| PREDIKSI ANOMALI IKLIM EL NINO/LA NINA DI INDONESIA DAN ANTISIPASINYA PADA TANAMAN PERKEBUNAN |
| Update: Bulan Juni 2011 |
Tim Peneliti Lintas Puslit, Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim
PT. Riset Perkebunan Nusantara
Jl. Salak No. 1 A, Bogor 16151, Indonesia
| I. Rangkuman prediksi anomali iklim LaNina/El Nino : |
| (Sumber data : Bureau Meteorology of Australia) |
Indikator iklim pada wilayah equator Lautan Pasifik saat ini mendekati normal. Anomali SST dan SOI semuanya masuk kategori netral.
Model iklim memprediksi akan terus terjadi pemanasan di lautan tropis Pasifik. La Nina yang mendominasi 9-12 bulan yang lalu diprediksi telah berakhir dan terjadi transisi dari La Nina menjadi kondisi netral sampai akhir tahun
Indikator anomali iklim
Anomali SST (oC) pada bulan Januari – April 2011 |
Index |
Januari |
Februari |
Maret |
April |
Mei |
NINO3 |
-1.1 |
-0.5 |
-0.4 |
0.0 |
0.1 |
NINO3.4 |
-1.5 |
-1.0 |
-0.6 |
-0.5 |
-0.2 |
NINO4 |
-1.3 |
-0.9 |
-0.5 |
-0.5 |
-0.3 |
|
Note: qSST (Sea Surface temperature) |
qSOI (Southern Oscillation Index) |
Januari |
Februari |
Maret |
April |
Mei |
+19.9 |
+22.3 |
+21.4 |
+ 25.1 |
+2.1 |
|
II. Apa itu El Nino/La Nina?
El Nino terkait dengan terjadinya peningkatan suhu di lautan tropis Pasifik Tengah dan Timur dan menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia khususnya wilayah di sebelah selatan katulistiwa. Kejadian sebaliknya adalah La Nina yang terkait dengan menurunnya suhu di lautan tropis Pasifik Tengah dan Timur dan menyebabkan peningkatan curah hujan. El Nino/La Nina biasanya berdampak penurunan/peningkatan curah hujan pada periode Mei-November.
Anomali SST (Sea Surface Temperature) dan SOI (Southern Oscillation Index) merupakan indeks yang menunjukkan perkembangan intensitas El Nino dan La Nina di lautan Pasifik. Anomali SST dikategorikan ”hangat” (El Nino) bila nilainya >0.8 oC dan sebaliknya dikategorikan sebagai ”sejuk” (La Nina) bila <-0.8oC, dan nilai antara -0.8 oC sampai +0.8 oC dikategorikan sebagai netral.
Nilai SOI yang kontinu diatas +8 mengindikasikan fenomena La Nina, dan nilai SOI yang kontinu lebih kecil dari -8 mengindikasikan fenomena El Nino. SOI dihitung berdasarkan perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin. Contoh kejadian El Nino dan La Nina selama 1994-2007 disajikan pada gambar berikut:

III. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN KARET:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Gangguan hujan pada kegiatan penyadapan karet dapat dikurangi dengan menggunakan rainguard.
- Penjadwalan kembali penanaman karet di lapangan. Penanaman bisa lebih awal karena curah hujan yang lebih tinggi
- Gangguan penyakit gugur daun karena kondisi yang lembab
- Antisipasi berkurangnya produksi biji karet untuk pembuatan bibit karet
- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
- Perlu konservasi air dengan mulsa di pembibitan dan rorak pada tanaman TBM
- Perlu satgas pencegahan kebakaran kebun pada saat El Nino yang ekstrim
- Perubahan pola sebaran produksi bulanan karet dengan prosentase produksi pada semester II untuk kebun karet di bagian selatan katulistiwa lebih kecil dari kondisi normal.
- Penanaman karet di lapangan bisa tertunda karena kemarau panjang.
IV. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Indikasi La Nina berupa hujan ekstrim terlalu banyak bagi kelapa sawit adalah > 3000 mm/tahun, dan/atau > 450 mm/bulan, dan/atau 150 mm/10 hari.
- Hujan terlalu banyak (sore, malam dan pagi hari) umumnya tidak menimbulkan masalah serius bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit, kecuali banyak hujan pada siang hari akan mengurangi penyinaran efektif sehingga mengganggu fotosintesis maupun produktivitas tanaman.
- Hujan terlalu banyak juga dapat mengakibatkan pencucian hara, penggenangan air, mengganggu kegiatan panen dan pengangkutan tandan buah segar (TBS) dari kebun ke pabrik karena jalan rawan kerusakan.
- Antisipasi yang perlu untuk hujan ekstrim meliputi (a) penemuan dan penggunaan varietas yang toleran, (b) melaksanakan penunasan standar, (c) optimalisasi penutup tanah kacangan untuk mencegah erosi, (d) optimalisasi konservasi air, (e) segera menyelesaikan pemupukan pada awal musim hujan, (f) melaksanakan EWS hama & penyakit, (g) mengotimalkan pemeliharaan jalan lebih dengan mengefektifkan regu perawatan jalan, dan (h) mengendalikan rotasi panen.
- Anomali iklim Anomali El Nino:
- Indikasi El Nino berupa kekeringan bagi kelapa sawit adalah terdapatnya salah satu dari parameter berikut curah hujan < 1250 mm/tahun, dan/atau defisit air > 200 mm/tahun, dan/atau bulan kering (hujan < 60 mm/bulan) > 3 bulan, dan/atau jumlah hari terpanjang tidak hujan > 20 hari.
- Kekeringan umumnya akan menimbulkan masalah serius bagi kelapa sawit karena mengganggu pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga-buah dan produktivitas tandan buah maupun rendemen dapat menjadi lebih rendah.
- Antisipasi yang perlu dilakukan untuk menghadapi masalah/sebelum kekeringan meliputi (a) penggunaan varietas tahan kekeringan, (b) kastrasi TBM segera diselesaikan sebelum kekeringan, (c) pemupukan terutama K segera diselesaikan, (d) jumlah pelepah dipertahankan standar, (e) penyiangan gulma ditunda, (f) aplikasi tandan kosong (bahan organik) 25 ton/ha/aplikasi di gawangan TM atau 150 kg/pohon di piringan TBM, (g) memelihara kolam penampung air maupun embung alami, (h) penyusunan pelepah di gawangan untuk bahan organik dan mengurangi evaporasi, (i) optimalisasi konservasi air, pembuntuan parit, rorak, biopori dll, serta (j) pembangunan menara pengawas kebakaran utamanya pada TBM.
V. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN KOPI:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Pembuatan parit-parit drainase untuk mempercepat pengaturan air
Parit-parit drainase dibuat cukup dalam dan diprioritaskan pada areal-areal kebun yang drainasenya kurang baik agar air genangan tidak lebih dari 6 jam. Diupayakan sampai kedalaman 20 cm dari permukaan tanah tidak jenuh air dengan mengatur ukuran dalam dalam lebar parit drainase.
- Pemangkasan tanaman penaung (50 – 100%)
Tanaman penaung dipangkas untuk memberikan cahaya yang cukup memasuki tajuk tanaman pokok agar kelembaban berkurang, sehingga perkembangan hama penyakit dapat ditekan. Pengurangan penaung juga akan mempercepat evaporasi sehingga kebun tidak terlalu lembab. Pemangkasan 50% populasi penaung dilakukan pada awal musim hujan dan 50% sisanya pada pertengahan musim hujan.
- Pemangkasan tanaman pokok kopi
Pemangkasan tanaman pokok kopi dilakukan untuk mengurangi kelembaban kebun dan menyediakan cabang-cabang buah pada tahun-tahun berikutnya agar stabilitas produksi tahunan terjaga.
- Pengendalian Bubuk Buah Kopi secara manual melalui petik bubuk, lelesan buah dan racutan buah. Semua buah hasil petik bubuk, lelesan dan racutan direndam dalam air mendidih selama 5 menit untuk mematikan serangganya.
- Pengendalian gulma secara kimiawi/manual untuk menekan kompetisi dengan tanaman pokok.
- Penjadwalan penanaman baru dan penyulaman dengan masa ketersediaan air yang panjang
- Meningkatkan frekuensi pemupukan anorganik tanpa menambah dosis tahunan. Pemberian pupuk anorganik ditingkatkan dari 2 kali setahun menjadi 3 – 4 kali setahun.
- Penyiapan fasilitas pengeringan matahari (penutup terpal) dan/atau pengering mekanis karena berkurangnya lama penyinaran untuk mencegah menurunnya mutu biji.
- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
- Pembuatan rorak dan pengisian mulsa pada rorak
Rorak dibuat dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 30 cm dan dalam 60 cm disamping tanaman pokok pada jarak 70 cm. Rorak diisi dengan bahan organik hasil pangkasan ataupun gulma hasil kesrik dan selanjutnya ditimbun tanah 5-10 cm. Jika tersedia pupuk kandang, rorak sebaiknya juga diisi dengan pupuk kandang. Jumlah rorak adalah 50% dari populasi tanaman.
- Pembuatan biopori.
Biopori dibuat dengan bor berdiameter 7,5 cm sampai kedalaman 150 cm dengan jumlah 100% dari populasi tanaman dan selanjutnya diisi dengan kompos atau pupuk kandang sampai penuh.
- Pemeliharaan penaung menjadi lebih gelap dan penambahan populasi penaung pada areal yang penaungnya banyak mati.
Untuk mengurangi sengatan cahaya matahari, menjelang musim kemarau penaung harus dibiarkan agak rimbun, Pada areal yang penaungnya mati dilakukan penyulaman pada awal musim hujan.
- Pemberian mulsa
- Pemberian mulsa dilakukan pada seluruh areal kebun jika memungkinkan. Tebal mulsa 10-15 cm. Bahan mulsa yang dipakai dapat berupa jerami, rumput atau daun-daun hasil pemangkasan tanaman pokok maupun tanaman penaungnya.
- Pengendalian gulma secara kimiawi/manual menjelang musim kemarau
- Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dengan dikesrik atau secara kimiawi menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif glifosat (Round Up, Sun Up dll). Jika gulma dominan merupakan gulma berdaun lebar, dapat disemprot herbi kontak (Gramoxone).
- Aplikasi pupuk (anorganik)
- Untuk meningkatkan ketahanan tanaman kopi terhadap cekaman kekeringan selama musim kemarau dapat dilakukan panambahan dosis pupuk N sebanyak 25% yang diaplikasikan menjelang musim kemarau.
VI. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN KAKAO:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Pembuatan parit-parit drainase untuk mempercepat pengaturan air
Parit-parit drainase dibuat cukup dalam agar air genangan dapat cepat keluar dari kebun tidak lebih dari 6 jam. Diupayakan sampai kedalaman 20 cm dari permukaan tanah tidak jenuh air dengan mengatur ukuran dalam-lebar parit drainase.
- Pemangkasan tanaman penaung (50 – 100%)
Tanaman penaung dipangkas untuk memberikan cahaya yang cukup memasuki tajuk tanaman kakao agar kelembaban berkurang, sehingga perkembangan hama penyakit dapat ditekan. Pengurangan penaung juga akan mempercepat evaporasi sehingga kebun tidak terlalu lembab. Pemangkasan 50% populasi penaung dilakukan pada awal musim hujan dan 50% sisanya pada pertengahan musim hujan.
- Pemangkasan tanaman pokok kakao
Pemangkasan tanaman pokok kakao dilakukan untuk menstimulir pembungaan, mengurangi kelembaban kebun dan menekan perkembangan hama-penyakit. Pemangkasan dilakukan pada cabang-cabang sakit, cabang kurus, cabang balik dan cabang-cabang yang saling bertumpukan (overlaping).
- Penyemprotan fungisida untuk mencegah Busuk Buah
Pada saat musim hujan berkepanjangan, kelembaban kebun cenderung tinggi dan seranga penyakit busuk buah (BB) sangat hebat. Selain pengendalian kelembaban dengan kultur teknis (pemangkasan), maka perlindungan buah melalui penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif tembaga (Copper Sandoz, Cupravit, Vitigran Blue, Cobox dll.,) dengan konsentrasi formulasi 0,3% selang waktu 2 minggu akan mengurangi intensitas serangan penyakit BB.
- Penyemprotan insektisida untuk pengendalian helopeltis
Pengendalian helopeltis dapat dilakukan Sistem Pengendalian Dini (SPD). Jika serangan lebih dari 15% dilakukan penyemprotan menyeluruh menggunakan insektisida Decis, Kiltop, Matador dll.
- Pengendalian gulma secara kimiawi/manual
Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dengan dikesrik atau secara kimiawi menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif glifosat (Round Up, Sun Up dll). Jika gulma dominan merupakan gulma berdaun lebar, dapat disemprot herbi kontak (Gramoxone).
- Aplikasi pupuk (anorganik)
Selama musim hujan berkepanjangan, kadar air tanah selalu tersedia cukup sepanjang tahun, sehingga pemupukan dapat dilakukan lebih sering atau menambah frekuensi aplikasi. Aplikasi pupuk yang biasanya dilakukan 2 kali setahun masing-masing dengan dosis 50% dari sosis setahun, sebaiknya diubah menjadi 4 kali setahun setiap aplikasi dengan dosis 25% dari dosis setahun. Untuk memanfaatkan kondisi air tanah yang selalu mencukupi tersebut, dapat dilakukan penambahan dosis pupuk 25% dari dosis tahunan.

- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
- Pembuatan rorak dan pengisian mulsa pada rorak
Rorak dibuat dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 30 cm dan dalam 60 cm disamping tanaman pokok pada jarak 70 cm. Rorak diisi dengan bahan organik hasil pangkasan ataupun gulma hasil kesrik dan selanjutnya ditimbun tanah 5-10 cm. Jika tersedia pupuk kandang, rorak sebaiknya juga diisi dengan pupuk kandang. Jumlah rorak adalah 50% dari populasi tanaman.
- Pembuatan biopori.
Biopori dibuat dengan bor berdiameter 7,5 cm sampai kedalaman 150 cm dengan jumlah 100% dari populasi tanaman dan selanjutnya diisi dengan kompos atau pupuk kandang sampai penuh.
- Pemeliharaan penaung menjadi lebih gelap dan penambahan populasi penaung pada areal yang penaungnya banyak mati.
Untuk mengurangi sengatan cahaya matahari, menjelang musim kemarau penaung harus dibiarkan agak rimbun, Pada areal yang penaungnya mati dilakukan penyulaman pada awal musim hujan.
- Pemberian mulsa
- Pemberian mulsa dilakukan pada seluruh areal kebun jika memungkinkan. Tebal mulsa 10-15 cm. Bahan mulsa yang dipakai dapat berupa jerami, rumput atau daun-daun hasil pemangkasan tanaman pokok maupun tanaman penaungnya.
- Pengendalian gulma secara kimiawi/manual menjelang musim kemarau
- Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dengan dikesrik atau secara kimiawi menggunakan herbisida sistemik berbahan aktif glifosat (Round Up, Sun Up dll). Jika gulma dominan merupakan gulma berdaun lebar, dapat disemprot herbi kontak (Gramoxone).
- Aplikasi pupuk anorganik dan pupuk organik
- Untuk meningkatkan ketahanan tanaman kakao terhadap cekaman kekeringan selama musim kemarau dapat dilakukan panambahan dosis pupuk anorgtanik sebanyak 25% dosis tahunan yang diaplikasikan menjelang musim kemarau. Selain itu juga perlu diberikan pupuk organik kompos/pupuk kandang dengan dosis 20 kg/pohon.
VII. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN TEBU:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Kebun Tebu Giling (KTG) Musim Tanam 2010/2011
- Optimalkan penggunaan zat pemacu kemasakan (cane ripener) sampai sekitar 6 periode giling awal atau lihat kondisi cuaca untuk meningkatkan kualitas tebu.
- Prioritaskan penebangan pada kebun-kebun yang menderita cekaman air untuk mencegah kerusakan dan penurunan kualitas bobot batang, khususnya untuk tebu yang berbunga dan mengalami masak prematur.
- Di sektor pabrik, untuk mengantisipasi terjadinya fenomena pH nira tebu yang rendah perlu sesegera mungkin dilakukan upaya-upaya untuk mengatasinya dengan meningkatkan pH nira mentah guna mencegah terjadinya inversi gula dan kerusakan nira lebih lanjut guna menekan kehilangan dalam proses
- Kebun Tebu Giling (KTG) Musim Tanam 2011/2012
Pemeliharaan dan perbaikan sistem jejaring / saluran drainase agar dapat berfungsi optimal.
- Menanam tebu di punggung atau bibir juringan (Sistem Braban) untuk mengatasi bibit terendam air.
- Sanitasi kebun perlu segera diperbaiki melalui pengendalian gulma merambat dan klentek untuk mengendalikan hama penggerek (batang dan pucuk), tikus dan penyakit karena jamur.
- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
Untuk Kebun Tebu Giling (KTG) Musim Tanam 2011/2012
- Menggeser masa tanam tebu mendekati musim hujan, terutama untuk lahan tegalan.
- Aplikasi pemupukan dilakukan kira-kira 2 minggu sampai 1 bulan menjelang turun hujan (Sistem Nggasang).
- Membuat tampungan air (tandon) di kebun untuk penyiraman tebu.
- Sanitasi kebun perlu segera diperbaiki melalui pengendalian gulma merambat dan klentek untuk mengendalikan hama penggerek (batang dan pucuk) dan tikus.
VIII. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN TEH:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Gangguan hujan di perkebunan teh akan menyebabkan serangan penyakit cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur Exobasidium vexans; khususnya klon teh TRI 2024 akan menderita serangan berat penyakit cacar daun teh, bahkan dapat tidak panen dan akan merusak bentuk frame perdu teh. Untuk mengurangi kerugian akibat serangan penyakit cacar daun teh dapat dilakukan penyemprotan fungisida sistemik pada awal musim hujan, selanjutnya dapat dilakukan pengendalian cacar dengan fungisida Cu.
- Penjadwalan pemangkasan pada areal endemik penyakit cacar daun teh, agar pada saat tumbuh tunas baru bukan pada musim hujan, sehingga pada saat musim hujan atau anomali iklim La Nina percabangan sudah kuat.
- Pengurangan ranting-ranting pohon pelindung baik pohon pelindung sementara pada TBM maupun pohon pelindung tetap pada TM, agar kelembapan mikro tidak terlalu tinggi, sehingga dapat mengurangi serangan penyakit cacar daun teh.
- Program jangka panjang dengan mengganti klon teh yang peka terhadap serangan penyakit cacar daun teh dengan klon teh seri GMB yang tahan terhadap serangan penyakit cacar daun teh dengan potensi produksi > 4 ton teh kering/ha/th.
- Jangan biarkan air mencari jalannya sendiri, karena dapat menyebabkan erosi tanah yang tidak terkendali dan longsor. Bangunlah jalan air sebaik mungkin, sehingga debit air yang tinggi tidak mernyebabkan erosi, dan atau longsor.
- Usahakan tidak ada permukaan tanah yang terbuka, sehingga tenaga kinetis air hujan dapat diredam, dan dapat memperkecil terjadinya erosi tanah.
- Pembuatan dam pengereman air.
- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
- Pemberian mulsa minimal 5 ton/ha dan penggunaan pohon pelindung sementara (Tephrosia, Crotalaria, Sesbania, Mogania) di TBM dapat menyelamatkan teh muda (TBM) dari kematian.
- Penggunaan / penanaman dan pengelolaan pohon pelindung tetap (Grevilea = Silver oak (Grevilea robusta), Mindi (Mellia azedarach), Nimba (Azadirachta indica), Suren (Toona sureni), Lamtoro (Leucaena leucocephala), Malakatika, Jenjen (Albazia chinensis), Kayu bogor (Meisopsis mani’i), Sagawe (Abus precatorium) dan Glirisida (Gliricidia maculata), pada TM.
- Pembuatan rorak dan pengisiannya dengan bahan organik.
- Pemupukan lengkap (N, P, K, Mg) dan ditambah K 10 % diatas rekomendasi dan pemberian pupuk organik (5-10 ton/ha) dengan cara dibenam baik pada TBM ataupun TM menjelang musim kemarau.
- Pemangkasan penyelamatan pada areal TM yang menjelang layu permanen dapat menghindari kematian perdu teh.
- Perbaikan lingkungan perkebunan teh dengan cara peningkatan keanekaragaman hayati dengan penanaman pohon tepi jalan, pembuatan hutan koloni, penanaman pohon pelindung sementara pada TBM, penanaman pohon pelindung tetap pada TM dapat meredam anomali El Nino sehingga penurunan produksi dapat diminimalkan.
- Pemangkasan dengan sistem jambul.
- Pemberian irigasi pada TM akan menghindari kematian perdu teh dan meminimalkan penurunan produksi. Untuk kebun teh yang tidak mempunyai sumber air sebaiknya dapat memanen air hujan pada waktu musum hujan, untuk digunakan pada musim kemarau.
IX. PETUNJUK ANTISIPASI La Nina/ El Nino PADA PERKEBUNAN KINA:
- Antisipasi Anomali iklim La Nina:
- Pembuatan parit-parit drainase untuk mencegah adanya genangan air, terutama pad areal cekungan. Kedalaman parit drainase tergantung kondisi lingkungan, pada areal yang drainasenya kurang baik, kedalaman parit lebih dari 25 cm.
- Jangan biarkan air mencari jalannya sendiri, karena dapat menyebabkan erosi tanah yang tidak terkendali dan longsor. Bangunlah jalan air sebaik mungkin, sehingga debit air yang tinggi tidak mernyebabkan erosi, dan atau longsor.
- Usahakan tidak ada permukaan tanah yang terbuka, sehingga tenaga kinetis air hujan dapat diredam, dan dapat memperkecil terjadinya erosi tanah.
- Pembuatan dam pengereman air.
- Antisipasi Anomali iklim El Nino:
- Pemberian mulsa minimal 5 ton/ha pada tanaman kina muda.
- Pembuatan rorak dan pengisiannya dengan bahan organik.
- Pemupukan lengkap (N, P, K, Mg) dan ditambah K 10 % diatas rekomendasi dan pemberian pupuk organik (5-10 ton/ha) dengan cara dibenam baik pada TBM ataupun TM menjelang musim kemarau.