Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Produk & Layanan | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami

Judul: HARGA GULA TINGGI: SUDAH SEWAJARNYA

Setalah mengalami situasi pasar yang cukup baik pada tahun 2004/05, pasar gula dunia diperkirakan tidak akan banyak mengalami peribahan pada tahun 2005/06. Pada tahun 2005/06, produksi gula dunia diperkirakan masih meningkat dengan laju 3.7% dengan volume produksi sekitar 147.8 juta ton setara gula mentah. Konsumsi juga meningkat dengan laju sekitar 2% dan volume konsumsi mencapai 148 juta ton. Karena tiga tahun secara berturut–turut mengalami defisit, kemungkinan reformasi kebijakan industri gula di Eropa, serta harga minyak bumi yang masih melambung, adalah wajar bila harga gula pada tahun 2006 diperkirakan akan tetap tinggi.

 

Pasar Gula Tahun 2006 Masih Defisit

Periode tahun 2004/05 merupakan periode yang cukup menggembirakan industrui gula dunia, khususnya dari sisi produsen. Pada periode tersebut, rata-rata harga gula mencapai US$ 261.92./ton untuk White Sugar dan US$193.78/ton untuk Raw Sugar, atau meningkat sekitar 9.8% untuk White Sugar dan 24% untuk Raw Sugar dari rata-rata harga tahun 2003/04. Hal ini disebabkan pada periode 2004/05, untuk kedua kalinya pasar gula dunia kembali mengalami defisit sekitar 3 juta ton. Pada periode 2004/05, produksi gula dunia mencapai 142.5 juta ton atau meningkat sekitar 1% dari periode sebelumnya Disisi lain, konsumsi meningkat lebih pesat yaitu 1.3%, dari 143.3 juta to pada tahun 2004 menjadi 145.1 juta ton pada tahun2005 (FAO, 2006).

Situasi pergulaan dunia untuk periode 2005/06 diperkirakan masih mengikuti kondisi periode 2004/05. Untuk ketiga kalinya, industri gula dunia diperkirakan akan mengalami defisit, walaupun volume defisit menjadi semakin mengecil. Pada periode 2005/06, produksi gula dunia diperkirakan meningkat menjadi 147.8 juta ton, atau meningkat dengan laju 3.7%. Konsumsi diperkirakan meningkat dengan laju 2.0% pada periode tersebut, menjadi sekitar 148 juta ton. Baik FAO dan USDA sama-sama memperkirakan masih akan terjadi defisit untuk periode 2005/06.

Peningkatan produksi gula dunia kembali dimotori oleh Brazil sebagai negara produsen terbesar. Pada periode 2005/06, produksi gula Brazil diperkirakan mencapai 30 juta ton atau meningkat sekitar 3.5% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi iklim yang baik merupakan salah satu faktor pendukung peningkatan produksi tersebut. Kondisi iklim yang baik juga terjadi di Mexico sehingga negara tersebut diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi dengan volume produksi sekitar 6.1 juta ton. Setelah mengalami penurunan produksi selama dua tahun, India diperkirakan akan mengalami proses pemulihan sehingga produksi diperkirakan kembali meningkat, mencapai 18.5 juta ton pada tahun 2005/06. Peningkatan tersebut terkait dengan perluasan areal sebagai akibat harga gula yang cukup tinggi pada periode 2004/05. China sebagai salah satu produsen besar juga diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi cukup signifikan (6%) sehingga produksinya diperkiraka mencapai sekitar 10.7 juta ton pada tahun 2005/06.

Walaupun secara agregat, produksi gula dunia meningkat, ada beberapa negara yang mengalami penurunan produksi. Secara umum, negara-negara maju akan mengalami penurunan produksi. Walau didukung cuaca baik dan peningkatan produktivtas, produksi gula di Eropa Barat (EU) diproyeksikan menurun menjadi sekitar 2.7% atau menjadi sekitar 20 juta ton, karena penurunan luas areal. Penurunan ini tampaknya merupakan respon produsen terhadap perubahan regim kebijakan pergulaan di negara tersebut, yang diperkirakan akan efektif pada tahun 2006/07. Dengan kebijakan tersebut, dukungan harga gula akan diturunkan sebesar 36%, walau mereka mendapat paket kompensasi sebesar 64.2% dari penurunan harga tersebut, dalam bentuk decoupled payment, yang dikaitkan dengan lingkungan dan standar pengelolaan lahan. Australia juga diperkirakan mengalami penurunan produksi menjadi 5.3 juta ton atau sekitar 3.5%. Hal ini diduga berkaitan dengan restrukturisasi industri gula Australia yang menyiapkan dana sekitar AUS$ 444 juta paket program pada tahun 2004, termasuk AUS$ 96 juta untuk petani yang tidak efisien agar bisa keluar dari industri gula (FAO, 2005).

Cuba diperkirakan mengalami penurunan produksi dengan tingkat produksi turun menjadi 1.3 juta ton. Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh kemarau yang parah ketika musim tanam serta kebijakan restrukturisasi industri gula di negara tersebut. Kebijakan diversifikasi produk dari gula ke beberapa komoditi seperti buah-buahan tropis, umbi-umbian, dan peternakan merupakan penyebab penurunan produksi gula di negara tersebut. Afrika secara agregat juga mengalami penurunan produksi sekitar 4.% dengan volume produksi tahun 2005/06 diperkirakan mencapai 5 juta ton. Beberapa negara Afrika yang mengalami penurunan produksi adalah Swazilan, Kenya, dan Malawi. Thailand kembali diperkirakan akan mengalami penurunan produksi sebagai akibat kemarau yang dihadapi negara tersebut. Produksi Thailand pada tahun 2005/06 hanya sekitar 4.6 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 16% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Amerika sebagai salah satu produsen utama, produksinya diperkirakan relatif stabil pada kisaran 7.9 juta ton.

Pada periode 2005/06, konsumsi gula secara global diproyeksikan mencapai 148 juta ton, atau mengalami peningkatan sekitar 2%. Peningkatan konsumsi terutama terjadi di negara berkembang. Sebagai kebutuhan pokok, konsumsi gula meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan pendapatan, khususnya di negara berkembang. Dengan pangsa konsumsi sebesar 67%, konsumsi gula di negara berkembang pada tahun 2005/06 diperkirakan mencapai 100.1 juta ton atau meningkat sekitar 2.7% dari konsumsi periode sebelumnya. Negara maju mengalami peningkatan konsumsi secara marginal, yaitu sekitar 0.4%, dengan volume konsumsi pada tahun tersebut diproyeksikan mencapai 48.0 juta ton. (FAO 2005)

Diantara 10 konsumen utama, India, Brazil, Rusia, Pakistan dan Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan konsumsi yang cukup signifikan. India sebagai konsumen terbesar dengan pangsa konsumsi lebih dari 13%, diperkirakan akan mengalami kenaikan konsumsi sekitar 1.5% pada tahun 2005/06 (Tabel 2). China sebagai konsumen kedua terbesar mengalami kenaikan konsumsi sekitar 0.9%. Rusia, Pakistan, dan Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan lebih dari 2%. Diantara 10 besar konsumen gula dunia, hanya negara yang termasuk Uni Eropa yang diperkirakan akan mengalami penurunan konsumsi sebesar 0.6%.

Harga Gula Akan Tetap Tinggi

Setelah mengalami kenaikan harga pada tahun 2004 dan 2005, harga gula pada tahun 2006 diperkirakan masih tinggi. Paling tidak ada tiga argumern utama yang melandasi pemikiran tersebut. Pertama adalah seperti diuraikan sebelumnya yaitu adanya perkiraan defisit pada tahun 2006 yang berarti defisit tiga tahun secara berturut-turut. USDA (2005) memperkirakan stok gula dunia akan menurun sekitar 10%, dari 35.142 pada tahun 2004/05 menjadi 31.506 juta ton pada tahun 2005/06. Defisit yang beruntun ini jelas akan mendongkrak hargan gula masih tetap tinggi pada tahun 2006.

Faktor kedua adalah tekanan yang semakin menguat dihadapi oleh Eropa Barat dan Amerika Serikat agar mereformasi kebijakan industri gulanya, baik karena faktor internal maupun eksternal. Secara internal, dorongan untuk mengurangi berbagai bentuk subsidi dan proteksi yang merugikan pembayar pajak dan konsumen serta industri berbahan baku di negara tersebut gula semakin menguat. Dari faktor eksternal, keberhasilan Hongkong Ministerial Meeting pada bulan Desember 2005 yang antara lain menetapkan pengurungan dukungan domestik (domestic subsidy) untuk produk pertanian paling lambat tahun 2013 akan semakin menekan produsen gula Eropa Barat dan Amerika. Situasi ini memberi tekanan pada produksi gula di Eropa Barat dan Amerika sehingga cendrung mendorong kenaikan harga gula pada masa-masa mendatang.

Faktor ketiga adalah kecendrungan harga minyak bumi yang masih tinggi. Hal ini akan mendorong lebih banyak lagi tebu yang diproses untuk ethanol sebagai bahan bakar alternatif. Brazil yang secara tradisional menerapkan swicth policy merupakan faktor penentu utama dalam kasus ini. Sebagai produsen gula dan ethanol terbesar dari tebu, ketika harna minyak bumim tinggi, Brazil jelas akan lebih banyak lagi mengolah tebunya menjadi ethanol sehingga akan mengurangi potensi produksi/ekspor gula negara tersebut. Jika dalam situasi harga minyak belum tinggi sekitar 52% tebunya dolah menjadi ethanol dan 48% untuk gula, maka ketika harga minyak bunmi yang tinggi seperti sekarang ini, proporsi yang diolah untuk ethanol akan meningkat, dan sebaliknya untuk gula. Situasi ini secara ekonomis dan psikologis akan mendorong harga gula pada kisaran tinggi.

Tabel 1. Produksi, Pangsa, dan Pertumbuhan Produksi dari Negara Produsen Utama (2004-2006)

Negara

Produksi (ribu ton)

Pangsa (%)

Pertumbuhan (%)

 

2003/04

2004/05

2005/06

 

2003/04-2004/05
2004/05-2005/06

Brazil

26400

28175

28700

19.42

6.7

1.9

Uni Eropa (UE)

17132

21825

21233

14.37

27.4

-2.7

India

15150

14210

18430

12.47

-6.2

29.7

China

10734

9826

10500

7.10

-8.5

6.9

USA

7847

7146

6824

4.62

-8.9

-4.5

Thailand

7010

5187

4330

2.93

-26.0

-16.5

Mexico

5330

6149

6000

4.06

15.4

-2.4

Australia

5178

5388

5200

3.52

4.1

-3.5

Pakistan

4047

2937

2890

1.96

-27.4

-1.6

Cuba

2300

2100

2300

1.56

-8.7

9.5

Dunia

141100

142500

147800

100

1.0

3.7


Sumber : USDA (2005)

 

Tabel 2 Konsumsi, Pangsa, dan Pertumbuhan Konsumsi dari Negara Konsumen Utama (2004-2006)

Negara

Konsumsi (ribu ton)

Pangsa (%)

Pertumbuhan (%)

 

2003/04

2004/05

2005/06

 

2003/04-2004/05
2004/05-2005/06

India

18810

19500

19800

13.38

3.7

1.5

UE

14358

17626

17525

11.84

22.8

-0.6

China

11600

11600

11700

7.91

0.0

0.9

Brazil

10400

10600

10800

7.30

1.9

1.9

USA

8971

9269

9267

6.26

3.3

0.0

Fred Rusia

6100

6300

6450

4.36

3.3

2.4

Mexico

5600

5424

5482

3.70

-3.1

1.1

Pakistan

3600

3750

3850

2.60

4.2

2.7

Indonesia

3400

3550

3800

2.57

4.4

7.0

Jepang

2247

2263

2250

1.52

0.7

-0.6

Dunia

143300

145100

148000

100

1.3

2.0

Sumber : USDA (2005)


Kunjungan ke-2651,
Sejak: 1 Februari 2006

   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Produk & Layanan | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami