Penelitian Kelapa Sawit


  1. Pengendalian Hayati Gulma Kirinyuh (Chromolaena odorata )
  2. Pemanfaatan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit untuk Ternak Domba dan Kambing
  3. Alkid Resin dari Minyak Sawit Mentah (MSM) dan Minyak Inti Sawit (MIS)
  4. Surfaktan dan Anti Mikrobial dari Minyak Sawit Mentah
  5. Briket Arang dari Tandan Kosong Sawit
  6. Produk Emulsi Kesehatan dari Minyak Sawit Merah
  7. Alat Perajang Tandan Kosong Sawit untuk Persiapan Bahan Baku Pulp
  8. Model Ekonomi Minyak Sawit Mentah Dunia
  9. Pengendalian Ulat Api
  10. Feromon Oryctes rhinoceros
  11. Minyak Sawit Merah
  12. Deteksi Serangan Ganoderma sp.
  13. Pabrik Kelapa Sawit Super Mini SM 500
  14. Teknik Pengolahan Limbah Cair PKS dengan Sistem Anaerobik

Pengendalian Hayati Gulma Kirinyuh (Chromolaena odorata)

Gulma kirinyuh (Chromolaena odorata) merupakan gulma yang dapat menyebar dan menutupi areal-areal terbuka lahan kering secara cepat sehingga gulma tersebut dapat menimbulkan kesulitan dalam usaha-usaha pertanian, per-kebunan, dan peternakan. Oleh karena itu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) telah melakukan kerjasama penelitian dengan Australia Centre for International Agriculture Research (ACIAR) untuk men-cari musuh alami yang efektif dalam mengendalikan pertumbuhan gulma. Salah satu musuh alami yang telah berhasil diintroduksi dari Tucuman, Argentina adalah lalat puru Procecidochares connexa. Introduksi lalat tersebut dilakukan pada akhir tahun 1993 hingga pertengahan tahun 1994. Kini lalat tersebut telah berhasil dikembangkan dengan baik. Pada pengujian terhadap jenis tanam-an inang, ternyata lalat ini mempunyai inang yang spesifik. Mereka hanya dapat hidup dan berbiak pada gulma kirinyuh. Untuk mengetahui dampak lalat ini terhadap penekanan per-tumbuhan gulma kirinyuh, pemerintah telah mengeluarkan izin pelepasannya pada pertengahan tahun 1995. Berdasarkan hasil pengamatan setelah 1 tahun pelepasan serangga P. connexa di lapangan (Biruen–Aceh), lalat puru ini telah menyebar sampai jarak 40 km dan pada tingkat populasi optimal semua pucuk gulma membentuk puru sehingga mengurangi jumlah bunga dan menghambat pertumbuhan gulma.
   
Kembali ke atas

Pemanfaatan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit untuk Ternak Domba dan Kambing
Pada umumnya gulma di per-kebunan kelapa sawit masih di-kendalikan secara kimiawi maupun mekanis dengan biaya yang cukup besar. Di sisi lain, berbagai jenis gulma di perkebunan tersebut dapat di-manfaatkan sebagai pakan hijauan ternak. Untuk optimalisasi pendaya-gunaan lahan, telah dilakukan peneliti-an mengenai pemanfaatan lahan per-kebunan kelapa sawit untuk ternak domba dan kambing dengan pola ekstensif yaitu ternak digembalakan setiap hari di areal perkebunan kelapa sawit mulai pukul 14.00 sampai 18.00 WIB dan pakan tambahan yang diberi-kan di kandang hanya rumput hijauan. Analisis biaya manfaat me-nunjukkan bahwa pemanfaatan lahan perkebunan kelapa sawit untuk ternak domba dan kambing memberikan hasil yang cukup baik. Daya dukung lahan untuk ternak domba dan kambing, ber-beda-beda sesuai dengan kondisi tanaman dan lahan kelapa sawit. Pada lahan tanaman belum menghasilkan (TBM) 1 -3 dapat diternakkan 8-10 ekor domba atau kambing per ha, lahan TM 1-3 dapat diternakkan 5-7 ekor domba atau kambing per ha, sedangkan pada lahan TM 4 hanya dapat diternakkan maksimal 4 ekor domba atau kambing per ha. Setelah dua tahun pemelihara-an dengan 10 ekor ternak (9 ekor betina dan 1 ekor pejantan), dapat diperoleh B/C rasio 1,0-1,4.
 
Kembali ke atas

Alkid Resin dari Minyak Sawit Mentah (MSM) dan Minyak Inti Sawit (MIS)
Salah satu usaha untuk me-ningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah (MSM) dan minyak inti sawit (MIS) adalah dengan membuat alkid resin yang dapat dimanfaatkan untuk industri surface coating. Pembuatan alkid resin dari MSM dan MIS dapat meningkatkan nilai ekonomi MSM dan MIS 6 kali lipat dari harga semula. Di samping itu alkid resin yang terbuat dari MSM dan MIS dapat diperbaharui (renewable). Alkid resin yang dihasilkan mempunyai sifat yang hampir sama dengan laq yang berasal dari minyak bumi dan umum digunakan dalam industri surface coating. Warna visual dari alkid resin tersebut adalah coklat tua agak kehitaman. Untuk memperbaiki kualitas warna alkid resin perlu ditambahkan gas karbon dioksida selama reaksi di dalam ketel, sedangkan untuk mengurangi viskositas dapat digunakan tiner. Waktu pengeringan alkid resin sekitar 1-2 jam. Waktu pengeringan ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, jumlah cahaya, pergerakan udara pada permukaan film alkid serta ketebalan film alkid tersebut. Oleh karena keasaman produk tersebut cukup kecil maka sifatnya tidak korosif apabila digunakan sebagai bahan surface coating industri cat organik atau tinta cetak.
 
Kembali ke atas

Surfaktan dan Anti Mikrobial dari Minyak Sawit Mentah
Salah satu produk diversifikasi dari MSM adalah surfaktan. Dewasa ini, umumnya surfaktan dan emulsifier disintesis dari minyak bumi (petrokimia). Selain minyak bumi, bahan baku surfaktan dan emulsifier adalah minyak nabati. Surfaktan dan emulsifier yang dibuat dari minyak nabati mudah ter-urai secara biologi (biodegradable) se-hingga tidak mencemari lingkungan. Kesinambungan pengadaannya terjamin karena minyak nabati merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Salah satu jenis surfaktan yang dapat disintesis dari minyak nabati adalah sukrosa ester. Sukrosa ester merupakan surfaktan non ionik dan mempunyai sifat emulsifying, foaming, detergent, solubilizing yang sangat baik dan tidak beracun. Sukrosa ester dapat digunakan sebagai surfaktan dalam industri farmasi, deterjen, kosmetik, serta industri pangan.
Minyak sawit mempunyai potensi yang sama baiknya dengan minyak kedelai atau lemak gajih sapi sebagai bahan baku surfaktan dan emulsifier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu reaksi optimum pada kondisi percobaan adalah sembilan jam. Pada kondisi tersebut diperoleh kadar perolehan sebesar 39 persen dengan produk yang berbentuk semi padat dan berwarna kuning coklat. Kompo-sisi bahan baku mempengaruhi kadar perolehan, sifat fisik, serta mutu surfaktan yang dihasilkan.
Penelitian masih dilanjutkan untuk mengetahui pengaruh suhu dan tekanan terhadap produk yang dihasil-kan dan kemungkinan untuk mensintesis sukrosa ester dari MSM, olein, stearin dan MIS termasuk mengkaji sifat-sifat produk yang dihasilkan dari fraksi minyak sawit yang berbeda.
Dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan produksi MSM, maka perlu dicari alternatif lain diversifikasi MSM menjadi produk lain yang me-miliki nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satunya adalah senyawa anti mikrobial dari minyak sawit mentah. Senyawa anti mikrobial dan turunannya banyak digunakan sebagai anti depresant, anti bakteri, repelan nyamuk, tranguilisers, fungisida, dan anti in-flammasi. Senyawa anti mikrobial juga dapat digunakan untuk formulasi pada kosmetik dan farmasi.
Berdasarkan struktur rantai karbonnya maka minyak sawit dapat dijadikan bahan baku senyawa anti mikrobial melalui proses epoksidasi metil ester oleat. Produk yang diperoleh terdiri dari campuran isomer morpholinon. Karakteristik kimia fisik senyawa anti mikrobial dari minyak sawit yang diperoleh adalah sebagaimana tercantum pada Tabel 1.
Pengujian daya inhibisi yang dilakukan dengan menggunakan bakteri Serratia merescens, Escherichia coli dan Bacillus thuringiensis menunjukkan bahwa anti mikrobial yang dihasilkan cukup kuat dan efektif. Sintesa anti mikrobial dari MSM mempunyai prospek untuk dikembangkan menjadi bahan anti mikrobial untuk formulasi di bidang kosmetik, farmasi, dan kedokteran.
 
Kembali ke atas

Briket Arang dari Tandan Kosong Sawit
telah dilakukan untuk memanfaatkan limbah tandan kosong sawit (TKS) yang ketersediannya berlimpah sepanjang tahun. Salah satu pemanfaatan TKS adalah untuk pembuatan briket arang. Pembuatan briket arang TKS dilakukan dengan metode pembakaran langsung dalam suatu klin/reaktor dengan kondisi pembakaran dan udara yang terkontrol. Arang yang dihasilkan di-giling dan dicetak dengan meng-gunakan tekanan hidrolik dengan ukuran yang disesuaikan dengan per-mintaan pasar. Sebelum pencetakan, terlebih dahulu butiran arang di-campur dengan bahan perekat yaitu pati dengan konsentrasi tertentu. Hasil cetakan (briket arang) dikeringkan sesuai dengan standar perdagangan. Kadar perolehan arang yang dihasilkan adalah 30 % dengan karakteristik arang briket sebagai berikut: densitas 0,6 g per ml; 8 % air; dan 1 15 % abu.
Untuk pabrik minyak sawit dengan kapasitas 30 ton TBS per jam dan beroperasi selama 20 jam per hari, akan menghasilkan TKS sebanyak 120 ton per hari atau 120.000 kg per hari (75.000 kg TKS berkadar air 20 persen per hari). Jumlah arang yang dihasilkan dengan rendemen 30 persen adalah sebanyak 25.000 kg. Jika diasumsikan 1 kg arang harganya Rp 150 maka nilai jual arang tersebut adalah sebesar Rp 3.250.000.

 
Kembali ke atas

Produk Emulsi Kesehatan dari Minyak Sawit Merah
Diversifikasi pemanfaatan minyak sawit merah sebagai provitamin A dalam bentuk produk emulsi kesehatan lebih efektif penggunaannya. Oleh karena itu Pusat Penelitian Kelapa Sawit telah mengembangkan proses pengolahan lanjutan minyak sawit merah menjadi produk emulsi yang dapat langsung dikonsumsi oleh manusia. Produk emulsi tersebut diharapkan dapat di-terima mengingat produk sejenis ini yang berasal dari minyak ikan telah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia. Adapun rasio asam lemak jenuh dan tidak jenuh dari produk emulsi tersebut relatif berimbang. Sedangkan kandungan karotenoidnya berkisar 280 ppm dan stabil pada suhu penyimpanan 37oC. Untuk pabrik minyak sawit berkapasitas 200 ton minyak sawit mentah (MSM)/hari, jika diasumsikan 10% dari MSM digunakan untuk pembuatan produk emulsi dari minyak sawit merah, maka minyak sawit merah yang dihasilkan sebanyak 70% atau sekitar 14 ton. Pada pembuatan produk emulsi, minyak sawit merah yang digunakan sekitar 70 persen maka dengan 14 ton minyak sawit merah akan dihasilkan sekitar 20.000 kg produk emulsi per hari. Jika di-asumsikan harga jual 1 kg produk emulsi tersebut sebesar Rp 20.000, maka nilai jual produk emulsi yang dihasil-kan adalah Rp 400 juta.
 
Kembali ke atas

Alat Perajang Tandan Kosong Sawit untuk Persiapan Bahan Baku Pulp
Salah satu alternatif pemanfaat-an tandan kosong sawit (TKS) adalah sebagai bahan baku untuk pembuatan pulp dan kertas. Untuk itu TKS perlu dirajang sehingga didapatkan panjang serat yang memenuhi spesifikasi pada proses pemasakan pulp. PPKS bekerja sama dengan unit pabrik mesin tenera (PMT) Dolok Ilir, PT Perkebunan Nusantara IV, telah membuat alat perajang TKS. Alat perajang yang di-hasilkan merupakan modifikasi dari alat perajang yang dihasilkan se-belumnya yang menggunakan 6 mata pisau dengan kapasitas 4,5 ton TKS per jam. Untuk meningkatkan kapasitas maka dilakukan modifikasi pisau dengan jumlah mata pisau sebanyak 9 buah. Kapasitas alat yang telah dimodifikasi adalah sebesar 6 ton TKS per jam, dengan konsumsi energi sebesar 3,31 KWH per ton TKS. Panjang serat TKS yang dirajang menggunakan alat ini adalah 2-8 cm dan telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan pada proses pemasakan pulp. Harga mesin perajang TKS diperkirakan sebesar Rp 275 juta, sedangkan biaya pengoperasiannya sebesar Rp 4000 per ton TKS. Pem-buatan Pulp dari Tandan Kosong Sawit (TKS) sebagai Bahan Baku Kertas Industri TKS merupakan sumber lignoselulosa yang berlimpah sepanjang tahun. Saat ini TKS dibakar di incinerator untuk mendapatkan abu yang dapat digunakan sebagai sumber hara K atau dijadikan mulsa. Namun kedua pemanfaatan tersebut masing-masing memberikan masalah yaitu mengganggu kebersihan lingkungan dan memerlukan biaya transportasi yang mahal. Untuk itu perlu dicari alternatif lain dalam memanfaatkan TKS agar didapat produk yang memiliki nilai tambah dan aman terhadap lingkungan. Percobaan pada skala pilot ini telah berhasil menghasilkan pulp semi kimia dengan kadar perolehan 50 persen. Pembuatan pulp semi kimia dan kertas industri ini merupakan kerjasama antara PPKS dengan Balai Besar Selulosa. Sifat pulp semi kimia yang di-hasilkan adalah sebagai berikut:
Indeks sobek : 6,60 Nm2/kg
Indeks retak : 2,25 MN/kg
Indeks tarik : 31,31 Nm/kg
Pembuatan kertas industri di-lakukan dengan mencampurkan pulp semi kimia dari TKS dengan pulp dari waste paper dengan perbandingan 1:1. Pencampuran tersebut dimaksudkan untuk menambah kekuatan kertas dan memperlancar proses pada mesin kertas. Grammatur kertas industri yang dihasilkan adalah 165-175 gram per m2.
Untuk PKS berkapasitas 30 ton TBS per jam (600 ton TBS per hari) yang dapat disuplai oleh kebun seluas 6000 hektar akan menghasilkan TKS sebanyak 20 persen (120 ton TKS ber-kadar air 50 persen atau 67 ton TKS berkadar air 10 persen per hari atau 24.120 ton TKS berkadar air 10 persen per tahun). Dengan kadar perolehan pulp semi kimia sebesar 50 persen, maka akan dihasilkan sekitar 12.060 ton pulp semi kimia per tahun. Jika harga pulp Rp 400.000 per ton, maka nilai jual pulp yang dihasilkan dari TKS adalah sebesar Rp 4,8 milyar.
 
Kembali ke atas

Model Ekonomi Minyak Sawit Mentah Dunia
Pendekatan ilmiah untuk merancang dan menganalisis suatu kebijakan adalah dengan mensimulasikan kebijakan tersebut ke dalam model ekonomi. Untuk industri kelapa sawit, telah dikembangkan suatu model ekonomi internasional yang dapat di-gunakan untuk melakukan analisis secara lebih mendalam terutama me-ngenai dampak suatu kebijakan pada berbagai aspek industri MSM domestik.
Hasil simulasi dengan menggunakan model tersebut, menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1995-2005 produksi, konsumsi, ekspor, dan impor dunia diproyeksikan meningkat masing-masing dengan 5,5; 5,0; dan 4,1 persen per tahun. Harga diproyeksikan sedikit menurun yaitu sekitar US$ 415 per ton MSM, Untuk Indonesia, produksi, konsumsi, dan ekspor di-proyeksikan meningkat dengan laju masing-masing 10,5; 5,8; dan 7,9 persen per tahun.
 
Kembali ke atas

Pengendalian Ulat Api
Serangan ulat api (Setothosea asigna) dapat mengabiskan daun kelapa sawit dengan cepat. Tanaman tidak dapat menghasilkan tandan selama 2-3 tahun setelah serangan berat demikian. Empat alternatif teknik pengendalian ulat api ini sedang dikembangkan.
Aplikasi Cordyceps militaris, suatu jamur parasitik, meningkatkan persentase kepompong ulat api ter-infeksi menjadi 44-63%. Struktur konidia dan spora, hasil perbanyakan skala laboratorium dengan media buatan, dapat menginfeksi 42-68 persen kepompong. Dengan demikian jamur ini dapat digunakan dalam skala luas di lapang.
 
Kembali ke atas

Feromon Oryctes rhinoceros
Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros merupakan hama utama per-tanaman kelapa sawit muda, terutama pertanaman ulang di areal yang se-belumnya terserang berat, tanaman dapat mati. Jika dapat bertahan, maka daya hasil tanaman menurun, bahkan saat awal produksinya tertunda.
Pengendalian biasanya dilakukan dengan menangkap kumbang setiap hari atau aplikasi insektisida setiap minggu. Biaya operasional teknik ini sangat tinggi. Sebagai alternatif, daya tarik ethyl 4 - methyloctanoate, komponen utama feromon O. rhinoceros, terhadap kumbang ini telah diuji. Uji menggunakan perangkap berupa ember plastik bervolume sepuluh liter. Tutup ember dilubangi pada bagian tengahnya dan diletakkan terbalik di atas ember. Kantung yang berisi senyawa feromon etyl 4 - methylocnoate digantung-kan di dalam ember dekat lubang pada tutup. Kantung tersebut terbuat dari plastik khusus berukuran 30 cm x 26 cm yang melepaskan feromon secara per-lahan.
Senyawa ethyl 4 - methyloctanoate sebanyak 0,06 ml yang dipasang se-lama dua minggu mampu menarik 94 ekor kumbang. Hasil pembedahan pada kumbang betina yang tertangkap menunjukkan bahwa feromon ini menarik imago O. rhinoceros dari berbagai tingkat fisiologis. Tidak seperti pada pe-ngendalian secara manual, feromon be-kerja sebelum kumbang merusak tanam-an.
Tenaga aplikasi feromon per hektar per bulan hanya 0,4 HOK, jauh lebih rendah dari pada cara manual yang membutuhkan 0,5 HOK. Setiap satu hektar tanaman, cara manual me-merlukan biaya Rp 96.000 per bulan, sedangkan dengan feromon hanya Rp 15.641 per bulan.
 
Kembali ke atas

Minyak Sawit Merah
Minyak sawit merupakan sumber karotenoid alami yang paling besar. Kadar karotenoid dalam minyak sawit yang belum dimurnikan berkisar 500 - 700 ppm dan lebih dari 80 persennya adalah ? dan ß-karoten. Bila tidak terdegradasi, beberapa jenis karotenoid diketahui mempunyai aktivitas pro-vitamin A.
Dilihat dari besarnya aktivitas provitamin A, kadar karotenoid minyak sawit mempunyai aktivitas 10 kali lebih besar dibandingkan dengan tomat. Selain itu studi epidemilogi mutakhir menentukan adanya hubungan antara konsumsi pangan kaya karotenoid dengan penurunan terjadinya kanker.
Saat ini minyak sawit di-konsumsi dalam bentuk termurnikan (purified), terpucatkan (bleached), dan terhilangkan dari busukan (deodorized). Warnanya kuning keemasan dan hampir semua karotenoidnya dihilangkan. Akhir-akhir ini muncul produk minyak sawit yang tingkat pemucatannya sangat tinggi dan diberi label mutu spesial.
Untuk mempertahankan ke-beradaan karotenoid dalam minyak sawit, proses produksi minyak sawit kaya karotenoida beraktivitas pro-vitamin A telah dikembangkan. Pe-ngembangan proses ini juga penting bila dikaitkan dengan penanggulang-an masalah defisiensi vitamin A di Indonesia.

Kembali ke atas

Deteksi Serangan Ganoderma sp.
Kerugian akibat serangan Ganoderma sp. pada areal seluas 1,4 juta hektar saat ini mencapai Rp 560 juta. Pengendalian penyakit tersebut sulit dilakukan karena serangannya sulit dideteksi secara dini.
Suatu perangkat diagnosis penyakit busuk pangkal batang telah dikembangkan dengan menggunakan filtrat hasil pencucian kultur misellium sebagai antigen, dan menghasilkan satu poliklonal dan sebelas monoklonal antibodi. Poliklonal yang diperoleh dapat beraksi silang dengan bahan antigenik dan filtrat pencucian jaringan badan buah dan spora Ganoderma. Spesifisitas antibodi akan ditingkatkan melalu penggunaan antigen dari jaringan badan buah dan spora cendawan Ganoderma serta metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman segera se-telah infeksi. Hasil penelitian ini dapat menghindarkan kerugian yang bisa mencapai Rp 800 juta per tahun.
 
Kembali ke atas

Pabrik Kelapa Sawit Super Mini SM 500
Pabrik Kelapa Sawit Super Mini (PKS SM-500) merupakan salah satu teknologi alternatif pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 0,5 - 1 ton Tandan Buah Segar (TBS)/jam yang dirancang khusus untuk per-kebunan kelapa sawit dengan luas area 160-200 ha. PKS SM-500 sangat mudah dioperasikan, hanya memerlu-kan tenaga kerja sebanyak 6 orang/ shift, menggunakan limbah sawit se-bagai bahan bakar, dan hanya me-merlukan lahan seluas 300 m2.
PKS SM-500 terdiri dari delapan unit peralatan pengolahan, yaitu satu unit boiler yang mampu meng-hasilkan 600 kg uap/jam dengan tekanan 3 kg/cm, dua unit steriliser, satu unit threser dengan kapasitas 500 kg TBS/jam, satu unit double screw press mini, satu unit tangki klarifikasi dengan kapasitas 1200 liter, satu unit tangki penampung minyak, satu unit deperikarper dengan kapasitas 200 kg biji+serat/jam, satu unit nut cracker dengan kapasitas 500 kg biji/jam.
Dengan biaya investasi PKS SM-500 sebesar Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), biaya pe-ngolahan TBS menjadi Crude Palm Oil (CPO) adalah Rp 53,49/kg TBS dengan asumsi harga CPO Rp 2000 /kg, inti Rp 1500/kg dan harga beli TBS Rp 331/kg. PKS SM-500 secara ekonomis layak untuk diusahakan dengan parameter ekonomi sebagai berikut: IRR= 23,8%; B/C= 1,27; NPV= Rp 528.302.891,-; payback period= 50 bulan, BEP= 5 ton TBS/ hari.
Sasaran pengembangan PKS SM-500 adalah kelompok Pekebun Kecil Kelapa Sawit Swadana (PKKSS), Usaha Perkebunan Besar Skala Kecil (UPBSK) dan Usaha Perkebunan Skala Menengah (UPBSM) yang ongkos angkut TBS ke PKS lebih dari Rp 75/kg TBS. PKS SM-500 produksi PPKS tersebut telah diaplikasikan di desa Sukamenanti, Pasaman, Sumatera Barat oleh PT Sawit Langsa Artha Ganda.
Manfaat yang diperoleh petani kelapa sawit dengan adanya PKS SM-500 tersebut adalah petani lebih mudah melakukan pemasaran TBS, harga TBS yang dihasilkan oleh petani menjadi bersaing, sehingga pendapatan petani bertambah. Selain itu, tandang kosong sawit (TKS) yang merupakan limbah padat dari PKS tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik.

 
Kembali ke atas

Teknik Pengolahan Limbah Cair PKS dengan Sistem Anaerobik
Secara konvensional pengolahan limbah di pabrik kelapa sawit (PKS) dilakukan secara biologis dengan menggunakan sistem kolam, yaitu limbah cair diproses di dalam satu kolam anaerobik dan aerobik dengan memanfaatkan mikroba sebagai pe-rombak BOD dan menetralisir ke-asaman cairan limbah. Hal ini di-lakukan karena pengolahan limbah dengan menggunakan teknik tersebut cukup sederhana dan dianggap murah. Namun demikian lahan yang diperlu-kan untuk pengolahan limbah sangat luas, yaitu sekitar 7 ha untuk PKS yang mempunyai kapasitas 30 ton TBS/jam. Kebutuhan lahan yang cukup luas pada teknik pengolahan limbah dengan menggunakan sistem kolam dapat mengurangi ketersediaan lahan untuk kebun kelapa sawit. Waktu retensi yang diperlukan untuk me-rombak bahan organik yang terdapat dalam limbah cair ialah 120 – 140 hari. Efisiensi perombakan limbah cair PKS dengan sistem kolam hanya sebesar 60 – 70 %. Disamping itu pengolahan limbah PKS dengan menggunakan sistem kolam sering mengalami pen-dangkalan sehingga masa retensi men-jadi lebih singkat dan baku mutu limbah tidak dapat tercapai. Oleh karena itu perlu dicari sistem pengolahan limbah yang lebih efisien dengan waktu retensi yang rendah dan efisiensi yang tinggi. Teknik pengolahan limbah PKS dengan sistem tangki anaerobik adalah salah satu sistem pengolahan limbah yang dilakukan secara anaerobik dengan kecepatan tinggi dan sangat efisien. Adapun prinsip kerja teknik peng-olahan limbah tersebut adalah degra-dasi bahan organik oleh bakteri secara anaerobik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan dan mengembang-kan teknologi pengolahan limbah cair menggunakan tangki dengan masa retensi relatif singkat. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini ialah sistem tangki biofilter kecepatan tinggi (Highrare Biofilter Tank). Air limbah yang berasal dari fat-pit dialirkan ke dalam tangki pengumpul dan se-lanjutnya dialirkan ke dalam tangki pengendapan dan tangki umpan (V tank) dengan kapasitas berturut-turut 600, 250, dan 250 liter. Limbah cair PKS dialirkan ke tangki digester I (TD I) dan selanjutnya ke tangki digester II (TD II) dengan menggunakan pompa sentrifugal yang dilengkapi dengan pengatur waktu. Kecepatan aliran diatur mulai dari 25, 50, dan 100 lt/hari. Dengan demikian waktu penahanan hidrolis (WPH) berturut-turut 20, 10, dan 5 hari. Resirkulasi limbah cair PKS dari TD I ke TD II dilakukan dengan pompa resirkulasi. Biogas yang di-hasilkan dari perombakan tersebut di-catat melalui alat pencatat gas ( Gas Counte I = GCI). Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa tidak ada perbeda-an nyata antara perlakuan WPH 20 hari dan WPH 10 hari.
Penggunaan WPH selama 10 hari akan terjadi pengurangan COD LPKS sebesar 80, 8 %. Jika dibanding-kan dengan sistem kolam anaerobic konvensional, sistem tank anaerobic dapat mengurangi waktu perubahan dari 50 hari menjadi 10 hari atau sebesar 80 %.
Kembali ke atas