Pada tanggal 1 Maret 2005, pemerintah kembali menaikkan harga BBM, kecuali minyak tanah untuk rumah tangga, berkisar antara 22%-47% dengan rata-rata kenaikan adalah 29% (Tabel 1). Seperti diperkirakan, kebijakan menaikkan harga BBM menimbulkan pendapat pro dan kontra. Terhadap pendapat pro dan kontra tersebut, pemerintah sudah memutuskan untuk menaikkan harga BBM tersebut.
Tabel 1: Perubahan Harga BBM untuk Industri
No. |
Jenis |
Harga Lama (Februari 2005)
|
Harga Baru (1 Maret 2005)
|
Persentase Kenaikan
|
Rp/liter |
(Rp/liter) |
% |
1. |
Minyak tanah rumah tangga |
700 |
700 |
0 |
2. |
Minyak tanah industri |
1800 |
2200 |
22 |
3. |
Premium |
1810 |
2400 |
32 |
4. |
Minyak solar transportasi |
1650 |
2100 |
27 |
5. |
Minyak solar industri |
1650 |
2200 |
33 |
6. |
Minyak diesel |
1650 |
2300 |
39 |
7. |
Minyak bakar |
1560 |
2300 |
47 |
.
Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor yang relatif banyak menggunakan BBM sebagai sumber energi maupun untuk transportasi, baik pada tahap proses produksi, pengolahan, dan pemasaran. Oleh karena itu, kenaikan BBM tersebut mempunyai dampak yang cukup signifikan terhadap industri perkebunan utama Indonesia, seperti kelapa sawit, karet, teh, kopi, kakao, dan gula. Dalam proses produksi, subsektor perkebunan membutuhkan jasa transportasi untuk mengangkut sarana produksi, seperti pupuk, yang relatif voluminus (volume besar). Dengan demikian, biaya transportasi relatif besar. Dalam hal transportasi, semakin voluminus ( bulk ) bahan mentah yang harus diangkut, makin tinggi kontribusinya terhadap biaya transportasi, sehingga makin besarnya dampaknya terhadap biaya produksi. Produk perkebunan umumnya bersifat volumnus seperti tebu yang rendemennya hanya berkisar antara 6%-10% terhadap total berat/volume dan tandan buah segar sawit yang hanya 17%-22%. Hasil panen kakao, kopi, dan teh juga bersifat volumnus sehingga kenaikan harga BBM yang mengakibatkan kenaikan biaya transportasi, akan mempunyai pengaruh signifikan terhadap biaya produksi.
Kenaikan harga BBM juga mendorong kenaikan biaya pengolahan. Walaupun beberapa proses pengolahan (gula dan CPO) secara maksimal menggunakan produk samping sebagai bahan bakar/sumber energi, solar masih tetap diperlukan sebagai sumber energi. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM, khususnya solar yang mencapai 27%-33% akan berdampak cukup signifikan terhadap biaya pengolahan.
Secara umum, porsi biaya BBM terhadap biaya produksi sangat bervariasi, tergantung pada jenis produk, teknologi, dan tingkat efisiensi manajemen. Secara umum, porsi ketiga komponen biaya tersebut berkisar antara 2.2% – 10.1% per kg produk (Tabel 2). Dari Tabel 2 terlihat produk gula dan CPO memiliki porsi terbesar dari ketiga komponen biaya tersebut. Sebagai contoh, tebu sebagai bahan baku gula bersifat volumnus dengan rendemen terendah dibandingkan produk lainnya. Sebagai akibatnya, komponen biaya transportasi untuk bahan baku menjadi relatif paling besar. Hal yang sama juga berlaku untuk CPO yang bahan bakunya adalah tandan buah segar yang juga volumnus.
Sejalan dengan porsi biaya produksi ketiga input tersebut terhadap biaya total, maka dampak kenaikan harga BBM tersebut juga sangat bervariasi (Tabel 2). Dampak terbesar terjadi pada industri gula yang berakibat naiknya biaya produksi antara 4.8 – 7.2% per kg gula. Dampak terhadap karet dan CPO relatif sama yaitu sekitar 3.8- 7.2 bergantung kondisi jalan dan kebun, serta teknologi yang digunakan.
Tabel 2. Dampak kenaikan tarif dasar listrik, telepon, dan BBM
Produk |
Porsi Biaya Listrik, Telepon, dan BBM terhadap Biaya Total (%) |
Dampak Terhadap Kenaikan Biaya Produksi (%) |
Karet (SIR 20) |
5.9 – 6.7 |
3.8 – 6.5 |
Kelapa Sawit (CPO) |
8.2. – 11.1 |
4.3 – 7.2 |
Teh (Teh kering) |
3.5 – 5.7 |
1.0 – 2.8 |
Kopi (kopi biji) |
2.4 – 3.0 |
1.0 – 1.3 |
Kakao (kakao biji) |
2.4 – 3.0 |
1.0 – 1.3 |
Gula |
7.1 – 10.1 |
4.8 – 7.2 |
Dampak terhadap kopi dan kakao relatif sama yaitu kenaikan biaya produksi sekitar 1%-1.3%. Dampak yang ralatif kecil terutama karena bahan bakunya yang tidak volumnus dan proses pengolahan tidak banyak memerlukan energi. Hal yang hampir sama terjadi pada teh, dengan dampak kenaikan biaya produksi antara 1.0% - 2.8%, tergantung pada jenis produk yang dihasilkan
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak negatif tersebut, sebagai berikut.
-
Penataan secara lebih efisien sistem/manajemen panen, transportasi, dan pengolahan. Upaya ini relatif efektif untuk kebun yang hamparannya relatif terkonsolidasi dengan produk yang volumnus, seperti untuk tebu dan kelapa sawit. Upaya ini akan berhasil bila didukung juga oleh perencanaan panen dan desain pabrik pengolahan yang lebih efisien, seperti untuk tebu dan kelapa sawit.
-
Penggunaan atau peningkatan penggunaan alternatif sumber energi. Sebagai contoh, sumber energi panas yang mungkin digunakan sebagai pengganti BBM di kebun teh adalah geothermal , kayu bakar, batubara, dan solar energi. Lebih jauh g eothermal , kayu bakar dan energi matahari merupakan sumber energi panas yang ramah lingkungan dan renewable. Kakao dapat menggunakan energi matahari untuk proses pengeringan, sedangkan karet dapat menggunakan batubara dalam proses pengolahan. Terknologi tersebut sudah dikembangkan masing-masing oleh Puslit Kopi dan Kakao dan Puslit Karet.
-
Khusus untuk industri gula, upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas giling melalui perluasan tanaman akan dapat menekan porsi biaya tetap (solar) di pengolahan. Di samping itu, upaya peningkatan kinerja peralatan (boiler) melalui penggunaan alat pengering yang telah di kembangkan oleh P3GI dapat menjadi alternatif solusi.
Di balik tekanan yang terjadi, kenaikan harga BBM dapat juga dilihat dari sisi peluang, yaitu peluang subsektor perkebunan sebagai sumber energi alternatif. Peluang ini cukup terbuka, khususnya untuk produk berbasis kelapa sawit. Dari CPO sebagai produk utama kelapa sawit, pengembangan biodiesel berbasis CPO merupakan suatu peluang yang nyata. Di berbagai negara seperti Jerman dan Australia telah mengembangkan biodisel berbasis minyak nabati (minyak bunga matahari). Malaysia sudah mulai mengembangkan biodiesel berbasis CPO. Dengan agak terlambat, Indonesia juga kini telah meristis pengembangan biodisel seperti yang dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, ITB, dan BPPT. Dengan biaya produksi masih bervariasi antara Rp 2700-Rp 5500/liter, bergantung pada teknologi dan harga CPO, biodiesel diyakini akan menjadi sumber energi alternatif masa depan. Di samping itu, pengembangan energi alternatif seperti ethanol dari tebu dan singkong juga mempunyai potensi yang cukup besar. Brazil dengan kebijakan switch policy antara menggunakan tebu menjadi gula dan energi alternatif (ethanol) merupakan contoh nyata dari upaya tersebut. Ketika harga gula rendah atau harga minyak bumi tinggi seperti sekarang ini, bagian tebu yang diolah menjadi etahnol ditingkatkan, dan sebaliknya. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk pengurangan risiko harga/fluktuasi harga bagi usahatani tebu.
Selanjutnya, berbagai produk samping dan limbah kelapa sawit juga berpeluang besar sebagai sumber energi alternatif. Sebagai contoh, s ebuah pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan 200.000 ton TBS/tahun akan menghasilkan sebanyak 44.000 ton Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Nilai kalor ( heating value ) TKKS kering adalah 15.5 MJ/kg, dengan efisiensi konversi energi sebesar 25%, dari energi tersebut ekuivalen dengan 1.9 MWe ( megawatt-electric ). TKKS dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas walaupun proses pengolahannya lebih sulit daripada biogas dari limbah cair. Di samping itu, limbah padat dapat juga diproses menjadi briket arang sebagai sumber energi terbarukan. Dengan teknologi yang relatif sederhana, pemanfatan limbah padat menjadi briket arang merupakan suatu pilihan yang sangat realistis dan prospektif (Lacrosse, 2004).
Sebagai penutup, kenaikan harga BBM jelas akan memberi tekanan yang cukup signifikan terhadap kinerja subsektor perkebunan berupa kenaikan biaya produksi. Berbagai upaya strategi penghematan dan penggunaan sumber energi alternatif harus terus dipacu untuk meminimisasi dampak negatif tersebut. Di balik itu, dengan kenaikan harga BBM, peluang pengembangan energi alternatif, khususnya yang berbasis CPO, menjadi semakin terbuka. Pengembangan energi ini mempunyai beberapa keunggulan yaitu (i) bersifat renewable (ii) ramah lingkungan; (iii) berkelanjutan karena bahan baku selalu tersedia dan (iv), pengembangan energi alternatif ini juga dapat menjadi katup penyangga untuk mengurangi fluktuasi harga CPO seperti kasus gula/tebu menjadi ethanol di Brazil.