PENDAHULUAN
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang pertumbuhannya paling pesat pada dua dekade terakhir. Pada era tahun 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, industri kelapa sawit berkembang sangat pesat. Pada periode tersebut, areal meningkat dengan laju sekitar 11% per tahun. Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Konsumsi domestik dan ekspor juga meningkat pesat dengan laju masing-masing 10% dan 13% per tahun. Pada awal tahun 2001-2004, luas areal kelapa sawit dan produksi masing-masing tumbuh dengan laju 3.97% dan 7.25% per tahun, sedangkan ekspor meningkat 13.05% per tahun (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2005). Laju yang demikian pesat menciptakan era dimana kelapa sawit merupakan salah satu primadona komoditas usaha pada sub-sektor perkebunan.
Walau pertumbuhan kelapa sawit demikian pesat, daya saing komoditas ( competitive advantages ) kelapa sawit (CPO) di pasar internasional masih lemah. Studi oleh Simeh (2004) menempatkan CPO Indonesia menempati urutan ke delapan dari sekitar 33 negara produsen minyak nabati. Padahal, biaya produksi CPO Indonesia adalah paling rendah dan margin antara biaya produksi dengan harga CPO Indonesia adalah paling tinggi di antara produsen minyak nabati, masing-masing US$ 165.2 per ton dan US$ 277.8 per ton. Malaysia yang memiliki daya saing terkuat justru memiliki biaya produksi yang lebih tinggi dan margin yang lebih rendah, masing-masing US$ 239.4/ton dan US$ 203.6 per ton. Hal ini menunjukkan bahwa CPO Indonesia masih memiliki peluang yang cukup lebar guna meningkatkan daya saingnya. Dengan demikian, Indonesia hanya memiliki daya saing pada tingkat on-farm ( comparative advantages ), namun gagal diterjemahkan ke dalam keunggulan kompetitif atau daya saing riil (Simeh, 2004; Susila 2004).
Salah satu strategi kunci yang diyakini mampu meningkatkan daya saing adalah dengan perbaikan-perbaikan teknologi, baik pada tingkat on-farm maupun off-farm , termasuk yang berkaitan dengan pengelolaan limbah. Di samping itu, dukungan kebijakan pemerintah yang kondusif juga sangat penting dalam meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia . Tuntutan akan teknologi baru serta kebijakan yang kondusif bersifat dinamis sehingga penelitian (riset) menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia (Said, 2000).
Sejalan dengan latar belakang isu tersebut, maka organisasi tulisan ini akan disusun sebagai berikut. Setelah Pendahuluan, secara ringkas akan dibahas pendekatan multi-disiplin dalam industri kelapa sawit untuk meningkatkan daya saing. Selanjutnya, bahasan difokuskan pada stok teknologi industri kelapa sawit yang sudah dikembangkan. Selanjutnya, riset dan teknologi yang masih perlu dikembangkan pada masa mendatang akan dibahas pada bagian selanjutnya. Tulisan diakhiri dengan beberapa catatan penutup.
KEBUTUHAN TEKNOLOGI /RISET UNTUK INDUSTRI KELAPA SAWIT
Dalam era liberalisasi, akibat tuntutan konsumen yang semakin tinggi, serta makin menggemanya isu lingkungan, maka peningkatan daya saing tidak bisa terlepas dari dukungan riset/teknologi untuk merespon ketiga faktor tersebut. Dukungan riset tersebut haruslah bersifat sinergi dari berbagai disiplin/bidang sehingga daya saing yang tinggi tersebut dicapai secara efisien dan berkelanjutan. Secara garis besar, sinergi dan keterkaitan berbagai bidang riset dalam bidang kelapa sawit dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kebutuhan Riset untuk Industri Kelapa Sawit
Seperti terlihat pada Gambar 1, riset/teknologi yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia pada dasarnya terdiri dari tiga pilar utama yaitu bidang off-farm ( upstream ), off-farm ( downstream ), dan intermediate . Ad a bagian riset yang bisa dilakukan secara mandiri, tetapi ada bagian yang dilakukan secara terintegrasi antar dua bidang, bahkan tiga bidang. Sebagai contoh, untuk riset bidang pemupukan, riset secara umum dapat dilakukan secara mandiri, tanpa memiliki keterkaitan langsung yang kuat dengan bidang intermediate dan off-farm . Di sisi lain, riset di bidang budidaya akan memiliki keterkaitan yang kuat dengan bidang intermediate , seperti yang berkaitan dengan lingkungan dan aspek sosial budaya. Untuk pemuliaan, tiga bidang perlu bersinergi secara kuat. Riset bidang pemuliaan harus berkaitan kuat dengan bidang intermediate (selera pasar dan kebijakan yang berkaitan dengan pembenihan). Di samping itu, riset tersebut juga berkaitan erat dengan bidang off-farm , khususnya yang berkaitan dengan proses, produk turunan, dan produk samping.
Untuk on-farm , riset seyogyanya difokuskan pada perbaikan bahan tanam, budidaya (pupuk, PHT, panen). Untuk bahan tanam, riset seyogyanya difokuskan untuk memperoleh klon-klon unggul, tidak hanya unggul ada sifat primer tetapi juga pada sifat sekundernya. Sifat primer yang unggul antara lain tercermin dari beberapa indikator seperti produktivitas tinggi dan tahan terhadap serangan hama penyakit. Di sisi lain, sifat sekunder yang sering memberi premium harga/nilai tambah yang lebih besar antara lain tercermin dari sifat produk yang baik untuk kesehatan dan cita rasa atau aroma yang sesuai dengan permintaan pasar. Untuk mewujudkan hal tersebut, di samping tetap menggunakan pendekatan pemuliaan konvensional, dukungan bioteknologi untuk merekayasa klon yang memiliki sifat primer dan sekunder yang baik menjadi sangat vital. Sampai saat ini, klon unggul kelapa sawit yang sudah banyak dikembangkan adalah Dy x P Sungai Pancur 1 , DxP Sungai Pancur 2 , DxP Lame dan DxP Marihat. Aspek lainnya yang perlu diperhatikan adalah upaya peningkatan produksi pohon induk penghasil benih dan penerapa teknologi kultur jaringan untuk penyediaan bibit dengan tingkat abnormalitas rendah ( < 2%)
Untuk pemupukan, fokus penelitian pada masa mendatang seyogyanya difokuskan pada efisiensi pemupukan secara konvensional serta pengembangan pupuk-pupuk alternatif yang lebih efektif dan bersifat lebih ramah lingkungan. Program pemupukan semaksimal mungkin perlu dikembalikan ke asas empat tepat (jenis, jumlah, cara dan waktu) sehingga efisiensi yang tinggi dapat dicapai dengan tetap memperhatikan faktor rendahnya daya dukung tanah dan mahal atau langkanya tenaga kerja. Fenomena organik perlu difokuskan pada perakitan teknologi pupuk organo-kimia biofertilizer (Goenadi et al., 2000, Goenadi dan Adiwiganda, 2002) dan atau optimasi pemanfaatan bahan organik yang dihasilkan oleh lahan yang bersangkutan. Riset di bidang pemberantasan hama dan penyakit yang masih dibutuhkan adalah riset untuk teknologi yang lebih efisien serta lebih ramah lingkungan. Aplikasi teknologi PHT perlu secara konsisten diarahkan pada kesinambungan upaya menghasilkan agensia hayati yang compatible dengan hama penyakit sasaran. Di sisi lain, kebutuhan terhadap bio-herbisida perlu segera dijawab (Goenadi 1995).
Dibandingkan dengan pada on-farm , riset pada off-farm masih sangat terbuka dan diyakini akan mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam upaya meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia . Studi oleh Said (2000), Susila (2004) menyebutkan bahwa salah satu alasan kelapa sawit Malaysia lebih kompetitif dengan Indonesia adalah keunggulan dalam downstream industri yang mendapat perhatian ekstensif di bidang riset. Pada aspek ini, bidang-bidang riset yang masih terus dipacu adalah teknologi pengolahan dan pengembangan produk untuk produk utama, produk samping, produk turunan, dan limbah. Di samping meningkatkan daya saing dan memperkokoh industri kelapa sawit nasional, keberhasilan riset di bidang ini akan mempunyai efek penggandaan ( multiplier effect ) yang besar, baik dari sisi output , lapangan kerja, dan devisa.
Sampai saat ini, berbagai hasil riset telah menghasilkan berbagai produk dan teknologi di bidang off-farm . Untuk produk utama, pengembangan pabrik kelapa sawit mini adalah contoh hasil riset untuk produk utama yang sudah mulai dikembangkan. Untuk produk turunan, berbagai produk berbasis oleo pangan dan oleo kimia sudah mulai dikembangkan. Sebagai contoh, palm frying shortening, teknologi produksi produk-produk oleokimia turunan seperti biodiesel, pelumas dan gemuk ( grease ), bioemolien, plasticizer , sabun dan lilin sudah dikembangkan. Untuk limbah (padat maupun cair), berbagai produk, seperti kompos, briket arang, sudah dikembangkan pula bagaimanapun juga, nilai tambah terbesar dalam produk hilir minyak kelapa sawit adalah dibidang kesehatan dan kosmetik. Untuk jangka menengah upaya peningkatan efisiensi biodiesel perlu diintensifkan melalui peningkatan kinerja formulasinya.
Berbagai hasil analisis dan kajian yang berkaitan sosial ekonomi (kelembagaan, selera konsumen, peluang pasar), kebijakan, dan lingkungan merupakan salah satu pilar dalam meningkatkan daya saing, termasuk industri kelapa sawit. Dukungan kebijakan dan kelembagaan merupakan salah satu elemen penting dalam peningkatan daya saing. Isu lingkungan yang semakin menguat juga harus direspon dengan teknologi-teknologi ramah lingkungan, karena aspek lingkungan juga termasuk salah satu atribut dalam menentukan daya saing. Isu pengelolaan kelapa sawit di Indonesia, khususnya yang dicurigai merusak hutan memperlemah daya saing industri sawit Indonesia, baik pada sisi investasi (kredit dari luar negeri untuk membangun kebun kelapa sawit) dan pasar CPO Indonesia di Eropa.
Berbagai kajian yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi, kebijakan, dan lingkungan, telah dilakukan baik untuk mengukur maupun meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia. Kajian-kajian tersebut antara lain menyangkut prospek pasar CPO Indonesia dan dunia, analisis kebijakan pajak ekspor CPO, model kelembagaan dan pendanaan untuk peremajaan kelapa sawit (khususnya perkebunan rakyat), dampak lingkungan pengembangan kebun kelapa sawit, dan kebijakan percepatan pengembangan industri hilir perkebunan (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2004).
PENUTUP
Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri yang berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Industri ini diproyeksikan masih akan tetap menjadi salah satu primadona dalam subsektor perkebunan pada masa mendatang. Namun demikian, daya saing industri ini masih tergolong tertinggal dibandingkan dengan industri minyak nabati di negara pesaing. Pengembangan riset dan teknologi diyakini merupakan salah satu pilar untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.
Riset dan teknologi yang dibutuhkan pada dasarnya terdiri diri riset bidang on-farm (pemuliaan dan budidaya), off-farm (pengolahan dan pengembangan produk utama, produk samping, produk turunan, dan limbah) dan intermediate (sosial ekonomi, pasar, kebijakan, dan lingkungan). Walaupun sudah dihasilkan berbagai teknologi dan informasi mengenai ke tiga bidang tersebut, namun riset masih tetap difokuskan pada bidang-bidang tersebut dengan lebih menekankan pada bagian-bagian yang mempunyai dampak besar dan jangka panjang yang signifikan guna perbaikan daya saing industri minyak sawit Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2002. Lima Tahun, Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1997-2001, Membangun Agribisnis melalui Inovasi teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.
Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan. 2005. Pokok-Pokok Rencana Makro Pengembangan Agribisnis Komoditi Perkebunan 2005-2009. Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan.
Goenadi, D.H. 1995. Characteristics and Potential Use of Humnis Acids as New Growth Promoting Subtances. Brighton Crop Protect. Conference. Proc. PP. : 19-25. Brighton, UK.
Goenadi, D.H, Siswanto dan Y. Sugiarto. 2000. Bioactivation of Poorly Soluble Phosphate Rocks With Phosphorus –Solubilizing Fungus. Soil Science. Soc. Am.J. 64 : 927-932.
Goenadi, D.H. dan Y.T. Adiwiganda.2002. The Use of Emas Biofertilizer for Oil Palm. The 2002 International Oil Palm Conference and Exibition. Denpasar, 8-12 July 2002. 13 P.
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2004. ‘ Riset Perkebunan Sebagai Kunci Peningkatan Daya Saing Produk Perkebunan Indonesia ', Lembaga Riset Perkebunan Indonesia , Bogor.
Said, E. G. 2000. Menguak Potensi Pengembangan Industri Hilir Perkebunan Indonesia, Makalah disampaikan pada Seminar Sehari Kebijakan Industri Hilir Perkebunan, Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Jakarta, 14 September 2000
Simeh, M. A. 2004. Comparative Advantage of the European Rapeseed Industry vis-à-vis Other Oils and Fats Producers, Oil Palm Industry Economic Journal , 4(2), 14-22, Malaysian Palm Oil Board.
Susila, W. R. (2004). ‘ Impacts of CPO-export tax on several aspects of Indonesian CPO industty ', Oil Palm Industry Economic Journal , 4(2), 1-13, Malaysian Palm Oil Board.
Susila, W. R. 2004. Membandingkan Industri CPO Malaysia dengan Indonesia ( Comparison between Malaysian and Indonesian CPO industry ), Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 26(2): 11-13.