Penelitian Tebu


  1. Tebu Varietas Unggul
  2. Sistem Budidaya Tebu Hemat Tenaga Kerja
  3. Teknik Aplikasi Zat Pemacu Kemasakan
  4. Pengendalian Hama Terpadu Uret Holotrichia helleri Bursk
  5. Pengendalian Hama Terpadu Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera)
  6. Pengendalian Gulma Branjangan (Rottboelia cochinchinensis)
  7. Metode Penentuan Dosis Pupuk Berdasarkan Analisis Tanah
  8. Pengelolaan Air untuk Tebu Tegalan
  9. Alat Juring Traktor Tangan
  10. Subsoil Rota Furrower
  11. Modifikasi Alat Semprot Gendong untuk Herbisida
  12. Alat Kepras Tebu Traktor Tangan
  13. Palung Pendingin Kontinu Vakum
  14. Bibit Masak Fine Crystal Seed (FCS)
  15. Penjernih Pengganti Pb-Asetat untuk Pengukuran Kadar Sukrosa
  16. Jasad Mikro Penghasil Enzim Dekstranase
  17. Jasad Mikro untuk Pengomposan Limbah Padat Industri Gula
  18. Teknologi Pengolahan Limbah Organik Pabrik Alkohol
  19. Sistem Penanganan Limbah Organik Pabrik Gula Secara Biologis
  20. Teknologi Pembuatan Papan Partikel dari Ampas Tebu
  21. Survei Penetapan Area Tebu Baru di Luar Jawa
  22. Rekayasa Teknologi Pengolahan Air Pabrik Gula yang Hemat dan Aman Lingkungan

Tebu Varietas Unggul
Varietas unggul memegang peranan penting dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi industri gula. Untuk mengantisipasi beragamnya lingkungan tumbuh pertanaman tebu dan pengelolaannya, telah dilepas dan ditawarkan beberapa varietas yang bersifat unggul di spesifik lokasi. Pada Tabel 5 disajikan beberapa varietas yang cukup menonjol untuk giling awal, tengah, dan akhir.
Sementara itu untuk meng-antisipasi kerugian akibat penyakit luka api yang telah menyebar hampir di seluruh Indonesia, telah dilakukan upaya perakitan varietas tahan ter-hadap luka api. Paling tidak ada tujuh varietas yang telah terseleksi tahan terhadap penyakit luka api yaitu PS 79-82, PS 81-283, PS 81-2099, PS 82-13, PS 82-1094, PS 82-4055, dan PS 85-22252.
Kembali ke atas

Sistem Budidaya Tebu Hemat Tenaga Kerja
Sistem budidaya tebu hemat tenaga kerja merupakan teknik budidaya tebu untuk lahan sawah dengan perubahan-perubahan pola kebun yaitu juringan panjang, sempit lubang tanamannya, dan jarak antar juring disesuaikan alsintan (1,20 m). Sementara itu got-got mujur menjadi lebih banyak dan sejajar dengan juringan yang panjangnya minimal 50 meter. Pola kebun itu dapat dikerjakan dengan alsintan dari pengolahan tanah, pembuatan lubang tanaman, pemeliharaan tebu sampai pada penebangan tebu. Umumnya praktek budidaya tebu dengan sistem Reynoso saat ini memerlukan 600-650 HOK, dengan sistem ini diperlukan 480-500 HOK atau dapat dihemat penggunaan tenaga kerja sebesar 21 persen, dengan tingkat produksi serta rendemennya tidak me-nurun. Dengan tingkat UMR sebesar Rp 4.950, dengan sistem ini, biaya produksi yang dapat dihemat sebesar Rp 495.000-841.500
Kembali ke atas

Teknik Aplikasi Zat Pemacu Kemasakan
Zat Pemacu Kemasakan (ZPK) berpeluang untuk mengatasi masalah kemasakan dan rendemen di awal giling. Dari percobaan penggunaan ZPK yang dilakukan di PG Kalibagor, Semboro, Jatiroto, dan di P3GI Pasuruan ditemukan bahwa terdapat kelompok varietas yang responsif terhadap pemberian ZPK yaitu F 154, M 442-51, PS 81-1321 dan PS 82-831, sedangkan varietas yang tidak tanggap adalah PS 58, PS 82-887 dan PS 82-1094. Jenis serta dosis ZPK yang dianjurkan adalah isoprophylamine gliphospate 0,6-0,9 liter per hektar dan fluazifop butil 0,6-0,7 liter per hektar. Dijumpai adanya interaksi antara macam ZPK dan varietas tebu. Pengguna-an Zat Pemacu Kemasakan dapat me-ningkatkan rendemen 1-2 poin. Aplikasi ZPK ini di tingkat tebu rakyat me-merlukan tambahan biaya produksi sebesar Rp 60.000 per hektar. Dengan peningkatan 1 poin rendemen pada rata-rata produksi tebu 1000 ku/ha maka akan diperoleh tambahan kristal gula kurang lebih 10 kuintal gula per hektar. Dengan harga provenue gula Rp 2.000.000 per kg maka petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp 3.000.000 per hektar.
Kembali ke atas

Pengendalian Hama Terpadu Uret Holotrichia helleri Bursk
Survei diberbagai kebun tebu tegalan di Jawa dan di Kalimantan serta Sulawesi, menunjukkan bahwa terdapat enam spesies uret dari tiga genera. Besarnya kerugian akibat serangan uret tergantung dari be-berapa faktor antara lain jumlah uret per rumpun, stadia uret, stadium dan kategori tanaman saat terserang, ke-suburan tanah dan varietas tebu. Paket pengendalian uret Holotrichia helleri Bursk di areal PG Prajekan dan Kedawung terdiri dari pengendalian uret terpadu yakni pemberian insek-tisida codusafos 1,50 kg per hektar terhadap larva, penangkapan imago dengan light trap di awal musim hujan (sekitar bulan November-Desember), serta memberantas tanaman inang alternatif yang terdiri dari gulma famili graminea dan gulma daun lebar. Cara pengendalian hama terpadu dapat me-ngendalikan lebih dari 78 persen serang-an hama.
Kembali ke atas

Pengendalian Hama Terpadu Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna lanigera)
Hama kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera) sering menyerang tanaman tebu tegalan di luar Jawa. Kerugian akibat hama ini, pada serangan berat dapat menimbulkan kerugian gula 40 persen. Hama ini praktis di-jumpai di semua sentral tanaman tebu di Indonesia terutama di Sulawesi Selatan. Pengendalian hama ini di-lakukan secara terpadu dengan cara mekanis (pemusnahan koloni-koloni kutu yang dilakukan tiap bulan se-banyak 4-5 kali) yang diikuti penyemprotan insektisida metidation. Penyemprotan insektisida dengan dosis dua liter per hektar hanya di-lakukan apabila dijumpai koloni kutu yang cukup besar. Pengendalian ter-padu tersebut dapat menekan laju serangan sebesar 93-99 persen dan dapat menekan biaya pengendalian dari sekitar Rp 50.000-90.000 menjadi Rp 13.000- 16.500 per musim per hektar
Kembali ke atas

Pengendalian Gulma Branjangan (Rottboelia cochinchinensis)
Gangguan gulma branjangan (Rottboelia cochinchinensis) terdapat di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Terdapatnya gulma ini di kebun tebu sangat mengganggu pekerjaan pemeliharaan tebu dan dapat mengurangi bobot tebu sampai 72 persen. Upaya pengendaliannya tergantung pada jenis herbisida yang efektif menekan perkecambahannya. Pengendalian dengan herbisida dapat dilakukan dua kali, yaitu segera se-telah tanam (dengan herbisida tanah) dan pada umur delapan minggu (dengan herbisida daun dan tanah). Pada keprasan prioritas pengendalian adalah dekat awal musim hujan. Cara pe-ngendalian adalah dengan penyemprotan herbisida yang diserap daun dan akar sesuai stadium pertumbuhan gulma. Dengan herbisida thiazopyr (dua liter per hektar), pendimethalim (lima liter per hektar) dan sulfentrazone (2 liter per hektar) mengendalikan gulma dapat dikendalikan selama sepuluh minggu pada pertanaman tebu baru. Di PG Takalar campuran dimetametrin empat liter per hektar ditambah ametryne dua kilogram per hektar mampu menekan gulma ini selama dua belas minggu di keprasan. Dengan pengendalian ini dapat me-nekan pertumbuhan gulma lebih dari 75 persen, sehingga gangguan ter-hadap pertumbuhan tebu dapat di-kurangi dan masih dapat dipanen dengan bobot tebu yang memadai.
Kembali ke atas

Metode Penentuan Dosis Pupuk Berdasarkan Analisis Tanah
Berdasarkan data analisis tanah, serta korelasi dengan percobaan lapang dalam kurun waktu yang cukup lama dan mencakup wilayah iklim yang luas, telah disusun suatu metode penentuan dosis pemupukan yang di-sebut nomograf analisis tanah. Metode nomograf analisis tanah untuk me-netapkan dosis pupuk N, P, dan K pada tanaman tebu dapat digunakan sebagai alternatif pengganti metode konvensional yang menggunakan per-cobaan pemupukan di lapangan. Di-banding percobaan lapangan, metode nomograf jauh lebih cepat dan murah. Percobaan lapangan memerlukan waktu seumur tanaman tebu itu sendiri (12-15 bulan) sedangkan metode nomograf hanya memerlukan waktu lebih kurang satu bulan. Dalam hal biaya, percobaan lapangan memerlukan sekitar Rp 1.500.000 untuk setiap per-cobaan, sedangkan metode nomograf hanya sekitar Rp 100.000,-. Metode ini telah diterapkan untuk rasionalisasi pemupukan di PG-PG wilayah PT Per-kebunan Nusantara II dan PG-PG di wilayah Madiun.
Kembali ke atas

Pengelolaan Air untuk Tebu Tegalan
Teknologi pengelolaan sumber daya air yang diikuti dengan rancang bangun bendungan serta irigasi yang sesuai dengan kebutuhan tebu, merupakan paradigma baru dalam pengelolaan tebu tegalan. Hal ini diharapkan dapat menggantikan paradigma konvensional pengelolaan tebu tegalan yang aspek agronominya masih menyesuaikan dengan volume dan distribusi hujan.
Dari analisis peta topografi, sifat iklim, sifat fisik tanah dan ke-butuhan air bagi tanaman, maka dapat diketahui berapa air yang dapat di-panen pada musim penghujan, letak bendung, dan luas lahan yang dapat diairi. Agar bendungan secara teknis dapat memadai, maka telah dibuat pedoman dasar pembuatan bendungan kecil.
Dari hasil penelitian yang di-lakukan kajian pengelolaan di air PG Cintamanis diketahui bahwa kejituan penggunaan air dapat ditingkatkan dengan pembuatan pipa irigasi yang ditanam di dalam tanah dan di-lengkapi dengan hidran-hidran di beberapa tempat. Melalui hidran-hidran tersebut, air didistribusikan ke lahan tebu. Sementara itu, hasil kajian pengelolaan air di PG Takalar me-nunjukkan bahwa pengelolaan air yang benar dapat meningkatkan rendemen dua poin dan bobot hablur 150-200 persen.
Kembali ke atas

Alat Juring Traktor Tangan
Alat Juring Traktor Tangan atau PSAB 94-4 merupakan peralatan budidaya yang digerakkan traktor tangan yang berfungsi menggemburkan tanah dan membuat alur (juringan). Alat yang diharapkan dapat mensubstitusi kebutuhan tenaga kerja manual ini, mampu beroperasi pada lahan sawah pada kandungan air kapasitas lapangan dan ditujukan untuk petani berlahan sempit. Alat ini dapat digunakan pada tanah ringan, sedang atau berat, datar dan bekas tanaman semusim. Hasil kerja alat ini berupa juringan dengan lebar 230 mm, kedalaman 250 mm, jarak minimum 900 mm, dengan kapasitas kerja dua belas jam per hektar untuk tanah ringan dan lima belas jam per hektar untuk tanah berat. Biaya pembuatan juringan secara manual untuk luasan satu hektar adalah Rp 663.300 dan dikerjakan se-lama tiga belas hari oleh sepuluh orang. Dengan menggunakan alat ini biaya pengolahan tanah menjadi Rp 96.000-120.000 per hektar dan dikerjakan se-lama dua hari dengan menggunakan dua orang operator.
Kembali ke atas

Subsoil Rota Furrower
Subsoil Rota Furrower (SRF) atau PSAB 95-1 merupakan alat untuk pembuatan juring (lubang tanam) yang memiliki komponen dua buah subsoiler, 1 unit rotavator HR 80 dan 2 buah furrower. Alat yang beratnya 1.000 kg ini ditarik dengan traktor roda ber-kekuatan 110 HP 4 wheel drive. Dengan jarak antar lubang tanam dapat diatur antara 1-1,5 meter dan lubang tanam berbentuk “V”., Alat yang ditujukan untuk pengolahan tanah hamparan ini berkapasitas kerja 3-4 jam per hektar. Alat SRF dapat dioperasikan pada jenis tanah berat, sedang, atau ringan, baik pada lahan bekas tanaman padi maupun tanaman tebu. Hasil pengolah-an tanah akan lebih baik apabila per-mukaan tanah yang diolah keadaannya rata. Biaya pengolahan tanah secara manual adalah Rp 663.300 per hektar selama waktu tiga belas hari oleh sepuluh orang pekerja. Dengan alat ini biaya tersebut menjadi Rp 285.000 per hektar dan membutuhkan waktu 3-4 jam dengan dua orang operator. Alat ini sudah memasyarakat di PG-PG di daerah Jatiroto, Madiun, dan Jawa Tengah bagian Utara.
Kembali ke atas

Modifikasi Alat Semprot Gendong untuk Herbisida
Pada tahun 1996 telah modifikasi alat semprot herbisida tipe gendong PSAB 96-1. Modifikasi dilakukan pada nozle, lance untuk nozle ganda, serta modifikasi katup dan sistem saringan. Alat semprot gendong yang banyak digunakan umumnya mempunyai ka-pasitas kerja 0,25-0,50 ha/orang/hari dengan kebutuhan air semprot se-banyak 400 liter per hektar. Dengan alat semprot gendong modifikasi ini, kapasitas kerja meningkat menjadi 1,0-1,5 ha per orang per hektar dengan kebutuhan air semprot 200 liter per hektar. Alat ini telah banyak di-gunakan di PT. Perkebunan Nusantara XI dan PG Jatitujuh.
Kembali ke atas

Alat Kepras Tebu Traktor Tangan
Pengusahaan tebu dengan cara keprasan dilakukan dipertanaman tebu karena dapat menghemat biaya produksi. Keprasan yang baik dilakukan dengan memotong sisa tanaman rata dengan tanah. Alat yang dipakai umumnya adalah cangkul dengan memakai tenaga kerja orang. Untuk menyelesaikan pe-kerjaan pengeprasan diperlukan 10-14 orang per hektar. Telah direkayasa alat kepras tebu traktor tangan PSAB 97-1 yang dapat dioperasikan pada tanah ringan, sedang, dan berat dengan tenaga 10 HP. Rancangan ini memiliki keistimewaan pada gear box serta pada rangka kedudukan mesin. Gear box dapat menghasilkan putaran 100-1100 rpm serta dapat menjamin keseimbang-an dan kenyamanan pengoperasian alat. Keunggulan penggunaan alat ini dibandingkan pengeprasan manual terletak pada kapasitas kerjanya yaitu 6,5-7,5 jam per hektar dan pada kualitas hasil keprasan yang lebih baik.
Biaya operasional alat ini adalah Rp 35. 756 per hektar.
Kembali ke atas

Palung Pendingin Kontinu Vakum
Untuk meningkatkan kadar kristal masakan A, telah dirancang palung pendingin vakum kontinu PSUT 94-1, dengan satu ruangan bertekanan vakum, 54-59 cmHg, menggunakan sistem kontrol sederhana dengan pengatur suhu, tekanan dan level masakan yang konvensional. Teknologi ini diadaptasi dan dimodi-fikasi dari pabrik gula rafinasi dan telah dicoba di PG Krebet Baru I dan II, dan PG Rejo Agung Baru. Di bandingkan dengan sistem lama yang menggunakan pendinginan pada bejana terbuka, sistem vakum dapat me-ningkatkan kadar kristal lebih tinggi 4-10 persen, tergantung pada jumlah sirup yang disirkulasi. Di samping itu sistem ini dapat menghemat energi.
Kembali ke atas

Bibit Masak Fine Crystal Seed (FCS)
Upaya peningkatan kualitas masak dapat juga dilakukan dengan menggunakan bibit FCS (Fine Crystal Seed) untuk masakan A dan masakan D. Telah direkayasa alat untuk membuat FCS tersebut (PSAT 96-2). Bibit yang dihasilkan memiliki keragaman ukuran dan bentuk lebih baik dari pada gula halus atau fondan yang biasanya digunakan untuk bibit masak A atau D. Aplikasi FCS untuk masakan D dengan dosis 550-600 ml per 400 hektoliter masakan dapat menurunkan Harkat Kemurnian (HK) tetes 9-15 persen, meningkatkan pemerahan pol 9-30 persen dan waktu masak cenderung lebih cepat dibanding dengan masak menggunakan bibit fondan. Percobaan di PG Pelaihari menunjukkan penggunaan FCS dapat menurunkan HK tetes lima poin. Untuk kondisi PG Pelaihari dengan penurunan HK tetes tersebut, akan dapat diselamatkan seribu ton SHS per musim giling.
Kembali ke atas

Penjernih Pengganti Pb-Asetat untuk Pengukuran Kadar Sukrosa
Pengukuran kadar gula (sukrosa) dengan metode polarimetri memerlukan bahan penjernih nira atau produk gula lain yang akan dianalisis. Selama ini bahan penjernih yang di-gunakan adalah timbal asetat yang di-ketahui bersifat racun kuat yang akumulatif. Penggunaan bahan ini cukup banyak, tidak kurang dari seratus kilogram per pabrik per musim giling, sehingga pembuangan limbah akan menimbulkan masalah lingkungan. Di samping itu, penggunaan timbal asetat mengalami hambatan (proses pe-nyaringan lama) bila kadar dekstran dalam nira tinggi. Penggunaan Pb-asetat sebagai penjernih dalam analisis pol (kadar sukrosa) sejak 1990 tidak direkomendasi oleh International Com-mission for Uniform Method of Sugar Analysis (ICUMSA) sehingga perlu dicarikan penggantinya.
Telah ditemukan dua alternatif pengganti Pb asetat (ICUMSA) yaitu Aluminium sulfat dan penjernih formula 2 yang masih dalam skala labo-ratorium. Bahan penjernih terdiri dari aluminium sulfat 0,9 M dan NaOH 4,4 M dalam komposisi volume yang sama. Bahan penjernih ini telah di-masyarakatkan dengan nama PSUT 94-1. Bahan penjernih ini telah digunakan antara lain di PG wilayah PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), PT. Perkebunan Nusantara XI dan PT. RNI.
Penjernih formula 2 tersusun dari poli aluminium klorida dan kalsium oksida. Keunggulan dari formula kedua tersebut adalah tidak bersifat racun, dan dapat digunakan untuk analisis nira yang mengandung dekstran cukup tinggi. Uji coba formula tersebut telah dilakukan di sepuluh pabrik gula di Jawa Timur.
Kembali ke atas

Jasad Mikro Penghasil Enzim Dekstranase
Dengan penguasaan teknik seperti isolasi dan skrining jasad mikro unggul, teknik fermentasi, downstream, dan rekayasa genetik, diperoleh produk seperti enzim dekstranase tipe endohidrolitik, xyloseisomerase termofil, dan amilase termotoleran. Enzim dekstranase sangat efektif untuk menurunkan viskositas nira pekat dan masakan yang mengandung dekstran, sehingga dapat meningkatkan perolehan gula di stasiun kristalisasi. Enzim tersebut berasal dari isolat bakteri PS-B7 dengan produktivitas se-besar 2.500-3.000 unit dektranase per ml media, yang merupakan produktivitas tertinggi yang pernah di-laporkan. Tipe endohidrolitik dari dekstranase ini merupakan yang per-tama dihasilkan dan hingga saat ini belum ditemui di pasar. Dekstranase yang ada di pasar saat ini hanya di-produksi oleh satu perusahaan dengan harga kurang lebih Rp 200.000 per kg.
Dalam usaha pengembangan produksi dekstranase, telah diselesaikan pembangunan unit produksi enzim di kompleks PG Jatiroto. Unit produksi tersebut kelak juga akan di-pakai untuk menghasilkan enzim-enzim amilase dan xylose isomerase yang dibutuhkan dalam jumlah besar oleh industri tekstil, asam amino dan gula cair. Dengan perkiraan harga jual Rp 150.000 per kilogram, enzim dekstranase B7 ini nantinya diharapkan mampu bersaing.
Kembali ke atas

Jasad Mikro untuk Pengomposan Limbah Padat Industri Gula
Telah berhasil diisolasi lima jenis mikroba yang bersifat selulolitik dan lignoselulolitik dengan metode pour plate dan streak plate. Dengan bahan carier blotong halus, mikroba tersebut dipakai sebagai strarter kompos bagi limbah padat pabrik gula seperti ampas tebu, blotong, serasah, dan abu ketel. Starter kompos tersebut dinamai Inopos (PSUD 93-2) dan dimasyarakat-kan dalam jumlah besar sejak tahun 1995. Inopos diberikan dengan jumlah 1-2 kg untuk bahan 2 ton yang terdiri atas ampas (65 persen), blotong (30 persen) dan abu ketel (5 persen). Dalam waktu enam minggu bahan yang diberi starter tersebut akan men-jadi kompos dengan C/N 13 persen, sementara bahan yang tidak berstater C/N ratio 23 persen. Aplikasi starter ini telah dilakukan di PG Pesantren Baru, PG Rejoagung Baru, dan PG Bungamayang.
Kembali ke atas

Teknologi Pengolahan Limbah Organik Pabrik Alkohol
Telah dikembangkan teknologi pengolahan limbah organik yang di-namai Selena (selimut endapan anaerob), yang merupakan modifikasi dari sistem pengolahan anaerobik upflow anaerobik sludge blanket (UASB). Selena memiliki konstruksi yang lebih sederhana dari pada UASB, yaitu dengan mengguna-kan sekat pemisah GPC (gas, padatan, cairan) hanya di salah satu sisi. Teknologi ini mampu mereduksi BOD sekitar 95 persen. Penelitian telah dilakukan dalam skala laboratorium dan skala pilot terhadap limbah pabrik alkohol di P3GI, PS Madukismo dan PSA Palimanan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa perlakuan Selena mampu mereduksi BOD sekitar 95 persen, dan COD sekitar 75 persen. Se-dangkan hasil perlakuan UASB dengan kondisi yang sama hanya mampu me-nurunkan kadar BOD 90 persen dan COD turun 70 persen.
Selena juga berpotensi me-misahkan padatan dan cairan secara lebih baik. Hal ini dapat dilihat pada kadar padatan tersuspensi dari cairan terolah yang berkurang dari 2.894 mg per liter menjadi 488 mg per liter.
Apabila ditinjau dari aktivitas mikroba pembentuk asam dan mikroba metan secara integral, maka perlakuan Selena mampu memberikan hasil lebih baik yang terlihat pada kadar asam volatik yang lebih rendah. Hasil peneliti-an pada bibit mikroba menunjukkan bahwa karakteristik bibit yang ber-potensi baik adalah C/N 15, SVI 0,77, TVS 28 persen dan TS 37 persen dan endapan 50 persen v/v.
Pada penelitian terhadap gas bionya, diperoleh hasil bahwa jumlah gas yang dihasilkan adalah sekitar 0,34 m3 per kg COD. Gas yang dihasilkan dapat dibakar dengan nyala api berwarna biru, dan nilai kalori sekitar sepertiga nilai kalori gas LPG. Gas tersebut telah dicoba untuk memasak air dan menyalakan lampu petromax.
Apabila gas bio tersebut di-gunakan dalam bentuk murni, maka senyawa non metan harus direduksi. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa silica gel dapat me-nurunkan kelembapan relatif gas bio dari sekitar 70 persen menjadi 12 persen. Komponen lain yang mengganggu nilai bakarnya adalah karbon dioksida. Dari beberapa perlakuan yang dipelajari terlihat bahwa per-lakuan dengan larutan basa mampu menurunkan kadar CO2 gas bio dari 44 persen menjadi sekitar 10 persen, sekaligus akan meningkatkan kadar gas metan dari 56 persen menjadi 90 persen.
Kembali ke atas

Sistem Penanganan Limbah Organik Pabrik Gula Secara Biologis
Sebagai upaya untuk memberikan alternatif lain bagi pengolahan limbah cair pabrik gula, dipelajari pembuatan teknologi pereduksi polutan organik secara biologis yang disebut dengan sistem Pereduksi Aerobik Ber-putar (PAB). Pada sistem ini per-lakuan bertumpu pada penggunaan mikroba yang menempel pada per-mukaan silinder berputar. Silinder ber-putar perlahan dengan kecepatan lima rpm, sehingga pada saat di bawah air, mikroba mengambil makanan dan pada saat di atas mengambil oksigen dari udara.
Penelitian ini telah dilakukan sampai pada tahap percobaan skala pilot, dengan diameter rotor sebesar 1,5 m. Silinder tersebut dibuat dengan kerangka aluminium dan pipa PVC serta media dari bahan ijuk yang terbungkus dengan jaring nilon. Dengan kecepatan putaran rotor lima rpm efisiensi reduksi BOD mencapai 97 persen. Apabila dibandingkan dengan sistem pengolahan SAL (sistem aerasi lanjut) yang dikembangkan sebelumnya, maka sistem PAB ini mampu mengolah limbah dengan beban sedikit lebih besar, yaitu 1,8 g per liter per hektar dan 1,2 g per liter per hektar pada SAL.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar padatan tersuspensi pada kondisi stabil bisa mencapai di bawah 50 mg per liter, sedangkan pada beban BOD tinggi akan meningkat dan kemudian turun lagi setelah mencapai keseimbangan.
Teknologi ini juga dapat di-gunakan untuk pengolahan limbah alkohol sebagai pendamping sistem Selena. Perlakuan dengan PAB mampu mereduksi residual BOD yang masih terdapat dalam efluen Selena sebesar 90 persen.
Kembali ke atas

Teknologi Pembuatan Papan Partikel dari Ampas Tebu
Teknologi pembuatan papan partikel dari ampas tebu PSUH 94-3 merupakan komponen teknologi pemanfaatan hasil samping tebu. Kompo-sisi bahan dan teknologi pembuatan papan partikel telah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) seperti terlihat pada tabel hasil uji coba. Papan partikel dari ampas tebu dibuat dengan cara pengeringan, penggilingan, dan pe-nyaringan ampas, pencampuran ampas dengan perekat, resin dan parafin wax serta pencetakan dengan tekanan hidrolik pada kondisi tekanan 10 kg per cm2, suhu 150?C selama 15 menit. Perekat terdiri dari urea formaldehide, hardener, ammonia, dan air.
Kembali ke atas

Survei Penetapan Area Tebu Baru di Luar Jawa
Untuk mengantisipasi peruntu-kan lahan yang beragam di Pulau Jawa perlu mencari daerah-daerah baru di luar Jawa yang akan dikembangkan menjadi pabrik gula baru. Sejak tahun 1994, telah dilakukan survei dan pen-jajakan lahan ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku.
Di Kabupaten Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara, telah ditetapkan areal seluas 33.000 ha yang sesuai untuk pertanaman tebu. Daerah Tinanggea dengan luas netto 13.500 ha padang alang-alang dan 9.000 ha lahan usaha II transmigrasi bisa dikembangkan menjadi perkebunan tebu yang dikelola secara mekanis. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.990-2.600 mm per tahun dengan musim kemarau lima bulan berturut-turut dari Juli s.d. November. Jenis tanah ultisol dengan tekstur lempung berpasir dengan ke-dalaman efektif tanah sekitar 90 cm, potensi areal Tinanggea dapat menghasilkan tebu sampai 70 ton per hektar. Lahan lain yang sesuai tebu adalah di Kabupaten Barito Utara, seluas 13.150 ha dan Barito Selatan 13.200 ha. Iklim di kedua daerah tersebut agak basah, namun terdapat 4-5 bulan kering (Mei-September) yang agak kering, dan alsintan dapat beroperasi secara efektif. Diperkirakan potensi tebu bisa mencapai di atas 100 ton per hektar.
Di Kabupaten Maluku Tengah, di dataran Masiwang, Pulau Seram Bagian Timur, diperoleh lahan yang sesuai untuk perkebunan tebu sebesar 16.100 ha. Total curah hujan setahun di daerah ini mencapai 1.780 mm dan terdapat lima bulan kering (Juni-November).
Kembali ke atas

Rekayasa Teknologi Pengolahan Air Pabrik Gula yang Hemat dan Aman Lingkungan
Keterbatasan sumberdaya air terutama di Jawa semakin dirasakan, bahkan meningkatnya harga air mulai menjadi beban yang nyata bagi pabrik gula. Permasalahan pencemaran air bekas kondensor tidak bisa hanya di atasi dengan instrumen penangkap retik terutama pada resirkulasi air injeksi karena terjadinya akumulasi polutan. Hasil penelitian yang mem-pelajari pola pencemaran air bekas kondensor perlu ditindak lanjuti dengan mengintegrasikan berbagai faktor kondisi lapang sehingga dapat men-jadi rakitan teknologi yang aplikatif. Untuk itu telah dirakit teknologi pereduksi polutan dengan sistem biotray. Dalam upaya untuk mem-persiapkan bibit mikroba Termofilik untuk dipergunakan secara praktisi dalam sistim biotray, maka telah di-susun komposisi media untuk propagasi isolate BT-50 dan kemudian diikat dengan suatu carrier hingga menjadi bentuk serbuk. Dalam kegiatan ini telah berhasil dikembangkan isolate BT-50 dalam bentuk serbuk dalam jumlah 200 kg dan dikemas dalam potongan Corrugated PVC untuk di-tempatkan dalam biotray. Dari pe-ngujian mikrobiologis serbuk BT-50 masih memiliki konsentrasi d atas 10 5 /ml setelah penyimpanan selama 3 bulan dalam suhu kamar. Biotray di-buat dalam bentuk tray segi empat dengan kerangka aluminium dengan media ijuk yang dibungkus dalam jaring nilon. Bibit mikroba serbuk dalam potongan Corrogated PVC yang di-tutup busa pada kedua sisinya di-letakkan dalam jumlah tertentu di-bagian tengah biotray. Selanjutnya di-lakukan percobaan simulasi dengan memompakan air bersuhu 55 0 C turun melewati biotray yang telah di-inokulasi dengan isolate BT-50 sehingga polutan organik yang terdapat dalam air tersebut didegradasi oleh mikroba. Dalam percobaan ini dipelajari para-meter kinetika penguraian polutan, potensi daya reduksi terhadap beban polutan dan pengaruh ketebalan biotray terhadap daya reduksi polutan. Dengan meningkatkan hidroulik load polutan dari 3836 g COD/m3/d menjadi 6170 g COD/m3/d dapat terlihat bahwa beban maksimum diperoleh pada hidroulik load 4678 g COD/m 3/d pada efisiensi reduksi COD 90 %. Pada hidroulik load 6170 dg COD/m3/d terjadi penurunan efisiensi reduksi COD menjadi 67 %.
Tabel 7: Potensi day reduksi COD pada sistem biotray
Keterangan:
HL : Beban hydraulic, g COD/m3/d
L : Beban COD, g COD/m3/d
L1 :Beban COD atas luas permukaan media
E : Efisiensi reduksi COD, %

Tabel 8: Pengaruh ketebalan biotray ter-hadap daya reduksi polutan.
Berdasarkan parameter kinetika yang diperoleh dalam percobaan ini, ketebalan biotray berpengaruh positif terhadap beban polutan yang dapat direduksi. Hasil percobaan menunjuk-kan bahwa semakin tebal biotray semakin besar beban polutan yang mampu direduksi. Dengan ketebalan yang meningkat 2 kalinya dari nisbah tebal/lebar 0,45 menjadi 0,90 maka beban polutan pada efisiensi reduksi 90 % juga meningkat dari 116 g/d menjadi 221 g/d. sedangkan luas permukaan biotray tidak memberikan korelasi nyata.
Dari hasil tersebut dapat di-simpulkan bahwa sistem biotray yang dicoba memiliki kemampuan untuk mereduksi COD dengan tingkat efisiensi 90 % pada beban hydraulic polutan sebesar 383 g COD/m3/d. Pada beban hydraulic yang lebih besar akan menurunkan tingkat efisiensi reduksi COD. Ketebalan biotray berpengaruh positif terhadap beban polutan yang dapat direduksi, se-dangkan luas permukaan biotray tidak memberikan korelasi nyata.

Kembali ke atas