiesel telah dikembangkan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Ketiga lembaga tersebut sudah menguji produk yang dihasilkan melalui serangkaian percobaan, termasuk road test . Secara umum, hasil tes menunjukan prospek yang cerah untuk pengembangan biodiersel berbasis sawit. Dengan demikian, secara teknis, pengembangan biodiesel berbasis CPO sudah siap dan tersedia di Indonesia.
Kapasitas dan Biaya Investasi
Dengan ICBM, kapasitas pabrik biodiesel perlu disesuaikan dengan dengan kapasitas pabrik CPO ataupun ketersedian bahan baku (areal kelapa sawit). Dengan pertimbangan tersebut, pada Tabel 2 disajikan perkiraan dukungan areal kelapa sawit dan biaya investasi untuk kapasitas pabrik biodiesel yang berkisar antara 300 ton - 100 ribu ton per tahun. Dengan kapasitas tersebut, maka besarnya biaya investasi adalah berkisar antara Rp 0,7 Rp 200 miliar. Dari total biaya investasi tersebut, sekitar 70% - 75% adalah untuk biaya pengadaan peralatan/mesin proses utama. Sisanya adalah untuk konstruksi, sipil dan utilitas.
Tabel 2. Kapasitas Pabrik Biodiesel, Biaya Investasi Pabrik, dan Dukungan Areal Sawit.
Kapasitas
(Ton/Tahun) |
Biaya Investasi
(Rp miliar) |
Luas Kebun Sawit (ha) |
300 |
0,7 |
90 |
3.000 |
6,0 |
900 |
6.000 |
12,0 |
1.800 |
30.000 |
60,0 |
9.000 |
60.000 |
120,0 |
18.000 |
100.000 |
200,0 |
30.000 |
Sumber : Darnoko, et al (2005)
Biaya Produksi dan Margin
Biaya pengolahan dari CPO menjadi biodiesel bervariasi sesuai mengikuti asas skala produksi. Makin tinggi skala produksi (kapasitas pabrik), makin rendah biaya pengolahan (Tabel 3). Sebagai contoh, dengan kapasitas 6000 ton/tahun, maka biaya pengolahan diperkirakan Rp 1000/liter. Jika kapasitas ditingkatkan menjadi 60.000ton/tahun, maka biaya produksi turun menjadi Rp 700/liter. Bahkan dapat mencapai Rp 600/liter, jika kapasitas produksi adalah 100 ribu ton per tahun.
Tabel 3. Kapasitas Produksi dan Biaya Pengolahan Biodiesel
Kapasitas (Ton/Tahun) |
Biaya Olah |
Harga CPO |
Biaya Produksi |
Gross Margin |
Gross Margin |
(Rp/liter) |
(Rp/liter) |
(Rp/liter) |
(Rp/liter) |
(Rp miliar/tahun) |
6000 |
1000 |
3375 |
4375 |
925 |
5,6 |
30000 |
800 |
3375 |
4175 |
1125 |
33,8 |
60000 |
700 |
3375 |
4075 |
1225 |
73,5 |
100000 |
600 |
3375 |
3975 |
1325 |
132,5 |
Asumsi: |
Harga CPO (Rp/kg): |
3375 |
|
Nilai Tukar (Rp/US$): |
9000 |
|
Harga CPO (US$/ton): |
375 |
|
1 Kg CPO = liter: |
1,0864 |
|
Harga Solar (Rp/liter): |
5300 |
Sumber : Darnoko, et al (2005) dan Hasil Analisis
Dari Tabel 3 tampak jelas bahwa bisnis biodiesel berbasis CPO mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi. Dengan asumsi-asumsi seperti tercantum pada Tabel 3, biaya produksi biodiesel berkisar antara Rp 3975 Rp 4375 per liter. Jika harga solar tingkat industri adalah Rp 5300/liter, maka gross margin (penerimaan dikurangi biaya operasional) berkisar antara Rp 925 Rp 1325 per liter. Secara keseluruhan, gross margin untuk setiap unit pabrik berkisar antara Rp 5,6 Rp 132,5 miliar per tahun, bergantung pada kapasitas produksi. Dengan biaya investasi antara Rp 6 Rp 200 miliar, pengembangan biodiesel merupakan suatu bisnis yang sangat menguntungkan.
PENUTUP
Krisis energi pada awal abad ke-21 yang ditandai oleh melambungnya harga minyak mentah dunia telah merubah paradigma suatu bangsa dalam melihat energi. Kini, banyak yang meyakini bahwa yang mengusai dunia pada masa mendatang adalah mereka yang menguasai energi (fuel) dan makanan (food). Menyadari bahwa sumber energi berbasis fosil (BBM) dalam jangka panjang akan semakin berkurang, maka pengembangan energi alternatif, khususnya yang dapat diperbaharui ( renewable ) seperti biofuel memperoleh momentum baru untuk bangkit dan berkembang.
Momentum tersebut sebenarnya merupakan peluang besar bagi pengembangan biofuel di Indonesia. Pengembangan biodiesel berbasis CPO merupakan salah satu alternatif yang strategis. Pengembangan biodiesel berdampak cukup signifikan baik dari sisi ekonomi, sosial, pengembangan ketahanan energi di pedesaan, pembangunan pedesaan, bahkan bisa menjadi sumber devisa yang baru. Risiko bisnis industri berbasis kelapa sawit juga dapat dikurangi dengan pengembangan biodiesel. Pasar secara internal, domestik, dan pasar eskpor cukup terbuka. Di samping itu, bahan baku dan teknologi sudah tersedia. Dengan keuntungan finansial yang cukup memadai, pengembangan biodiesel adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditunda. Momentum ini merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk meletakan fondasi kejayaan industri hilir berbasis kelapa sawit Indonesia. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah konkrit dari seluruh stakeholder untuk mengayunkan langkah secara sinergis, demi pembangunan industri kelapa sawit dan ketahanan energi nasional. Jika kita tidak ingin kehilangan momentum dan tertinggal oleh negara sahabat seperti Malaysia, pembangunan biodiesel berbasis sawit merupakan suatu keharusan dan tidak dapat ditunda-tunda. So, lets do it now !