Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami

Judul: DAYA SAING TEH HIJAU CURAH INDONESIA DI PASAR DUNIA

Rohayati Suprihatini

Latar Belakang

Selama periode 1997-2001, menurut data International Trade Center, UNSD Comtrade Database System, telah terjadi penurunan pangsa ekspor teh Indonesia di hampir semua jenis teh yang diekspor Indonesia (Tabel 1), kecuali jenis teh hijau curah yang mengalami sedikit peningkatan Pangsa ekspor teh hijau curah Indonesia di pasar dunia sedikit meningkat yaitu dari 2,5% pada tahun 1997 menjadi 3,4% pada tahun 2001. Di lain pihak, pangsa teh hitam curah, teh hitam kemasan, dan teh hijau kemasan Indonesia menurun masing-masing dari 9,8%; 3,7%; dan 0,5% pada tahun 1997 menjadi hanya 9%; 2,3% dan 0,1%. Adanya indikasi peningkatan pangsa ekspor teh hijau curah Indonesia tersebut memerlukan analisis lebih lanjut mengenai posisi daya saing teh hijau curah Indonesia dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya dan menyusun strategi untuk meningkatkannya yang akan disajikan pada tulisan ini.

Pangsa volume ekspor teh hijau curah Indonesia pada tahun 2001 yang mencapai 3,4% dari total volume ekspor teh hijau curah dunia tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara pengekspor teh hijau curah pada peringkat ke empat di dunia setelah Cina (68,9%), Vietnam (4,9%), dan Sri Lanka (4,0%). Negara-negara produsen teh hijau curah lainnya yang mengalami peningkatan pangsa ekspor teh hijau curah yang sangat pesat adalah Vietnam , dan Sri Lanka . Ekspor teh hijau curah Indonesia pada tahun 2001 sebagian besar ditujukan ke negara-negara Inggris (33,54%), Jerman (32,7%), Polandia (9,8%), Amerika Serikat (6,6%) dan Malaysia (6,1%).

Tabel 1. Perkembangan pangsa volume ekspor teh Indonesia (dalam %)

Jenis Teh

1997

1998

1999

2000

2001

Teh hitam curah

9,8

8,2

8,3

7,7

9,0

Teh hijau curah

2,5

2,0

3,4

5,0

3,4

Teh hitam kemasan

3,7

3.3

2,1

1,0

2,3

Teh hijau kemasan

0,5

0,6

0,3

0,1

0,1

Total teh

7,4

5,7

6,1

5,8

6,4

Sumber: International Trade Center (2002) (diolah)

 

Posisi Daya Saing Teh Hijau Curah Indonesia

Secara umum, kondisi daya saing teh hijau curah Indonesia di pasar teh dunia relatif lebih baik dibandingkan dengan komoditas teh hitam curahnya (Tabel 2). Beberapa pasar utama teh hijau curah dunia dan masing-masing kontribusinya terhadap total nilai impor teh hijau curah dunia serta pertumbuhan pasarnya disajikan pada Tabel 3. Pasar utama dari komoditas teh hijau curah yang memiliki pertumbuhan pasar tinggi adalah Jepang, Amerika Serikat dan Jerman, sedangkan di Maroko telah mengalami penciutan pasar.

Posisi daya saing teh hijau curah Indonesia dibandingkan dengan negara pengekspor lainnya disajikan pada Tabel 4. Di pasar Jepang, teh hijau curah Indonesia masih kalah bersaing dengan Cina yang memiliki daya saing terkuat. Namun demikian, daya saing Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan Vietnam dan setara dengan Sri Lanka . Lemahnya daya saing teh hijau curah Indonesia dibandingkan dengan Cina terkait dengan perbedaan jenis teh hijau yang ditawarkan Indonesia dengan jenis yang dibutuhkan di Jepang yaitu berupa teh hijau Cina, teh hijau pengolahan steam , dan teh Oolong . Selain itu, menurut informasi dari para responden yang banyak mnegekspor teh hijau curah ke Jepang, pihak Jepang masih mengeluhkan adanya bitterness dan warna air seduhan yang kuning kemerahan pada teh hijau Indonesia

Tabel 2. Posisi daya saing berbagai produk teh Indonesia di pasar teh dunia dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS)

Pasar

Teh Hitam Curah

Teh Hijau Curah

Teh Hitam Kemasan

Teh Hijau Kemasan

Kanada

0,005

0,000

0,000

0,000

Iran

0,000

0,000

0,000

0,000

Perancis

-0,009

0,000

0,000

0,000

Jerman

-0,016

0,013

0,000

0,001

Jepang

-0,004

-0,004

-0,002

0,000

Polandia

0,000

0,003

0,005

0,000

Maroko

0,000

-0,008

0,000

0,000

Federasi Rusia

-0,203

0,001

-0,007

0,000

Saudi Arabia

-0,002

-0,003

0,000

-0,002

Inggris

0,041

0,013

0,009

0,000

Amerika Serikat

-0,051

0,001

-0,002

-0,001

Lainnya

0,020

0,000

-0,009

-0,001

Keterangan angka: semakin besar nilai positif, semakin baik daya saingnya

Pangsa pasar teh hijau curah Indonesia di pasar Jepang pada tahun 2001 masih sangat kecil yaitu hanya mencapai 0,4%. Pasar teh hijau curah di Jepang telah dikuasai oleh negara yang memiliki daya saing terkuat yaitu Cina dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 87,4%, kemudian diikuti oleh Vietnam (7,1%). Peningkatan pangsa pasar teh hijau curah Indonesia di pasar Jepang memerlukan upaya keras dalam menyesuaikan jenis varietas teh yang ditanam yaitu berupa China Variety dan teknologi proses pengolahannya yang menggunakan uap panas ( steam ), tidak menggunakan metode panning yang biasa digunakan untuk pengolahan teh hijau di Indonesia.

Di pasar Amerika Serikat, daya saing teh hijau curah Indonesia masih lemah bila dibandingkan dengan teh hijau yang berasal dari Jerman, Inggris dan India . Namun demikian, daya saing teh hijau curah Indonesia tersebut masih lebih baik dari Jepang, Cina dan Vietnam serta setara dengan Sri Lanka . Walaupun demikian, pangsa pasar terbesar masih dikuasai oleh Cina (40,3%), Jerman (18,2%) dan Jepang (9,9%). Indonesia hanya menguasai pangsa pasar sebesar 0,9%.

Kurangnya daya saing teh hijau curah Indonesia di pasar Amerika Serikat tersebut terkait dengan lemahnya jaringan pasar teh hijau curah Indonesia ke Amerika Serikat sehingga harus melalui Jerman dan Inggris terlebih dahulu sebelum sampai ke negara Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari cukup tingginya jumlah ekspor teh hijau Indonesia yang ditujukan ke Jerman (8,7%) dan Inggris (37,8%) yang kemudian segera direekspor ke Amerika serikat. Sebaliknya, di pasar Jerman, daya saing teh hijau curah Indonesia merupakan yang terkuat mengalahkan India dan Jepang. Namun demikian, pangsa pasar teh hijau curah di Jerman masih dikuasai oleh Cina (66,9%) dan India (9,8%). Pihak Indonesia hanya menguasai pangsa pasar sebesar 8,7%. Oleh karena itu, pihak Indonesia sangat berpeluang untuk mengambil alih pangsa keduanya. Demikian pula di pasar Inggris, daya saing teh hijau curah Indonesia memiliki daya saing terkuat setelah Jepang dan mampu mengalahkan Vietnam, Sri Lanka, dan Jerman. Oleh karena itu, pasar teh hijau curah Inggris telah dikuasai pihak Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 37,8% kemudian diikuti oleh Cina (18,5%) dan Amerika Serikat (11,5%).

Di pasar Maroko, negara pengekspor teh hijau curah yang dapat memasuki pasar hanya dua negara yaitu Cina dan Indonesia karena rumitnya prosedur untuk memasuki pasar tersebut. Untuk dapat memasuki pasar teh di Maroko, para calon eksportir harus melakukan kontak langsung dengan badan usaha pemerintah yang berperan dalam perdagangan teh yaitu ONTS (Kantor Urusan Teh dan Gula Maroko)(Suprihatini dan Partosoedarso, 1996). Namun demikian, daya saing teh Indonesia masih jauh di bawah Cina, sehingga pada tahun 2001 tidak ada lagi ekspor teh hijau curah Indonesia ke Maroko. Mulai tahun 2001, Cina merupakan satu-satunya negara pengekspor teh hijau curah ke Maroko dengan penguasaan pangsa pasar 100% karena jenis teh hijau Cina yaitu Gun Powder, Chun Mee dan Saw Mee lebih sesuai dengan selera pasar Maroko. Walaupun demikian, jumlah impor teh curah Maroko terus menurun dari 29,4 ton pada tahun 1997 menjadi hanya 16,8 ton pada tahun 2001 karena pihak Maroko lebih menghendaki impor teh hijau dalam bentuk kemasan. Impor teh hijau kemasan Maroko meningkat dari 27,2 ton pada tahun 1997 menjadi 52,1 ton pada tahun 2001.

Tabel 3. Beberapa pasar utama teh hijau curah dunia dan masing-masing pangsa impornya

Negara

Pangsa Impor Tahun 1997 (%)

Pangsa Impor Tahun 2001 (%)

Pertumbuhan Pasar (%/tahun)

Jepang

17,2

24,1

8,3

Maroko

18,5

10,8

-13,1

Amerika Serikat

5,1

9,5

15,9

Jerman

3,1

10,5

35,1

Federasi Rusia

1,7

3,3

17,6

Perancis

2,1

2,9

8,1

Inggris

1,3

2,4

15,2

Saudi Arabia

0,4

3,0

64

Kanada

1,1

1,3

4,8

Negara Lainnya

49,5

31,6

-11,1

Dunia

100,0

100,0

-0,5

Sumber : International Trade Center (2002) (diolah).

Tabel 4. Hasil analisis daya saing teh hijau curah Indonesia menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS)

Negara Pengekspor

Pengaruh Persaingan di Negara Pengimpor

Kanada

Iran

Perancis

Jerman

Jepang

Polandia

Maroko

Federasi Rusia

Saudi Arabia

Inggris

Amerika Serikat

Negara Lainnya

Vietnam

0

0

0

0

-0,180

0

0

0,011

0

-0,009

-0,006

0,144

Cina

0

0

-0,004

0

0,025

0

0,002

0,001

-0,002

0

-0,009

-0,024

Bangladesh

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Jerman

0

0

0,014

0

0

0

0

0

0

0,001

0,023

0,017

India

0

0

0

0,004

0

0

0

-0,009

-0,005

0

0,002

0,001

Indonesia

0

0

0

0,013

-0,004

0,003

-0,008

0,001

-0,003

0,013

0,001

0

Jepang

0,015

0

0,019

-0,090

0

0

0

0

0

0,020

-0,020

0,224

Polandia

0

0

0

0

0

0

0

0

0,002

0

0

0

Sri Lanka

0

0

0

0

-0,004

0

0

0,004

0,004

0,001

0,001

0,002

Uni Emirat Arab

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0,073

Inggris

-0,002

0

0,002

0

0

0

0

0,001

0

0

0,003

0,005

Amerika Serikat

0,013

0

0

0

0

0

0

0,014

0

-0,033

0

-0,010

Keterangan angka: semakin besar nilai positif, semakin baik daya saingnya


Kunjungan ke-2381,
Sejak: 4 November 2004

   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | I k l i m new! | Produk | Info Pustaka | Links | Hubungi Kami