Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login

 

KOPI INDONESIA DIKANCAH PERKOPIAN DUNIA

Oleh: Herman
(Peneliti pada Lembaga Riset Perkebunan Indonesia)

I. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama kopi dunia yang akhir-akhir ini kontribusinya cenderung terus menurun. Hal ini terjadi karena petani sebagai produsen kopi mendapat tekanan harga yang sangat berat sejak tahun 2000 dimana kopi dunia mengalami krisis. Di sisi lain, krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan pada gilirannya memaksa petani untuk berjuang sendiri, karena pemerintah sama sekali tidak mampu membantu memperjuangkan perbaikan harga. Upaya pelaku bisnis kopi untuk mengatur ekspor dengan mengadakan stok kopi nasional sesuai kesepakatan dengan negara-negara produsen dibawah payung ACPC (Association of Coffe Producing Countries) untuk mengangkat harga kopi ke tingkat yang wajar tidak terlaksana karena kendala finansial. Janji pemerintah untuk membantu penyediaan dana bagi pelaku bisnis kopi tidak bisa dipenuhi.

Kalau ditelusur lebih lenjut maka akan tampak bahwa perkopian Indonesia masih menghadapi masa suram karena kondisi tanaman umumnya sudah tua, kurang terpelihara dan produktivitasnya makin turun. Sementara upaya rehabilitasi maupun peremajaan tidak mendapat perhatian karena harga kopi tidak menarik investor. Oleh karena itu, perlu keterlibatan pemerintah untuk mempertahankan agribisnis kopi dari kehancuran. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran situasi perkopian dunia dan perkopian Indonesia serta saran perbaikan yang dapat dilakukan oleh para pelaku bisnis kopi dan pengambil kebijakan.

II. KONDISI UMUM PERKOPIAN DUNIA

2.1. Perkembangan Produksi Kopi Dunia

Tanaman kopi dibudidayakan oleh lebih dari 50 negara yang berada di kawasan tropis membentang dari Amerika Tengah dan Selatan, Afrika hingga Asia Pasifik. Sentra produksi kopi di wilayah Amerika Tengah dan Selatan adalah Meksiko, Guatemala, Brazil dan Kolombia. Sentra produksi di wilayah Afrika adalah Ethiopia, Uganda dan Pantai Gading. Sementara sentra produksi di wilayah Asia Pasifik adalah India, Vietnam dan Indonesia. Pada tahun 2003, produsen utama kopi dunia masih diduduki oleh Brazil dengan tingkat produksi 28,8 juta karung (1 karung = 60 kg) disusul Vietnam, Kolombia, Indonesia, Meksiko dan India (Tabel 1).

Pada Tabel 1 tersebut tampak bahwa pada tahun 2002 produksi kopi dunia meningkat cukup pesat meskipun harga kopi dunia sangat tertekan beberapa tahun terakhir. Peningkatan produksi terutama terjadi di wilayah Amerika Selatan yaitu meningkat sebesar 29,36%, sehingga makin memperkokoh wilayah tersebut sebagai produsen utama kopi dunia dengan pangsa 53,72%. Sedangkan di wilayah lainnya, walaupun ada beberapa negara yang mengalami peningkatan produksi, tetapi secara keseluruhan tiap wilayah mengalami penurunan produksi. Wilayah Afrika mengalami penurunan produksi sebesar 4,25%, sementara wilayah Asia/Oceania mengalami penurunan produksi kopi sebesar 6,16% dan wilayah Amerika Tengah turun 4,6% (International Coffee Organization, 2003a).

Tabel 1. Perkembangan Produksi Kopi Dunia (dalam ribu karung)

Negara

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

Brazil

27.664

22.758

34.650

32.345

32.005

33.743

48.480

28.820

Kolombia

10.876

12.211

11.024

9.398

10.532

11.999

11.889

11.000

Vietnam

5.705

6.915

6.972

11.648

14.775

13.133

11.555

11.250

Indonesia

8.299

7.759

8.458

5.499

6.974

6.833

6.785

6.464

India

3.469

4.646

4.334

5.495

4.526

4.970

4.676

4.508

Meksiko

5.324

4.802

4.801

6.219

4.815

4.200

4.000

4.550

Lainnya

41.489

37.039

35.878

43.919

39.052

34.694

33.874

34.620

Total

102.826

96.130

106.117

114.523

112.679

109.572

121.259

101.212

Sumber: International Coffee Organization, 2003 dan 2004.


Pada tahun 2003, produksi kopi dunia mengalami penurunan dan penurunan yang paling pesat terjadi di Brazil disusul kawasan Asia/Oceania, sedangkan wilayah Afrika dan Amerika tengah justru sedikit mengalami peningkatan produksi. Penurunan produksi yang cukup drastis tersebut mengakibatkan perubahan pangsa produksi tiap wilayah, meskipun tidak merubah dominasi wilayah Amerika Selatan dan urutan pangsa produksi wilayah. Pangsa produksi wilayah Amerika Selatan tercatat sebesar 43,64% di susul wilayah Asia/Oceania 24,53%, wilayah Amerika Tengah 16,54% dan wilayah Afrika 15,29% (International Coffee Organization, 2004).

Peningkatan produksi kopi yang begitu pesat di wilayah Amerika Selatan sebagai sentra produksi kopi arabika dan penurunan produksi di wilayah Asia/Oceania sebagai sentra produksi kopi robusta makin memperkokoh dominasi kopi arabika dari 62,9%:37,1% pada tahun 2000 menjadi 67,03%:32,97% pada tahun 2003. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dipaparkan secara singkat kondisi perkopian di beberapa negara produsen utama kopi dunia.

Brazil sebagai produsen utama kopi dunia berhasil menstabilkan tingkat produksi kopinya diatas 30 juta karung sejak tahun 1998, dan mencapai rekor tertinggi tahun 2002. Hal ini berkaitan erat dengan keberhasilan Brazil dalam melakukan rehabilitasi dan peremajaan tanaman kopi yang mati akibat frost yang terjadi tahun 1979, 1981 dan 1994. Disamping itu Brazil telah berhasil mengembangkan areal baru sekaligus memindahkan sentra produksi kopinya dari daerah-daerah Selatan ke kawasan Utara Brazil, sehingga dapat meminimumkan gangguan frost yang sering melanda negeri ini.

Produksi kopi Brazil memang masih berfluktuasi, tetapi fluktuasi tersebut hanya merupakan siklus seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. Setelah produksi mencapai puncak tertinggi yaitu 48,48 juta karung pada tahun 2002, tahun berikutnya produksi kopi Brazil turun menjadi 28,8 juta karung dan pada tahun 2004/05 diperkirakan kembali meningkat menjadi 38,26 juta karung. Jenis kopi yang diproduksi sebagian besar adalah kopi arabika.

Vietnam sebagai pendatang baru di perkopian dunia telah berhasil merubah peta produksi kopi dunia. Vietnam telah berhasil meningkatkan produksi kopinya lebih dari 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun (1990-2000) dan menempatkannya sebagai produsen kopi terbesar kedua dunia pada tahun 1999-2001. Pada tahun 2002, terjadi penggeseran posisi oleh Kolombia, tetapi pada tahun 2003 Vietnam kembali menempati posisi kedua, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai produsen kopi robusta dunia.

Setelah berhasil menjadi produsen utama kopi robusta, Vietnam selanjutnya bertekad untuk menjadi produsen utama kopi arabika. Ketua Vicofa Vietnam Doan Trieu Nhan menyatakan bahwa saat ini Vietnam telah berhasil mengembangkan 20 ribu ha kopi arabika dan sudah mulai berbuah. Vietnam terus berupaya untuk mengembangkan areal kopi arabika dengan target 100 ribu ha dan produksi 2,5-2,7 juta karung kopi arabika pada tahun 2010 (Kopi Indonesia , 2004).

Kolombia merupakan produsen kopi terbesar ketiga setelah Vietnam dengan tingkat produksi yang relatif stabil pada kisaran 10,5-12,0 juta karung selama 4 tahun terakhir. Keberhasilan menstabilkan tingkat produksi tersebut merupakan buah keberhasilan program rehabilitasi beberapa tahun sebelumnya. Kopi yang dihasilkan adalah jenis kopi arabika. Kolombia kembali menjadi produsen kopi terbesar kedua pada tahun 2002, meskipun tahun 2003 kembali digeser oleh Vietnam.

Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia setelah sebelumnya berada pada posisi ketiga hingga tahun 1998. Produksi kopi Indonesia cenderung terus menurun, karena selain disebabkan oleh umur tanaman yang makin tua upaya pemeliharaan dan rehabilitasi tidak dilakukan dengan baik. Jenis kopi yang diproduksi sebagian besar adalah kopi rubusta dan sebagian kecil kopi arabika.

Produsen kelima dan keenam ditempati oleh India dan Meksiko dengan kisaran produksi 4-5 juta ton. India dulunya adalah penghasil kopi arabika, tetapi karena adanya serangan penyakit karat daun maka dikembangkan kopi robusta di daerah rendah yang kini meliputi 60-80% areal tanaman kopinya. Sementara Meksiko merupakan produsen utama kopi di wilayah Amerika Tengah. Jenis kopi yang dihasilkan adalah kopi arabika.

Berdasarkan gambaran dari beberapa negara produsen utama kopi dunia dapat diperkirakan bahwa produksi kopi dunia di masa yang akan datang relatif stabil dan akan terus meningkat, sehingga persaingan pasar akan semakin ketat. Produksi kopi dunia tidak begitu terpengaruh oleh tekanan harga yang sangat rendah selama lima tahun terakhir.

 

2.2. Perkembangan Konsumsi Kopi Dunia

Konsumsi kopi dunia masih didominasi negara pengimpor utama yang porsinya sekitar 56%, sementara konsumsi negara-negara pengekspor hanya sekitar 25%, dan selebihnya sekitar 19% dikonsumsi oleh negara-negara produsen yang tidak mengekspor serta negara pengimpor lainnya. Konsumen utama negara-negara pengimpor kopi dunia adalah Amerika Serikat disusul Jerman, Jepang, Italia dan Prancis. Sementara konsumen utama negara-negara produsen hanya Brazil, sedangkan konsumsi negara produsen lainnya masih sangat rendah (Tabel 2).

Tabel 2. Perkembangan Konsumsi Kopi Negara Pengimpor dan Produsen Utama (dalam ribu karung)

No.

Negara

Tahun

2000

2001

2002

2003

I.

Pengimpor

 

 

 

 

1.

Amerika Serikat

18.558

19.343

18.870

20.505

2.

Jerman

9.183

9.468

9.064

9.133

3.

Jepang

6.693

7.004

6.934

6.812

4.

Prancis

5.400

5.241

5.492

5.428

5.

Italia

5.163

5.252

5.280

5.503

II.

Produsen

 

 

 

 

1.

Brazil

13.000

13.250

13.500

13.750

2.

Indonesia

1.667

2.000

1.833

2.000

3.

Ethiopia

1.667

1.833

1.833

1.833

4.

Meksiko

1.305

1.500

1.500

1.500

5.

Kolombia

1.400

1.400

1.400

1.300

Sumber: International Coffee Organization, 2004.


Secara umum, konsumsi kopi dunia selalu berada dibawah produksi sejak awal terjadinya krisis kopi dunia tahun 1998. Perkembangan konsumsi kopi dunia relatif lambat karena konsumsi kopi per kapita di negara konsumen utama dunia khususnya di negara konsumen tradisional mengalami penurunan. Sebagai contoh, konsumsi kopi per kapita di Amerika Serikat turun 8,35% yaitu dari 4,43 kg/kapita (rata-rata tahun 1990-1993) menjadi 4,06 (rata-rata tahun 2000-2003). Pada periode yang sama, penurunan konsumsi kopi per kapita yang lebih tajam dialami oleh Belanda, Austria, Swedia, Denmark, Inggris, dan Norwegia masing-masing -32,59%, -31,73%, -27,89%, -15,31%, -10,51% dan 10,97%. Meskipun demikian ada beberapa negara konsumen utama kopi yang mengalami peningkatan konsumsi per kapita antara lain Jepang, Italia, dan Belgia/Luxembourg masing-masing 19,67%, 14,63% dan 53,50%. Kecenderungan penurunan konsumsi per kapita di negara konsumen utama kopi dunia tersebut diperkirakan masih berlanjut, sehingga laju perkembangan konsumsi kopi dunia tetap rendah (International Coffee Organization, 2004).

 

2.3. Perdagangan Kopi Dunia

Peningkatan produksi yang begitu pesat sejak tahun 1998, tampaknya tidak diikuti oleh peningkatan ekspor. Ekspor kopi dunia pada awalnya terus meningkat hingga mencapai puncaknya tahun 2001, kemudian terus merosot. Pada tahun 2003, ekspor kopi dunia diperkirakan hanya sebesar 85,53 juta karung atau sedikit lebih rendah dari ekspor tahun 2000, 2001 dan 2002 yang masing-masing 89,18 juta karung, 90,23 juta karung dan 87,02 juta karung. Eksportir utama kopi dunia masih di duduki Brazil, diikuti Vietnam, Kolombia, Indonesia dan India (Tabel 3).

Tabel 3. Perkembangan Ekspor Negara-negara Produsen Utama Kopi Dunia (dalam juta karung)

Tahun

Brazil

Vietnam

Kolombia

Indonesia

Meksiko

India

Lainnya

Total Dunia

1998

18,15

6,47

11,27

5,60

3,40

3,48

31,55

79,92

1999

23,13

7,75

10,00

5,10

4,35

3,62

31,52

85,47

2000

18,02

11,62

9,17

5,35

5,30

4,45

35,28

89,18

2001

23,17

13,95

9,95

5,25

3,33

3,73

30,85

90,23

2002

27,92

11,77

10,27

3,97

2,65

3,40

27,05

87,02

2003

24,43

12,82

10,63

4,62

2,60

4,13

26,30

85,53

Sumber: International Coffee Organization, 2003a dan 2004.

 

Penurunan ekspor tahun 2002 dan 2003 tampaknya berkaitan erat dengan strategi negara pengimpor yang menginginkan jumlah stok tidak terlalu besar seperti masa lalu yang besarnya cukup untuk konsumsi satu semester. Negara pengimpor merasa cukup aman dengan stok sebesar satu kwartal konsumsi atau sekitar 20 juta karung karena transportasi dan informasi saat ini tidak lagi menjadi faktor kendala. Pada bulan Juni 2003, total stok negara pengimpor mencapai 20,12 juta karung, jauh di atas stok kopi tahun 2000 dan 2001 yang masing-masing hanya 16,13 juta karung dan 18,64 juta karung ( International Coffee Organization. 2003a).

Sementara itu, importir utama kopi dunia masih diduduki oleh Amerika Serikat diikuti oleh Jerman, Perancis, Jepang, Italia, Spanyol dan Inggris. Perkembangan volume impor negara pengimpor utama kopi dunia tersebut cenderung terus meningkat, meskipun peningkatannya relatif kecil (Tabel 4).

Tabel 4. Perkembangan Impor Kopi Negara Pengimpor Utama Kopi Dunia (dalam juta karung)

Tahun

AS

Jerman

Perancis

Jepang

Italia

Spanyol

Inggris

1997

20,35

13,95

6,83

6,05

5,75

3,82

3,00

1998

21,05

13,81

6,68

6,10

5,92

3,78

3,23

1999

22,79

14,45

6,80

6,62

5,98

4,03

2,95

2000

23,83

14,38

6,64

6,98

6,35

3,82

3,10

2001

21,45

15,11

6,88

7,07

6,57

4,13

3,11

2002

21,70

15,73

7,06

7,37

6,56

4,09

3,02

2003

22,91

15,90

6,82

6,97

6,96

4,21

3,08

Sumber: International Coffee Organization, 2004a.


Pada Tabel 4 tampak bahwa Amerika Serikat sebagai importir utama kopi dunia pada awalnya mengalami peningkatan cukup tajam hingga tahun 2000, tetapi kemudian turun cukup drastis pada tahun 2001 dan kembali meningkat tahun 2002 dan 2003. Sementara impor kopi negara importir lainnya meskipun sedikit berfluktuasi tetapi mempunyai kecenderungan terus meningkat.

 

2.4. Perkembangan Harga Kopi Dunia

Harga kopi di pasar dunia terus merosot setelah mencapai tingkat tertinggi selama 15 tahun terakhir pada tahun 1997. Pada tahun 1998, harga kopi robusta di bursa London tercatat rata-rata US $c 76,39/lb, merosot menjadi US $c 64,07/lb pada tahun 1999 dan menjadi US $c 40,11/lb pada tahun 2000 serta menjadi US $c 23,92/lb pada tahun 2001. Pada tahun 2002, harga sedikit meningkat menjadi US $c 25,88/lb dan pada tahun 2003 menjadi US $c 32,85/lb. Peningkatan harga kopi robusta terus berlanjut hingga bulan Juni 2004 dan sedikit menurun pada bulan Juli dan Agustus 2004.

Keadaan yang hampir sama juga dialami oleh kopi arabika di bursa New York. Pada tahun 1998, harga kopi arabika tercatat rata-rata US $c126,27/lb, merosot menjadi US $c 106,48/lb pada tahun 1999, menjadi US $c 94,58 pada tahun 2000 dan menjadi US $c 58,86 pada tahun 2001, serta menjadi US $c 57,02/lb pada tahun 2002. Harga kopi arabika mulai membaik tahun 2003 dan terus berlanjut hingga Juni 2004, serta kembali merosot pada bulan Juli dan Agustus 2004.

Peningkatan harga kopi sepanjang tahun 2003 hingga pertengahan tahun 2004 tampaknya dipicu oleh kemerosotan produksi kopi dunia tahun 2003 yang diperkirakan hanya 101,2 juta karung atau terendah sejak terjadinya krisis kopi dunia tahun 1998. Namun sejak pertengahan tahun 2004, harga kopi dunia kembali merosot karena produksi kopi dunia tahun 2004/05 diperkirakan kembali naik melampaui tingkat konsumsi kopi dunia yaitu antara 112-117 juta karung. Perkembangan harga kopi dunia dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Perkembangan harga kopi dunia.

Secara umum harga kopi dunia (harga indikator ICO) telah mengalami peningkatan setelah mencapai titik terendah US $c 41,17/lb pada Bulan September 2001. Peningkatan harga indikator ICO terus berlangsung hingga Juni 2004 yaitu mencapai US $c 64,28, tetapi kemudian kembali merosot dua bulan terakhir (International Coffee Organization, 2004).

Dengan memperhatikan pola pergerakan produksi dan konsumsi kopi dunia, dapat diprediksi bahwa harga kopi dunia beberapa tahun ke depan akan stabil pada tingkat yang rendah seperti beberapa tahun terakhir dan tidak akan ada lonjakan harga seperti masa lalu. Upaya untuk menjaga kesinambungan usaha atau kelestarian perkebunan kopi dapat dilakukan melalui efesiensi dan peningkatan produktivitas serta diversifikasi vertikal dengan mengembangkan industri hilir kopi.

 

III. SITUASI PERKOPIAN INDONESIA

Krisis kopi dunia yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meskipun masih jauh dari harapan. Peningkatan harga kopi robusta masih lebih lamban dibanding harga kopi arabika, sehingga Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama kopi robusta masih menghadapi ujian berat, karena selain kondisi tanaman yang sudah tua dan mutu produksi yang rendah, kemerosotan harga kopi beberapa tahun terakhir menyebabkan kebun makin tidak terpelihara dan produktivitasnya makin rendah. Di sisi lain, Vietnam sebagai negara pesaing memiliki kebun kopi yang relatif muda, produktivitas tinggi dan mendapat dukungan dari pemerintahnya untuk memenangkan persaingan pasar. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan disajikan gambaran umum perkopian nasional Indonesia.

3.1. Perkembangan Areal, Produksi dan Penyebarannya

Tanaman kopi bukan tanaman asli Indonesia, yang masuk ke Indonesia pertama kali tahun 1696, bersamaan waktunya dengan digemarinya minuman kopi di kawasan Eropa. Tanaman kopi tersebut adalah jenis kopi arabika yang berasal dari Malabar-India. Sejarah mencatat bahwa untuk pertama kalinya pelelangan kopi asal Jawa di Amsterdam dilakukan tahun 1712 dan sejak itu pasaran kopi Eropa mengenal baik “Java coffee” (Siswoputranto,1993).

Pada tahun 1878 timbul serangan penyakit karat daun yang diperkirakan berasal dari Sri Langka dan menyebar cepat keseluruh perkebunan kopi di Jawa. Karena sulit diberantas, maka sejak tahun 1900 dikembangkan kopi jenis robusta yang relatif tahan penyakit. Jenis kopi robusta ini kemudian berkembang pesat hampir ke seluruh pelosok Nusantara dan pada saat pecah perang dunia ke-II, Hindia Belanda (Indonesia) dikenal sebagai penghasil kopi terbesar ketiga dunia setelah Brazil dan Kolombia.

Pengembangan areal perkebunan kopi terus berlanjut setelah Indonesia merdeka, dan perkembangan yang paling pesat (lebih dari 2 kali lipat) terjadi pada periode 1975-1985. Areal perkebunan kopi Indonesia mencapai sejuta hektar pada tahun 1988. Kemudian perkembangan areal perkebunan kopi berjalan lambat yaitu hanya 2,3% per tahun selama 15 tahun terakhir. Secara keseluruhan areal perkebunan kopi tumbuh hampir 3,5 kali selama 28 tahun sejak tahun 1975.

Perkebunan kopi Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan total areal 1,327 juta ha atau 95,70%, sementara areal perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta masing-masing seluas 27,0 ribu ha (1,95%) dan 32,5 ribu ha (2,35%). Areal perkebunan rakyat tersebut dikelola oleh sekitar 2,64 juta kepala keluarga petani (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004).

Sejalan dengan perluasan areal tersebut, produksi kopi Indonesia juga meningkat dengan laju peningkatan yang lebih tajam dari perluasan areal. Produksi kopi Indonesia meningkat lebih dari 4 kali lipat selama 28 tahun terakhir yaitu dari 170 ribu ton tahun 1975 menjadi 691 ribu ton tahun 2003 (Tabel 5).

Tabel 5. Perkembangan Areal dan Produksi Kopi Indonesia

Tahun

Areal (1000 ha)

Produksi (1000 ton)

 

PR

PBN

PBS

Total

PR

PBN

PBS

Total

1970

351,1

20,4

23,4

394,9

170,1

8,9

6,1

185,1

1975

361,3

20,1

18,4

399,8

155,4

9,6

5,4

170,4

1980

663,6

20,9

22,9

707,4

276,3

13,2

5,5

295,0

1985

874,3

23,5

33,3

931,1

288,4

12,6

10,4

311,4

1990

1014,1

25,8

29,9

1069,8

384,5

15,6

12,7

412,8

1995

1109,5

25,6

32,4

1167,5

429,6

16,8

11,4

457,8

2000

1192,3

40,6

27,7

1260,6

514,9

29,8

9,9

554,6

2003

1327,5

27,0

32,5

1387,0

658,3

18,2

14,7

691,2

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004.

Tanaman kopi tumbuh menyebar di hampir semua propinsi dengan sentra produksi utama Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, N. Aceh D., Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan sumatera Utara untuk kopi robusta. Sedangkan sentra produksi utama kopi arabika adalah Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Tabel 6).

Tabel 6. Sentra Produksi Utama Kopi Indonesia, 2003

No.

Produksi

Kopi Robusta

Kopi Arabika

Total

Areal
(1000 ha)

Produksi
(1000 ton)

Areal
(1000 ha)

Produksi
(1000 ton)

Areal
(1000 ha)

Produksi
(1000 ton)

1.

N Aceh D

98,9

40,2

0

0

98,9

40,2

2.

Sumatera Utara

63,8

41,8

0

0

63,8

41,8

3.

Sumatera Selatan

295,6

143,2

0

0

295,6

143,2

4.

Bengkulu

164,5

89,9

0,5

0,3

165,0

90,2

5.

Lampung

164,5

151,0

1,1

0,6

165,6

151,6

6.

Jawa Tengah

34,9

14,6

7,1

0,7

42,0

15,3

7.

Jawa Timur

86,2

42,0

6,5

1,0

92,7

43,0

8.

Bali

27,5

15,7

9,5

3,8

37,0

19,5

9.

Nusa Tenggara Timur

69,6

16,0

0

0

69,6

16,0

10.

Sulawesi Selatan

92,7

25,8

60,0

18,3

111,0

44,1

11.

Lainnya

238,8

85,7

7,0

0.6

245,8

86,3

 

Total

1295,3

665,9

91,7

25,3

1387,0

691,2

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004.

3.2. Perkembangan Ekspor dan Konsumsi Kopi Domestik

Produksi kopi Indonesia sebagian besar yaitu antara 50%-80% diekspor. Ekspor kopi Indonesia hampir seluruhnya dalam bentuk biji kering dan hanya sebagian kecil (kurang dari 0,5%) dalam bentuk hasil olahan. Tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Italia (Tabel 7).

Tabel 7. Perkembangan volume ekspor kopi Indonesia 1998-2002 (ton)

No.

Negara Tujuan

Tahun

1998

1999

2000

2001

2002

1.

Jerman

56.640

50.298

47.648

29.417

53.563

2.

Jepang

56.376

67.388

65.842

58.623

49.039

3.

Amerika Serikat

10.180

36.603

33.003

36.803

43.243

4.

Korea

9.419

420

11.555

2.942

15.267

5.

Italia

14.863

19.651

19.443

11.378

15.011

6.

Singapura

9.234

14.404

12.974

10.205

12.475

7.

Inggris

8.035

11.981

11.090

4.385

10.481

8.

Rumania

10.484

4.617

4.905

5.429

10.296

9.

Bulgaria

11.699

11.899

11.917

4

7.081

10.

Philippina

9.935

2.837

13.191

560

1.984

11.

Lainnya

160.685

132.664

107.633

91.072

106.570

 

Total Volume

357.550

352.762

339.201

250.818

325.010

 

Nilai (US $ juta)

584,24

466,83

318,90

188,49

223,92

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004.

Pada Tabel 9 tampak bahwa volume ekspor kopi Indonesia relatif stabil pada kisaran antara 300-360 ribu ton, kecuali pada tahun 2001 yang ekspor hanya sebesar 250 ribu ton. Meskipun volume ekspor relatif stabil, tetapi nilai ekspornya terus merosot dari US $ 584,24 juta pada tahun 1998, menjadi US $188,5 juta tahun 2001 dan sedikit naik menjadi US $ 223,92 juta tahun 2002.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa peranan komoditas kopi untuk memberikan pendapatan yang layak bagi petani maupun sumber devisa makin memudar. Kopi tidak lagi menyediakan kesempatan kerja yang layak bagi petani, pedagang maupun eksportir kopi dan sumbangannya terhadap nilai ekspor terus berkurang.

Di sisi lain, konsumsi kopi domesik Indonesia selama beberapa tahun terakhir tidak mengalami perkembangan yang berarti. Pasar domestik diperkirakan hanya mampu menyerap sekitar 25% dari total produksi kopi nasional. Oleh karena itu, sudah saatnya bagi Indonesia melakukan terobosan guna meningkatkan daya serap kopi domestik dan upaya ini masih sangat terbuka karena tingkat konsumsi domestik masih sangat rendah yaitu dibawah 0,5 kg/kapita/tahun.

 

3.3. Perkembangan Industri Pengolahan dan Penyebarannya

Industri pengolahan kopi di Indonesia mulai berkembang sejak didirikannya pabrik kopi bubuk pertama “Kedoeng Lajoe” di Sidoarjo, Jawa Timur tahun 1928. Setelah itu bermunculan pabrik-pabrik kopi bubuk lainnya seperti pabrik Muntu di Purworejo, Jawa Tengah tahun 1930 dan pabrik Tjeng Gwan di Surabaya pada tahun 1935. Pada saat ini tercatat lebih dari 500 pabrik kopi bubuk yang tersebar di Indonesia. Industri tersebut dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu industri rumah tangga, skala menengah, dan skala besar (Anonim, 1999).

Perkembangan industri pengolahan kopi pada awalnya relatif lambat dan orientasi produksinyapun hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal/dalam negeri. Sampai tahun 1990 produksi kopi hasil olahan hanya sekitar 56 ribu ton. Kemudian industri pengolahan kopi mengalami perkembangan pesat dan mencapai puncaknya pada tahun 1996 dengan kemampuan produksi mencapai 101 ribu ton. Selanjutnya produksi kembali merosot dan saat ini produksi hasil olahan kopi diperkirakan masih dibawah tahun 1996. Hal ini terjadi karena investor baru hampir tidak ada yang masuk dan beberapa industri yang sudah berproduksi terpaksa menghentikan kegiatannya.

Kapasitas terpasang pabrik pengolahan kopi beberapa tahun terakhir tidak mengalami perkembangan yang berarti, malah ada beberapa pabrik yang tidak berproduksi lagi. Menurut Capricorn Indonesia Consult (2000), pada tahun 2000 tercatat sebanyak 536 perusahaan pengolahan kopi dan 480 buah diantaranya masih aktif berproduksi. Total kapasitas terpasang pabrik pengolahan tersebut sebesar 97.639 ton/tahun tersebar hampir di semua propinsi (Tabel 8). Kapasitas terpasang yang paling besar berada di Jawa Timur yaitu sebesar 22.849 ton/tahun, disusul DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara dan Lampung masing-masing dengan kapasitas 15.423 ton, 11.016 ton, 7.826 ton dan 6.727 ton/tahun.

Tabel 8. Kapasitas Terpasang Pabrik Pengolahan Kopi Indonesia

No.

Nama Perusahaan

Kasitas Terpasang (ton)

Lokasi

1.

PT. Santos Jaya Abadi

11.640

Jawa Timur

2.

PT. Aneka Coffee Industry

5.040

Jawa Timur

3.

PT. Ayam Merak

4.800

DKI Jakarta

4.

PT. Torabika Eka Semesta

4.302

Jawa Barat (Banten)

5.

PT. Megah Agung Surya

3.000

Sumatera Selatan

6.

PT. Artha Nugraha Mandiri

3.000

Jawa Tengah

7.

PT. Indonesia Brazil Coffe

2.400

Jawa Timur

8.

PT. Rapih Selaras

1.800

Jawa Barat (Banten)

9.

PT. Cita Rasa Kopi Ind.

1.500

Jawa Barat (Banten)

10.

CV Netto,AAA

1.500

Jambi

11.

Jeng Gwan

1.500

Jawa Timur

12.

PT. Tri Manggola Dento

1.500

Jawa Timur

13.

PT. Indo Alam Perkasa

1.000

Sulawesi Utara

14.

Indra Coffee

950

Jawa Timur

15.

Lainnya

53.707

Tersebar di beberapa Propinsi

 

Total

97.639

 

Sumber: Capricorn Indonesia Consult, 2000.

Pada Tabel 8 tampak bahwa industri pengolahan kopi terbesar di Indonesia saat ini adalah PT Santos Jaya Abadi dengan kapasitas produksi 11.640 ton/tahun berlokasi di Sepanjang yaitu sekitar 20 km dari Surabaya. Perusahaan ini dikembangkan tahun 1979 dari industri kecil yang sudah beroperasi sejak tahun 1927. Produksi yang dihasilkan pada awalnya hanya menggunakan merek Kapal Api dan Kapten, kemudian dikembangkan beberapa merek antara lain Bintang, Santos , Exelso, Sico, Ya dan ABC.

Industri pengolahan kopi terbesar kedua adalah PT Aneka Coffee Industry di Sidoarjo dengan kapasitas produksi 5.040 ton/tahun. Perusahaan ini merupakan Joint venture antara PT Prashida Aneka Niaga dan PT Citrabuana Tunggal Perkasa dengan Itochu Corp dan VCC Useshima Coffee Co Ltd dari Jepang. Perusahaan ini agak berbeda dengan perusahaan lainnya, karena perusahaan diarahkan tidak hanya memproduksi kopi bubuk tetapi juga memproduksi kopi instan. Kopi instan tersebut hampir seluruhnya (lebih dari 90%) diekspor. Tujuan ekpor produk perusahaan ini adalah Jepang , Taiwan , Rusia, dan Polandia. Dengan mengandalkan pasar ekspor tersebut, perusahaan ini tidak begitu terpengaruh oleh adanya krisis yang melanda Indonesia .

Perusahaan lainnya yang tergolong besar adalah PT Ayam Merak di DKI Jakarta dengan kapasitas produksi 4.800 ton/tahun dan PT Torabika Eka Semesta di Tangerang dengan kapasitas 4.320 ton/tahun. Selain itu terdapat 9 perusahaan dengan kapasitas antara 1.000-3.000 ton pertahun, 49 perusahaan dengan kapasitas 200-999 ton/tahun, dan 20 perusahaan dengan kapasitas 100-199 ton/tahun dan selebihnya sekitar 400 perusahaan kecil dengan kapasitas produksi dibawah 100 ton/tahun.

Pada saat ini, industri pengolahan kopi di Indonesia masih berorientasi pada pemenuhan konsumsi domestik dan hanya sebagian kecil (sekitar 1 %) yang berorientasi ekspor. Karena itu perlu ada pengembangan industri pengolahan kopi Indonesia untuk menghasilkan produk sesuai dengan permintaan pasar. Kopi hasil olahan yang umum di pasarkan di luar negeri adalah berupa kopi instan dan Liquid Coffee dengan beberapa jenis produk turunannya. Jenis produk tersebut belum begitu dikenal di Indonesia, kecuali kopi instan.

Tercatat ada beberapa produsen kopi yang memproduksi kopi instan antara lain PT. Aneka Coffee Industry dan PT. Torabika Eka Semesta. PT. Aneka Coffee Industry merupakan perusahaan patungan antara PT Prasidha Aneka Niaga Tbk, Itochu Corp, Ueshima Coffee Co., dan PT. Citra Buana Tunggal Perkasa. Pada tahun 1998, PT Aneka Coffee Industry telah memproduksi sekitar 800 ton kopi instan dan pada tahun 1999 sampai bulan Oktober telah memproduksi 1.400 ton kopi instan. Produksi kopi instan tersebut sebagian besar (sekitar 95%) diekspor ke berbagai negara terutama Jepang, Taiwan, Rusia dan Polandia (Anonim, 1999).

Pasar ekspor kopi hasil olahan masih terbuka, apalagi jika kita mampu mngembangkan strategi pemasaran hasil dengan menggaet mitra usaha dari negara-negara konsumen utama kopi dunia seperti yang dilakukan oleh PT Aneka Coffee Industry. Dengan menggaet investor dari Jepang sebagai mitra usahanya PT. Aneka Coffee Industry dapat memasarkan sekitar 30% produknya ke Jepang dan selebihnya 40% ke negara-negara Asia lainnya, dan 25% ke negara-negara Eropa Timur. Melalui pengembangan industri pengolahan kopi berorientasi ekspor melalui “ Aliansi Strategi” dengan para investor yang sudah berpengalaman diharapkan dapat mengubah citra Indonesia dari penghasil bahan baku kopi menjadi salah produsen kopi hasil olahan.


3.4. Perkembangan Harga Kopi Domestik

Besarnya ketergantungan biji kopi Indonesia pada pasar ekspor menyebabkan harga kopi domestik sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kopi internasional dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi, dimana nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika menyebabkan harga kopi domestik melambung tinggi, walaupun harga kopi di pasar internasional merosot tajam.

Pada tahun 1996 harga rata-rata kopi di berbagai pusat perdagangan domestik tercatat Rp 3.390/kg untuk kopi arabika asalan dan Rp 4.308/kg untuk kopi robusta. Harga biji kopi tersebut meningkat tajam sejak awal tahun 1997 dan mencapai puncak tertinggi pada bulan Agustus dan September 1998. Selanjutnya harga biji kopi domestik berangsur-angsur turun selaras dengan penurunan harga kopi dunia dan menguatnya nilai tukar rupiah. Perkembangan harga kopi robusta dan kopi arabika rata-rata di beberapa sentra produksi kopi dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Perkembahan harga kopi Domestik

Perkembangan lebih lanjut, harga kopi domestik makin terpuruk khususnya sepanjang tahun 2002, karena selain harga kopi dunia berada pada titik terendah selama lebih dari 30 tahun terakhir, nilai tukar rupiah terus menguat. Harga kopi robusta di tingkat petani sentra produksi kopi seperti Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung mencapai titik terendah dengan kisaran Rp 2.500-3.500/kg.

IV. MASA DEPAN PERKOPIAN INDONESIA

Krisis kopi dunia yang telah berlangsung lebih dari lima tahun, belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama kopi robusta menghadapi ujian berat, karena selain kondisi tanaman yang sudah tua dan mutu produksi yang rendah, kemerosotan harga kopi menyebabkan kebun makin tidak terpelihara dan produktivitas makin rendah. Di sisi lain, Vietnam sebagai negara pesaing memiliki kebun kopi yang relatif muda, produktivitas tinggi dan mendapat dukungan dari pemerintahnya untuk memenangkan persaingan pasar.

Kondisi perkopian di berbagai daerah yang dilaporkan media masa cukup memprihatinkan. Sebagian petani menebang dan membongkar kebun kopinya untuk diganti dengan tanaman lain dan kebanyakan kebun kopi dibiarkan terlantar. Petani kopi terpaksa mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya. Akibatnya produksi kopi Indonesia terus menurun dan daya saingnya makin lemah. Penurunan produksi kopi Indonesia selaras dengan data yang dikeluarkan ICO (Tabel 1).

Meskipun demikian, kopi Indonesia masih mempunyai prospek untuk bangkit dari keterpurukan karena dari sekian banyak berita buruk tentang komoditas kopi dan nasib petaninya, masih ada kabar yang memberikan harapan untuk menyelamatkan komoditas kopi dari kehancuran. Keberadaan kopi spesialti dan peluang untuk mengembangkan industri hilir kopi berorientasi ekspor dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangkitkan kembali peranan kopi Indonesia.

 

4.1. Kopi Spesialti Cukup Menjanjikan

Pada masa krisis kopi, pengalaman menunjukkan bahwa kopi spesialti di beberapa daerah tampil sebagai penyelamat karena penurunan harganya tidak setajam kopi robusta. Sebagai contoh petani kopi Sulawesi Selatan yang lebih dari 40% produksi kopinya adalah spesialti Toraja/Kalosi Coffee, nasibnya lebih baik dari petani kopi Lampung maupun Sumatera Selatan yang sebagian besar memproduksi kopi robusta. Kenyataan ini kembali mengingatkan kepada pelaku bisnis kopi maupun pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan kembali komposisi arabika-robusta yang dimiliki Indonesia.

Indonesia memiliki cukup banyak kopi spesialti yang sudah punya nama di pasar internasional seperti Java coffee, Gayo Mountain Coffee, Mandheling Coffee, dan Toraja/Kalosi Coffee. Disamping itu masih banyak yang berpotensi sebagai kopi spesialti seperti: Bali Coffee, Aceh Highland Coffee, Flores Coffee dan Balliem Haighland Coffee. Kopi spesialti tersebut adalah kopi jenis arabika. Kopi spesialti asal Indonesia makin populer mulai akhir tahun 1980-an terutama dikalangan masyarakat Amerika Serikat dan Eropa Barat. Pada tahun 1997, Indonesia menjadi pemasok kopi spesialti terbesar ketiga setelah Kolombia dan Meksiko dengan pangsa 10% dari total impor kopi spesialti Amerika Serikat yang besarnya mencapai 75 ribu ton. Pasar kopi spesialti dunia diperkirakan akan terus meningkat dengan laju 4,5%/tahun (Mawardi, 1999). Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk melakukan pengembangan kopi arabika spesialti dalam rangka penyesuaian komposisi produksi kopi arabika robusta dengan permintaan pasar dunia yang didominasi kopi arabika.

Di sisi lain, kopi robusta masih membutuhkan kerja keras untuk bisa bangkit dan perlu perubahan paradigma perkopian nasional untuk tetap dapat eksis dalam percaturan kopi dunia. Menurut Sumita (2002), pelaku bisnis kopi dituntut untuk memahami prilaku konsumen yang makin selektif dengan kecenderungan peningkatan permintaan kopi spesial. Produsen kopi harus merubah paradigma dari memproduksi kopi sebanyak-banyaknya dengan tingkat efisiensi seadanya menjadi memproduksi kopi secara efisien, spesial dan berkualitas tinggi. Kopi spesial tidak hanya dimonopoli jenis arabika, tetapi kopi robustapun masih mempunyai tempat asal pengolahan pasca panennya diperbaiki untuk menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi seperti petik merah, pengolahan basah dan pengeringan yang baik.

 

4.2. Perlu Upaya Peningkatan Konsumsi Kopi Domestik

Untuk membangkitkan kembali peran kopi, selain memperbaiki mutu juga perlu mempercepat pengembangan industri hilir kopi dan promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik. Industri kopi Indonesia seperti jalan ditempat, bahkan produksi hasil olahan kopi saat ini diperkirakan masih dibawah produksi tahun 1996 yang mencapai 101 ribu ton. Hal ini terjadi karena industri kopi Indonesia umumnya hanya ditujukan untuk konsumsi domestik dan daya serap pasar domestik masih lemah, bahkan terus menurun akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Konsumsi kopi masyarakat Indonesia tahun 1998 hanya sebesar 0,45kg/kapita/tahun atau menurun dibanding dua tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 0,51 kg dan 0,49 kg/kapita/tahun.

Tingkat konsumsi kopi per kapita masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara pengimpor seperti masyarakat Eropa yang rata-rata mengkonsumsi kopi diatas 5,6 kg/kapita/tahun dan Amerika Serikat diatas 4 kg/kapita/tahun (International Coffee Organization, 2004). Karena itu konsumsi kopi domestik sangat berpeluang untuk ditingkatkan. Sementara itu pengembangan pasar ekspor kopi hasil olahan tampaknya masih menghadapi kendala yang cukup berat kecuali kopi instan.

Industri hilir kopi yang ada saat ini sebagian besar adalah penghasil kopi bubuk untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, karena kopi bubuk yang dihasilkan sangat berbeda dengan kopi bubuk yang dikonsumsi oleh orang Eropa maupun Amerika. Kopi bubuk di Eropa dan Amerika disajikan dengan menggunakan coffee maker dan setiap roaster mengeluarkan hasil blending masing-masing menurut resep mereka yang sangat dirahasiakan. Karena itu untuk memproduksi kopi bubuk sesuai dengan tuntutan pasar manca negara diperlukan transfer pengetahuan dan teknologi. Hal ini membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkannya, kecuali kopi instan (Soedargo, 1999).

Industri kopi instan berpeluang besar untuk dikembangkan guna menembus pasar internasional. Namun dalam pengembangannya diperlukan biaya investasi yang cukup besar dan menuntut terbentuknya jaringan pasar yang luas dan kuat untuk menjamin kelayakan investasi. Oleh karena itu untuk mempercepat pengembangan industri hilir kopi berorientasi ekspor seyogyanya melalui sistem kerjasama ( aliansi strategis ) dengan pihak asing yang menguasai pasar kopi hasil olahan seperti yang dilakukan oleh PT. Aneka Coffee Industry.

Pengembangan industri hilir kopi dan promosi untuk meningkatkan konsumsi kopi domestik mempunyai arti yang sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan biji kopi robusta ke pasar internasional, sekaligus dapat meraih nilai tambah yang lebih besar. Disadari bahwa tantangan yang akan dihadapi dalam upaya pengembangan industri hilir kopi sangat berat, khususnya yang menyangkut teknologi dan pemasaran hasil. Namun apabila upaya tersebut tidak dilakukan, maka Indonesia tidak akan berubah sebagai negara produsen bahan baku sejak berabad-abad yang lalu.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian khususnya bagi pengambil kebijakan adalah meniru langkah yang dijalankan pemerintah Vietnam untuk membantu petani kopinya. Pemerintah Vietnam berupaya membantu petani kopi dengan berbagai kebijakan antara lain: menyediakan kredit lunak dengan bunga 6-7,2%/tahun, memberikan dana konpensasi pengganti investasi bagi petani yang mengkonversi kopi robusta ke kopi arabika, membebaskan petani kopi dari pajak dan cicilan kredit pada tahun 2000-2003, membebaskan eksportir kopi dari pajak dan pungutan hingga tahun 2004 dan mengizinkan eksportir memasarkan kopi langsung ke pembeli di luar negeri tanpa pungutan di pelabuhan. Pembebasan pajak dan pungutan tersebut memungkinkan petani Vietnam menerima harga yang lebih baik dibandingkan petani kopi negara lainnya (Herman, 2002).

Indonesia sebagai negara pesaing Vietnam memiliki kebun tidak lebih baik dari Vietnam karena tanaman kopi umumnya berumur tua, kebun tidak terawat dan produktivitasnya sangat rendah. Produktivitas kebun kopi petani Indonesia kurang dari seperlima produktivitas kebun kopi petani Vietnam yang besarnya mencapai 3-4 ton/ha. Oleh karena itu para pengambil kebijakan, khusus pemerintah daerah di sentra produksi kopi seyogyanya mengambil langkah-langkah yang lebih intensif untuk membantu petani kopinya. Berbagai langkah atau kebijakan yang dapat diambil antara lain: memberikan bantuan kepada petani untuk merehabilitasi kebun kopi, menyediakan dana kredit berbunga rendah dan menghapuskan segala bentuk pungutan, baik pajak maupun retribusi bagi pelaku bisnis kopi. Bantuan pemerintah tersebut sangat dibutuhkan petani kopi Indonesia.

 

V. PENUTUP

Sebagai penutup tulisan ini dapat disarikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Pangsa pasar kopi Indonesia di pasar dunia cenderung terus menurun, karena kondisi tanaman kopi umumnya sudah tua, tidak terawat dan produktivitas terus menurun serta mutu produk umumnya rendah.
  • Di masa yang akan datang persaingan pasar kopi dunia makin ketat, sehingga apabila tidak diantisipasi dengan baik maka Indonesia akan kalah bersaing dengan Vietnam yang memiliki kebun lebih baik dan pemerintahnya sangat serius membantu petani kopinya.
  • Pelaku bisnis kopi Indonesia perlu bekerja keras menyatukan langkah perbaikan dan para pengambil kebijakan khususnya pemerintah daerah di sentra produksi kopi seyogyanya memberikan bantuan dana dan fasilitas yang dibutuhkan petani, sekaligus berupaya menghapuskan berbagai pungutan retribusi yang membebani petani kopi.
  • Pengembangan kopi spesialti dan industri pengolahan kopi merupakan langkah stategis untuk mempertahankan kesinambungan agribisnis kopi Indonesia, sekaligus menghapuskan citra bahwa Indonesia hanya bisa berperan sebagai penghasil bahan baku.

 


Daftar Pustaka

Anonim, 1999. Mengeruk Devisa Lebih Besar Lewat Kopi Instan. Warta AEKI No. 88:18-19.

Capricorn Indonesia Consult, 2000. Powdered Coffee Industry and Market in Indonesia . Indocommercial No. 246:3-22.

Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004. Profil Pengolahan dan Pemasaran Kopi. Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Jakarta . 65p.

Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004. Statistik Perkebunan Indonesia, Kopi 2001-2003. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Jakarta. 87p.

Herman, 2002. Perkembangan Agribisnis Kopi di Vietnam, Tinjauan Komoditas, 3(1):23-29.

International Coffee Organization. 2003. Statistic on Coffee. International Coffee Organization. http://www.ico.org.

International Coffee Organization. 2003a. Coffee Market Report. Juni 2003. http://www.ico.org . 9p.

International Coffee Organization. 2004. Coffee Market Report. Agustus 2004. http://www.ico.org . 9p.

Kopi Indonesia, 2004. Vietnam Bakal Jadi Produsen Utama Arabika. Kopi Indonesia Edisi 120/Th XI/Mei-Juni 2004:13.

Mawardi, S., 1999. Kopi Spesialti Sebagai Alternatif Pengembangan Kopi Indonesia. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Vol 15(1):1-21.

Siswoputranto, P.S., 1993. Kopi Internasional dan Domestik. Kanisius, Jakarta.

Soedargo, O., 1999. Pemasaran Kopi Indonesia Menghadapi Sistem Perdagangan Bebas. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Vol 15(1):41-48.

Sumita, 2002. Industri Kopi Perlu Paradigma Baru. Kopi Indonesia Edisi 110/Th IX/September-Oktober 2002, p:18-19.

 

   Kunjungan ke-3660,
Sejak: 20 Oktober 2004
 
   Home | Penelitian | Tenaga Ahli | Patent | Jasa & Konsultasi | Publikasi | Produk | Site Map | Hubungi Kami | Member Login