Penelitian Bioteknologi


  1. Hasil Kultur Bibit Kelapa Kopyor
  2. Inokulum Mikroba untuk Peningkatan Efisiensi Pemupukan
  3. Kompos Tandan Kosong Sawit
  4. Pengendalian Penyakit Ganoderma sp. dan Jamur Akar Putih (JAP)
  5. Biofertilizer untuk Meningkatkan Aktivitas Mikroba dalam Tanah
  6. Bioinsektisida ’’Meteor’’ Untuk Mengendalikan Hama Penggerek Pangkal Batang Tebu (Boktor)
  7. Paket Teknologi Pembuatan Gula dari Tanaman Sorgum Manis

Hasil Kultur Bibit Kelapa Kopyor
Di Indonesia terdapat sekitar 100 jenis kelapa, diantaranya terdapat satu jenis yang berdaging buah lunak dan tidak melekat secara sempurna pada tempurungnya, rasanya enak dan harganya mahal. Jenis ini dikenal dengan nama kelapa kopyor. Produktivitas buah kopyor per pohon setiap tahun sangat rendah yaitu antara 2,1-17,5 persen dari jumlah produksi kelapa. Telah banyak usaha untuk me-ningkatkan produksi kopyor antara lain dengan pembuahan sendiri dan persilangan antar varietas, namun hanya berhasil meningkatkan produksi men-jadi 21,6 persen.
Cara lain untuk meningkatkan produksi buah kopyor adalah menggunaan teknik kultur embrio. Peneliti-an perakitan pohon kelapa kopyor dengan kultur embrio sudah dimulai sejak tahun 1982. Saat ini kelapa kopyor hasil kultur embrio tersebut telah ditanam di Kebun Percobaan Ciomas sebanyak 80 pohon, empat di-antaranya berumur delapan tahun lebih dan sudah menghasilkan buah dengan persentase kopyor mencapai 92 persen. Hasil perakitan ini di-patenkan di Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek, Departemen Kehakiman dengan judul “Teknologi Perakitan Bibit Kelapa Kopyor dengan Kultur Embrio”. (Paten No.0001 957 tertanggal 1 September 1997).
Kembali ke atas

Inokulum Mikroba untuk Peningkatan Efisiensi Pemupukan
Salah satu produk hasil peneliti-an bioteknologi adalah Rhiphosan. (Rhizobium and Phosphate). Inoculant merupakan inokulan mikroba berbahan aktif Bradyrhizobium japonicum dan Aeromonas punctata dengan kemampu-an menambat N bebas dari udara dan melarutkan senyawa P dan K sukar larut dalam tanah. Produk ini diguna-kan sebagai pendorong terbentuknya bintil akar pada tanaman kacang-kacangan, sehingga pupuk N tidak di-perlukan dan dosis pupuk P dan K dapat dikurangi sebanyak masing-masing 50 persen. Hasil pengujian di rumah kaca menunjukkan bahwa produk ini sangat efektif dalam men-jamin pertumbuhan tanaman penutup tanah kacang di lapangan. Pe-masyarakatan produk ini telah di-lakukan melalui PTP Nusantara VIII.
Produk ini juga berpotensi untuk tanaman kedelai dan pemasyarakatan oleh Swasta (PT. Kharisma-Jakarta) di Lampung (150 Ha) berhasil me-ningkatkan hasil sebanyak 600 kg/Ha /musim. Saat ini, pemasyarakatan yang lebih luas sedang dilaksanakan oleh PT. Hati Prima Corp. di lima kabupaten Jawa Timur
Kembali ke atas

Kompos Tandan Kosong Sawit
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) adalah satu limbah padat organik dalam produksi minyak sawit. Selama ini bahan ini dibakar dalam incinerator dan abunya dimanfaatkan sebagai sumber pupuk kalium. Pem-bakaran akan menimbulkan polusi udara dan mencemarkan lingkungan, sehingga hal ini bertentangan dengan program langit biru yang sudah dicanangkan oleh pemerintah. Untuk mengatasi masalah ini telah dilakukan penelitian sejak tahun 1997 dan berhasil diproduksi aktivator pengomposan yang berbahan aktif Trichoderma pseudokoningii dan Cytophaga sp. yang dirakit secara khusus. Produk ini dinamakan OrgaDec singkatan dari Organic Decomposer (Pendaftaran Paten # S-980045). Hasil pengujian di lapang menunjukkan bahwa penggunaan Orga-Dec secara ekonomis mampu mem-percepat produksi kompos TKKS menjadi hanya 14 hari; sisa pangkasan teh 30 hari; dan kulit buah kakao 14 hari. Mutu kompos yang dihasilkan cukup memadai sebagai pupuk organik. Aplikasi kompos bioaktif ini selama tiga tahun akan mampu meningkatkan daya dukung tanah sehingga dosis pupuk konvensional dapat dihemat hingga 50 persen. Penyebarluasan produk ini telah dilakukan ke PTP Nusantara III, VI, VIII, XII dan XIII
Kembali ke atas

Pengendalian Penyakit Ganoderma sp. dan Jamur Akar Putih (JAP)
Bahan kimia yang banyak digunakan dalam bidang pertanian dapat membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungannya. Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi bahan makanan yang bergizi tinggi dan tidak tercemar bahan kimia juga se-makin tinggi. Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut penggunaan bahan kimia terutama pestisida harus ditekan serendah mungkin. Pengembangan produk biofungisida Trichoderma se-bagai salah satu alternatif yang men-janjikan telah berhasil dilaksanakan. Setelah melakukan penelitian kurang lebih 4 tahun, telah dapat diproduksi Greemi-G. Greemi-G adalah kependekan dari Green microbes-Granules, produk biofungisida berbahan aktif Trichoderma harzianum. Fungisida hayati ini telah teruji efektivitas baik di laboratorium maupun di lapang dalam kaitannya dengan pengendalian penyakit busuk pangkal batang akibat serangan Ganoderma.
Selain itu Greemi-G terbukti efektif untuk pengendalian penyakit jamur akar putih pada karet dan busuk buah pada kakao. Pemasyarakatan produk ini telah dilaksanakan melalui PTP Nusantara I, III, dan VIII.
Kembali ke atas

Biofertilizer untuk Meningkatkan Aktivitas Mikroba dalam Tanah
Pupuk kimia merupakan ke-butuhan utama dalam produksi per-tanian, namun aplikasinya menimbul-kan masalah polusi lingkungan dan mahalnya biaya pemupukan. Untuk mengatasi masalah tersebut telah di-lakukan penelitian sejak tahun 1994 dan telah berhasil dirakit sebuah produk yang dinamakan “Emas”. Emas yang merupakan kependekan dari Enchancing Microbial Activities in the Soil (Patent ID 0 000 2065 tanggal 25 Februari 1998) adalah biofertilizer yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemupuk-an melalui penurunan dosis pupuk konvensional yang dikombinasikan dengan biofertilizer. Produk ini ber-bahan aktif bakteri penambat N tanpa bersimbiosis, mikroba pelarut fosfat, dan mikroba pemantap agregat yang diformulasikan dalam bahan pembawa secara khusus berbentuk granul. Hasil pengujian di rumah kaca dan di lapang-an menunjukkan bahwa produk ini dapat menurunkan dosis pupuk kon-vensional sampai tingkat 50-25 persen dari dosis anjuran baku dengan tingkat keuntungan ekonomis berupa peng-hematan biaya pupuk sekitar 20-40 persen. Kegiatan produksi skala pilot telah dilaksanakan sejak tahun 1996 bersama-sama dengan PTP Nusantara I, III, IV, VII, VIII, dan XIV. Tahun 2000 pengembangan produksi komersial dilaksanakan melalui lisensi PT BioIndustri Nusantara (Persero). Pabrik berkapasitas 8.000 – 10.000 ton/tahun sedang dalam tahap kontruksi.
Kembali ke atas

Bioinsektisida ’’Meteor’’ Untuk Mengendalikan Hama Penggerek Pangkal Batang Tebu (Boktor)
Penggerek pangkal batang (Dorysthenes sp., nama umum Boktor) merupakan hama penting pada tanam-an tebu. Kerugian produksi yang di-akibatkan dapat mencapai 50 %, se-dangkan cara pengendalian yang efektif belum ditemukan. Meskipun hama ini baru ditemukan di Subang, apabila tidak segera ditanggulangi akan dapat menyebar ke lokasi lain se-hinggga dapat melumpuhkan industri gula di Indonesia. Pengendalian hama secara hayati dengan bioinsektisida mempunyai potensi untuk berhasil. UPBP Bogor telah mengembangkan bioinsektisida meteor ( No. Pendaftar-an Paten sederhana S20000106) dengan bahan aktif jamur metarhizium ani-sopliae dengan 2 formulasi yaitu tepung dan butiran. Produk bioinsektisida tersebut tahan dalam penyimpanan se-lama minimum 8 bulan dan terbukti efektif untuk mengendalikan hama Boktor pada skala laboratorium dan semi lapang, serta pada pengamatan pendahuluan percobaan lapang. Di-laboratorium meteor dapat mematikan 100 % Boktor dalam waktu 3 – 15 hari. Larva terserang dapat mati lemas, kulit memar dan mengeras yang diikuti dengan munculnya misellium jamur dipermukaan kulit. Dari bantalan, misellium dapat tumbuh berjuta-juta spora yang menyerupai beludru yang berwatna hijau keabu-abuan. Spora yang dapat diproduksi mudah terlepas dan menular keboktor yang sehat. Pada percobaan semi lapang dengan meng-gunakan tebu yang ditanam di pot dapat dibuktikan bahwa meteor yang diaplikasikan disekitar tanaman di dalam tanah mampu bertahan dan tetap efektif lebih dari 6 bulan. Per-cobaan di lapang yang mencakup luasan 12 ha pertanaman tebu sedang dilakukan di pabrik gula Subang Jabar. Pada pengamatan pertama di-lakukan 2 bulan setelah penanaman, jumlah larva, kokon dan imago yang ditemukan pada seluruh perlakuan rata-rata 0,2 ekor/m2. Jumlah ini jauh lebih kecil dari hasil pengamatan pen-dahuluan sebelum aplikasi bio-insektisida yaitu 4,3 ekor/m2 atau kurang dari 5 % dari populasi awal. Keberhasilan penelitian di labora-torium dan uji coba di lapang aplikasi bioinsektisida meteor untuk pe-ngendalian hama Boktor pada tebu menimbulkan optimisme bahwa bio-insektisida ini dapat diaplikasikan dalam skala besar di lapangan.
Kembali ke atas

Paket Teknologi Pembuatan Gula dari Tanaman Sorgum Manis
Telah diuji coba beberapa varietas sorgum manis impor di lahan kering Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Tiga varietas introduksi telah dicoba yakni Rio, Wray, dan Keller.
Paket budidaya sorgum manis yang telah diteliti adalah waktu tanam, cara penanaman, pemupukan, pengair-an, dan pemanenan. Hasil bobot sorgum manis ketiga varietas tersebut adalah 25,4 ton per ha, 38,3 ton per ha dan 33,9 ton per ha. Dengan hasil nira mentah berturut-turut 13,2 ton per ha, 17,2 ton per ha dan 16,9 ton per ha. Umur sorgum manis ketiga varietas tersebut antara 4 - 4,5 bulan.
Pemerahan sorgum manis untuk diambil niranya sama dengan tebu. Upaya untuk mendapatkan nira yang bisa dikristalisasi adalah dengan penguapan pada dapur wajan terbuka dengan suhu masak tertentu, lalu hasil koagulasinya disaring dengan saringan kasa lima puluh mikron. Sirup kental hasil pemasakan telah berkadar amilum < 100 ppm dan dapat dicetak menjadi gula merah.

Kembali ke atas