Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami
   

Peremajaan Karet, Pemerintah Anggarkan Rp 5 Triliun

 
 

Investor Daily, Selasa, 17 Juli 2012

   

Pemerintah tengah merampungkan rencana pelaksanaan gerakan nasional (gernas) peremajaan tanaman karet dengan anggaran sekitar Rp 5 triliun untuk tiga tahun (2013-2015)

 
 
Kunjungan ke-1089,
Sejak: 0712
 

“(Gernas karet) sudah digodok. Sekarang ditingkat kebijakan. semoga tahun depan sudah bisa dilaksanaka. “ kata Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian (Kementan) Rismansyah Danasaputra disela diskusi karet di Jakarta, Senin (16/7).

Rismansyah menjelaskan, gernas membutuhkan anggaran cukup besar karena akan dilaksanakan serentak di 17 provinsi. saat ini, kebun karet yang harus diremajakan seluas 300 ribu hektare (ha) dan 50 ribu ha diantarannya akan diintesifikasi.

Target Revitalisasi Perkebunan Tahun 2011 - 2014. (Berdasarkan Ketersediaan Dana Perbankan)

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2009.


Sebenarnya, peremajaan karet tiap tahun selalu ada tetapi jumlahnya tidak besar selama ini, APBN hanya mampu membiayai peremajaan berkisar 10-15 ribu ha per tahun. Luasan tersebut jauh dibawah kebutuhan peremajaan yang mencapai ratusan ribu ha per tahun. “Tahun ini misalnya, peremajaan karet seluas 15 ribu ha dari anggaran APBN,” papar dia.

Dalam gernas tersebut, pemerintah akan memberikan bantuan benih, pupuk, dan alat-alat pertanian. Pemerintah juga akan memanfaatkan pengalaman dalam pelaksanaan gernas kakao untuk karet.

Menurut Rismansyah, gernas karet bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet karena produktivitas mereka saat ini sangat rendah akibat umur tanaman yang sudah tua. Produktivitas karet nasional pada 2011 sebesar 900 ribu kilogram (kg) per ha. Angka itu masih jauh di bawah produktivitas karet Thailand yang mencapai 2,6 juta per ha.

Total luas lahan kebun karet di Indonesia saat ini 3,4 juta ha dengan produksi 2,8 juta ton tahun lalu. “Kedepan, produktivitas diharapkan naik menjadi 1,2 juta ton per ha. Produktivitas PTPN sudah ada yang 1,6 juta ton,” papar atase pertanian Indonesia di Jepang itu.

Selain itu, kata dia, gernas karet dimaksudkan untuk meningkatkan devisa dari ekspor karet. Saat ini, 80% produksi karet nasional di alokasikan untuk ekspor. Hingga akhir 2010, Indonesia mengekspor karet 2,3 juta ton senilai US$ 7,3 miliar.

“Harga karet memang berfluktuasi. Sekarang harga turun. Mungkin nanti, produksia Thailand turun karena tanaman tua sehingga kita bisa mengisi,” ujar dia.

Mayoritas Milik Petani

Dirut PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Didik Hajar Gunadi menjelaskan, peremajaan karet sangat penting karena tanaman karet dalam negri sebagian besar sudah sangat tua. Akibatnya, produktivitas tas tanaman cukup rendah.

Saat Ini. 85% kebun karet dalam negri adalah milik petani. “Peremajaan perlu dilakukan dengan klon-klon baru. Peran pemerintah tetap vital karena 3,4 juta ha milik rakyat. Pemerintah harus punya solusi untuk itu.” tutur dia.
Peremajaan karet, kata didik, sudah direncanakan sejak 2005 tetapi program itu tidak berjalan lancar akibat sejumlah kendala. Salah satunya adalah pembiayaan karena persyaratan perbankan yang mewajibkan adanya agunan.

Salah satu upaya penghentian produksi karet dilakukan melalui pengembangan hutan tanaman industri (HTI). Sayangnya, hal itu masih terbatas pada perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai modal, sehingga HTI dinilai belum bisa menyeleseikan masalah perkebunan rakyat. “DPR harus bisa kasih perhatian, terutama pendanaan,” kata Didiek.

Dia menilai, Peremajaan seharusnya dilakukan saat harga karet anjlok. Setelah gernas terealisasi, produksi karet nasional diharapkan meningkan dan petani dalam negeri bisa mengambil peluang di tengah tingginya harga karet. (m01)

 

 
   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami