Pada tahun 2004, pasar gula dunia ditandai oleh terjadinya defisit sekitar 2.2 juta ton sehingga mendorong terjadinya kenaikan harga menjadi sekitar US$ 19.1/kg, khususnya pada enam bulan terakhir tahun 2004. Produksi pada tahun 2004 adalah sekitar 141.1 juta ton, sedangkan konsumsi mencapai 143.3 juta ton. Volume perdagangan gula pada periode tersebut mengalami sedikit penurunan menjadi sekitar 45.3 juta ton, dari sekitar 46.1 juta ton pada tahun 2003. Untuk periode 2005, harga diperkirakan masih relatif tinggi dan stabil pada kisaran US$c 17-21/kg, karena peningkatan konsumsi masih diperkirakan lebih tinggi dari peningkatan produksi.
Perkembangan Tahun 2004
Pada tahun 2004, konsumsi gula dunia diperkirakan meningkat menjadi sekitar 143.3 juta ton, atau meningkat sekitar 4 juta ton atau 2.9% lebih tinggi dari periode tahun 2003 (Tabel 1). Peningkatan konsumsi terutama akan bersumber dari kelompok negara berkembang sebagai akibat pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Di negara berkembang, konsumsi pada tahun 2004 meningkat 3.8%, dari 91.9 juta ton pada tahun 2003 menjadi 95.4 juta ton pada tahun 2004. Kelompok negara di Afrika diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi sebesar 5.3%. Untuk negara maju, laju peningkatan konsumsi relatif marjinal yaitu hanya sekitar 1.3%, dari 47.3 juta ton pada tahun 2003 menjadi 47.9 juta ton pada tahun 2004. Tingkat konsumsi gula di negara maju dinilai sudah mengalami kejenuhan.
Konsumsi gula di China pada tahun 2004 diperkirakan akan mencapai 11.5 juta ton atau meningkat sekitar 4.5%. Peningkatan konsumsi tersebut disebabkan oleh harga dalam negeri yang rendah serta kontrol terhadap konsumsi pemanis buatan. India masih tetap sebagai konsumen terbesar dengan volume konsumsi 20.5 juta ton dengan laju peningkatan konsumsi sekitar 2.6% pada tahun 2004. Brazil dan Mexico sebagai negara konsumen utama juga juga mengalami peningkatan konsumsi diatas 2% (USDA, 2004). Indonesia diperkirakan akan mengalami laju peningkatan konsumsi sebesar 2.3% sehingga konsumsi tahun 2004 diperkirakan mencapai 3.4 juta ton (Susila, 2004)
Tabel 1. Perkembangan dan Prospek Produksi dan Konsumsi Gula Dunia
|
Kelompok Negara |
Produksi
(juta ton) |
Pertumbuhan
(%) |
Konsumsi
(juta ton) |
Pertumbuhan
(%) |
|
2003 |
2004 |
2003 |
2004 |
|
Dunia |
147.7 |
141.1 |
-4.5 |
139.2 |
143.3 |
2.9 |
|
Negara
Berkembang |
104.6 |
99.5 |
-4.9 |
91.9 |
95.4 |
3.8 |
|
Amerika
Latin dan Karibia |
43.0 |
47.1 |
9.5 |
24.8 |
25.7 |
3.6 |
|
Afrika |
5.0 |
5.1 |
2.0 |
7.6 |
8.0 |
5.3 |
|
Near
East |
5.8 |
5.3 |
-8.6 |
10.6 |
10.8 |
1.9 |
|
Far
East |
50.4 |
41.7 |
-17.3 |
48.9 |
50.8 |
3.9 |
|
Oceania |
0.4 |
0.4 |
0.0 |
0.1 |
0.1 |
0.0 |
|
Negara
Maju |
43.1 |
41.7 |
-3.2 |
47.3 |
47.9 |
1.3 |
|
Eropa |
22.8 |
20.9 |
-8.3 |
20.3 |
20.5 |
1.0 |
|
Amerika
Utara |
7.8 |
8.2 |
5.1 |
10.1 |
10.3 |
2.0 |
|
CIS |
3.7 |
4.2 |
13.5 |
11.1 |
11.3 |
1.8 |
|
Oceania |
5.3 |
5.1 |
-3.8 |
1.4 |
1.4 |
0.0 |
|
Lainnya |
3.5 |
3.3 |
-5.7 |
4.4 |
4.4 |
0.0 |
|
Sumber :
FAO (2004) |
Di sisi lain, konsumsi di negara maju relatif stabil sekitar 47.9 juta ton atau meningkat sekitar 1.3% pada tahun 2004. Eropa diperkirakan hanya mengalami peningkatan konsumsi sekitar 0.5%. Jepang bahkan diperkirakan akan mengalami penurunan konsumsi sekitar 0.2% sehingga tingkat konsumsi pada tahun 2004 diperkirakan hanya 2.3 juta ton
Produksi gula dunia pada tahun 2004 justru diperkirakan akan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2003 dengan laju penurunan sekitar 4.5%. Pada tahun 2004, produksi gula dunia diperkirakan sekitar 141.1 juta ton, sedangkan tahun 2003 adalah 147.7 ton. Produksi gula di negara berkembang pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 99.5 juta ton atau mengalami penurunan sekitar 4.9% dibandingkan dengan produksi tahun 2003. India sebagai salah satu produsen utama diperkirakan mengalami penurunan produksi yang sangat signifikan yaitu turun sekitar 24.8% (USDA 2004). Penurunan tersebut disebabkan terjadinya kekeringan yang cukup parah wilayah utama produsen gula yaitu Maharashtra, Karnata, dan Gujarat. Negara besar lainnya yang mengalami penurunan produksi adalah China yang diperkirakan mengalami penurunan produksi sekitar 9.2%. Penurunan ini disebabkan rendahnya harga beet serta kondisi cuaca yang kurang baik di wilayah produsen utama (FAO 2004). Thailand juga diperkirakan akan mengalami produksi sekitar 40,000 ton atau mengalami penurunan produksi sekitar 5.5%. Brazil sebagai produsen terbesar diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi sekitar 7.0-15% sehingga total produksinya menjadi 27 juta ton. Cuaca yang baik, perbaikan kapasitas produksi, dan kenaikan harga minyak merupakan faktor utama peningkatan produksi. Beberapa negara yang diperkirakan mengalami kenaikan produksi adalah Afrika Selatan (30,000 ton), dan Mesir (FAO, 2004)
Produksi gula di negara maju pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 41.7 ton atau mengalami penurunan sekitar 3.2% dibandingkan dengan tahun 2003. Kelompok negara Eropa Barat mengalami penurunan produksi sekitar 8.5% karena penurunan areal tanaman beet serta pemotongan produksi gula C. Australia diperkirakan akan mengalami penurunan produksi sekitar 3.8-7.0% karena serangan penyakit dan cuaca yang kurang baik. Di sisi lain, produksi gula Amerika serikat justru mengalami peningkatan dari 7.7 juta ton tahun 2003 menjadi 8.1 juta ton tahun 2004. Faktor penyebabnya dalah kondisi cuaca yang baik sehingga produktivitas menjadi meningkat.
Volume perdagangan gula di pasar internasional pada periode 2004 mengalami sedikit penurunan menjadi sekitar 45.3 juta ton, dari sekitar 46.1 juta ton pada tahun 2003. Pada tahun 2004, perdagangan diperkirakan relatif stabil dengan volume perdagangan sekitar 45.5 juta ton (USDA, 2004). Eksportir utama masih ditempati Brazil dengan volume ekspor pada tahun 2004 mencapai 14.5 juta ton. Bahkan pada tahun 2005 ekspor Brazil diperkirakan akan meningkat menjadi 16.7 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 14.8%.
Perkembangan harga rata-rata gula bulanan ISA (monthly ISA price average) selama periode tahun 2004 mengalami perkembangan yang signifikan (Gambar 1). Walaupun pada awal tahun harga sangat rendah yaitu sekitar US$c 12.1/kg, harga gula terus meningkat sehingga harga pada bulan Agustus menjadi US$c 19.1/kg atau 30% lebih tinggi dari rata-rata harga tahun 2003 yang mencapai US$c 14.8/kg (ISO, 2004). Penurunan stok sebagai akibat konsumsi lebih tinggi dari produksi dinilai sebagai salah satu faktor fundamental kenaikan harga tersebut.
Gambar 1. Perkembangan dan Prospek Harga Gula di Pasar Dunia
Prospek Tahun 2005
Pada tahun 2005, konsumsi gula dunia diperkirakan stagnansi karena hanya meningkat dengan laju yang sangat kecil yaitu 0.5% dengan tingkat konsumsi sekitar 144.0 juta ton. Di negara berkembang, kecuali China, laju peningkatan konsumsi umumnya kurang dari 2%. India sebagai konsumen terbesar diperkirakan hanya mengalami kenaikan konsumsi sekitar 0.9%. Negara maju yang konsumsi per kapitanya sudah jenuh juga mengalami stagnansi dalam konsumsi. Amerika Serikat hanya mengalami peningkatan konsumsi sekitar 0.6%, sedangkan Jepang kembali diperkirakan mengalami penurunan konsumsi sekitar 0.1%. Indonesia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan konsumsi dan pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 3.5 juta ton.
Pada tahun 2005, produksi gula dunia kembali diperkirakan akan mengalami penurunan sekitar 0.4% sehingga produksi mencapai 141.5 juta ton. Negara produsen utama yang diperkirakan akan mengalami penurunan produksi antara lain India (4.8%), Amerika Serikat (4.9%), Thailand (1.4%), dan Mexico (1.8%). Faktor kebijakan dan faktor agroklimat yang kurang mendukung diperkirakan sebagai faktor penyebab penurunan produksi tersebut. Namun demikian, Brazil sebagai produsen terbesar dan paling kompetitif diproyeksikan tetap mengalami peningkatan produksi sekitar 7.8% (USDA 204). Dengan asumsi kebijakan pemerintah mengenai impor dan program akselerasi masih dipertahankan, Indonesia diperkirakan akan terus mengalami peningkatan produksi dan pada tahun 2005 diperkirakan berkisar antara 1.9-2.0 juta ton (Susila 2004).
Volume perdagangan (ekspor) diperkirakan relatif stabil pada kisaran sekitar 45.5 juta ton pada tahun 2005. Beberapa negara eksportir utama seprti Brazil dan Australia diperkirakan akan mengalami peningkatan ekspor, masing-masing dengan laju sekitar 14.8% dan 4.4%. Di sisi lain, beberapa negara mengalami penurunan seperti Thailand (4.8%), Kuba (25%), dan Afrika Selatan (3.8%). Dari sisi impor, Rusia, Eropa Barat, dan Ukrania diperkirakan mengalami peningkatan impor diatas 5%. Di sisi lain, Amerika Serikat diperkirakan akan mengalami penurunan impor sekitar 4.1%. Indonesia diperkirakan masih akan mengimpor gula sekitar 1.3 juta ton pada tahun 2005.
Dengan terjadinya defisit produksi, harga gula pada akhir 2004 sampai dengan awal tahun 2005 diperkirakan masih akan tinggi atau minimal lebih tinggi dari rata-rata harga gula tahun 2003 (Gambar 1). Tingkat konsumsi yang lebih tinggi dari konsumsi sekitar 2.2 juta ton pada tahun 2004. Sebagai akibatnya stok gula terus menurun dari sekitar 36.2 juta ton pada tahun 2004 dan kembali menurun menjadi sekitar 30.1 juta ton pada tahun 2005 (USDA 2004). Situasi ini diperkirakan akan tetap memelihara harga gula relatif stabil dan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga tahun 2003. Di samping itu harga-harga gula pada future contract juga mendukung perkiraan tersebut. Sebagai contoh, harga gula No. 11 untuk future contract bulan May 2005 di the New York Board of Trade yang dilakukan pada Juli 2004 mencapai US$c 17.2/kg, atau 20% lebih tinggi dari harga bulan may 2004. Anonim (2004) juga memperkirakan harga gula dunia diperkirakan akan meningkat sekitar 20% pada tahun 2005 dan 10% pada tahun 2004. Defisit produksi selama tiga tahun berturut-turut serta peningkatan produksi ethanol di Brazil adalah argumen kenaikan harga tersebut. Bahkan FAO (2004) memperkirakan untuk angka menengah sampai dengan tahun 2010, harga gula di pasar internasional relatif tinggi pada kisaran US$c 17-21 per kg.
References
FAO. 2004. Sugar Commodity Note: Strong Market Fundamentals Are Likely To Favour Improved World Sugar Prices In 2004/2005, FAO, Rome.
FAO. 2004. Medium Term Prospect, Sugar, Tropical Beverage Crops And Fruits, FAO, Rome.
ISO. 2004. Sugar Prices, International Sugar Organization, http://www.sugarinfo.co.uk/default.asp
Susila, W. R. 2004. Pengembangan Industri Gula Indonesia: Analisis Kebijakan dan Keterpaduan Sistem Produksi, Disertasi S3, Institut Pertanian Bogor
USDA. 2004. Sugar: World Markets and Trade, World Production, Supply, And Distribution Centrifugal Sugar, USDA, Washington