Penelitian Teh


  1. Sistem Pengangkutan Pucuk Teh Rakyat

Klon Teh Baru Harapan
Semua klon yang akan dilepas (seri PPS 1, PPS 2, MPS 6, MPS 7 dan GPPS 1), mempunyai potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan TRI 2025. Pada tahun ketiga, klon-klon ter-sebut mempunyai potensi hasil di atas 5.000 kg teh kering per hektar/tahun. Kualitas klon teh yang akan dilepas jauh lebih tinggi dari TRI 2025. Hal ini dapat dilihat dari jumlah bulu daun klon yang akan dilepas 7-20 kali. Klon tersebut mempunyai daya adaptasi di berbagai ketinggian cukup baik dan tahan terhadap serangan cacar daun teh.

Kembali ke atas

Penerapan Teknik Pemangkasan di Kebun Teh Rakyat
teh milik petani, ditandai dengan kondisi tanaman yang kurang sehat, perdu-perdu banyak yang mati sehingga produktivitasnya sangat rendah (930 kg per hektar per tahun) di-bandingkan dengan produksi yang di-capai kebun-kebun milik PTPN (2.320 kg per hektar per tahun) maupun per-kebunan swasta (1.880 kg per hektar per tahun).
Untuk meningkatkan pendapatan petani, maka perlu dilakukan ke-giatan rejuvinasi yaitu membuang bonggol (knot) dan cabang-cabang yang keropos. Dengan perlakuan ini akan tumbuh cabang-cabang baru yang pertumbuhannya lebih baik sehingga produksi dapat ditingkatkan. Oleh karena itu telah dilakukan penelitian pemangkasan dengan berbagai ke-tinggian. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemangkasan pada ketinggian 30 cm dan 40 cm ternyata mampu meningkatkan produksi sebesar 30 persen dibandingkan pangkasan pada ketinggian 50 cm (pemangkasan yang umum dilakukan).
Produktivitas teh rakyat rata-rata 1.000 kg teh kering per hektar per tahun. Dengan melaksanakan sistem pangkas ini akan meningkatkan pe-nerimaan yang dicapai adalah 30 persen x 1000 kg teh kering per hektar per tahun = 300 kg teh kering per hektar per tahun atau 300 x Rp 5.000 = Rp 1.500.000.
Kembali ke atas

Gunting dan Mesin Petik Teh
Para pekebun teh mulai kesulitan memperoleh tenaga kerja pemetik karena persaingan dengan sektor industri. Padahal 70 persen dari tenaga kerja di perkebunan teh adalah tenaga pemetik. Penggunaan gunting petik atau mesin petik diharapkan dapat menekan biaya produksi. Hasil pe-nelitian pada tahun 1996 di Pasir Sarongge menunjukkan bahwa peng-gunaan gunting dan mesin petik ber-guna untuk, (a) meningkatkan kapasitas pemetik dua kali lipat dibandingkan cara manual, dan (b) memacu per-tumbuhan pucuk. Agar mutu hasil terjaga, keterampilan penggunaan alat petik perlu ditingkatkan, diikuti pem-berian pupuk pada dosis yang tepat.
Kembali ke atas

Sistem Pengangkutan Pucuk Teh Rakyat
Di samping disebabkan oleh petikan yang kasar, mutu pucuk yang rendah juga disebabkan oleh kerusakan akibat salah penanganan selama penampungan dan pengangkutan. Ke-rusakan pucuk dapat menyebabkan oksidasi senyawa polifenol teh tak ter-kendali sehingga terbentuk warna, cita rasa dan aroma teh yang menyimpang dari kriteria mutu yang baik. Telah di-lakukan pengujian terhadap pe-nanganan pucuk teh yang menjamin mutu pucuk teh segar dan teh hijau yang dihasilkan. Pada dasarnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
(1) wadah yang kokoh/kekar
(2) pengisian yang tidak dipaksakan
(3) jaminan aerasi yang lancar.
Pewadahan pucuk teh dalam keranjang petik dilanjutkan dengan penyimpanan secara curah dalam container (ke atas) ram kawat dianjurkan untuk dipakai oleh para petani teh atau pengusaha pucuk teh.
Kerusakan pucuk teh rakyat yang terjadi selama pengangkutan, pada umumnya dapat mencapai 20 persen. Semakin jauh jarak pengangkutan, semakin besar kerusakan pucuknya. Kerusakan pucuk ini akan meng-akibatkan kualitas dan harga jualnya menjadi turun. Diperhitungkan ke-rugian dapat mencapai Rp 75 per kg pucuk basah dari harga Rp 450 per kg pucuk basah.
Kembali ke atas

Potensi Teh Hijau Indonesia untuk Kesehatan
Potensi teh untuk kesehatan terutama terletak pada kandungan katekinnya. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa teh hijau Indonesia ber-kadar katekin (10,81-11,60 persen) dan lebih tinggi dari pada teh Jepang dan teh Cina. Teh hitam Sri Lanka berkadar katekin hampir sama dengan teh hitam Indonesia (7,028,24 persen) karena sama-sama dibuat dari tanaman teh varietas assamica. Teh wangi Indonesia memiliki kadar katekin cukup tinggi yaitu 9,28 persen. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa berdasarkan kadar katekinnya teh Indonesia terutama teh hijau dan teh wangi memiliki potensi menyehatkan yang lebih besar dari pada teh Cina maupun teh Jepang. Di samping itu hasil penelitian kandungan katekin beberapa teh Indonesia ini juga dapat membuka peluang pasar baru bagi teh Indonesia, yakni sebagai bahan baku industri katekin. Prospek penggunaan katekin teh sebagai sarana penjaga ke-sehatan sangat bagus dengan makin maraknya kebutuhan akan minuman penyegar penjaga stamina “functional food” maupun “dietary food”.
Semakin tinggi kadar katekin pada teh semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Katekin dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah kanker.
Kembali ke atas

Teknologi Produksi Teh Wangi
Teh wangi di Indonesia merupa-kan bahan minuman yang cukup di-kenal dan disukai mayarakat terutama di Pulau Jawa. Sampai saat ini teh wangi dalam aneka bentuk penyajiannya seperti teh bungkus, teh celup maupun seduhan dalam botol gelas atau tetra pach, belum dapat menembus pasar ekspor. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab adalah cita rasa teh yang ringan, komponen partikel tidak seragam (campuran fraksi daun muda, daun tua dan tangkai) serta ukuran teh yang amat heterogen.
Keterbatasan kualitas bahan baku pucuk segar menyebabkan ke-tidaksesuaian komposisi produksi teh hijau kualitas ekspor dengan kompo-sisi konsumsinya. Permintaan ekspor teh hijau mengarah kepada makin banyaknya jenis Gun Powder disusul oleh Chun Mee dan Sow Mee, sedangkan produksi teh hijau umumnya menghasilkan Sow Mee terbanyak baru disusul oleh Chun Mee dan Gun Powder. Keadaan tersebut perlu dipecahkan dengan upaya peningkatan produksi Gun Powder di samping memanfaatkan jenis Chun Mee maupun Sow Mee menjadi jenis teh lain yang dapat di-serap konsumen, di antaranya adalah teh wangi.
Percobaan menggunakan teh hijau jenis Chun Mee dan Sow Mee membuktikan bahwa teh wangi yang dihasilkan memiliki mutu kimiawi dan inderawi yang lebih baik dari pada teh wangi yang dibuat dari teh hijau mutu domestik. Teh ini memiliki cita rasa dan aroma lebih kuat serta memiliki komponen partikel maupun ukuran yang lebih seragam.
Sifat-sifat ini memberikan pe-luang pada teh wangi menjadi komoditas ekspor, baik sebagai teh wangi kemasan maupun celup. Negara-negara ASEAN merupakan negara konsumen teh wangi Indonesia yang pangsa pasarnya masih bisa ditingkatkan
Kembali ke atas

Pengolahan Teh Oolong Indonesia
satu ciri mutu rendah pada teh hijau Indonesia adalah adanya oksidasi senyawa polifenol teh se-hingga teh hijau berasa teh hitam. Mutu teh hijau demikian dapat di-manfaatkan dalam usaha mem-produksi teh Oolong atau teh se-tengah fermentasi yang sangat ter-kenal di Taiwan.
Teh Oolong Indonesia dapat di-buat melalui tahapan proses pelayuan dengan sinar matahari, pelayuan dalam ruangan, pemanasan awal dengan pe-ngering putar, pendinginan dan aerasi, penggulungan dengan Moon Type Roller, oksidasi, pengeringan, dan pematang-an. Teh Oolong yang dihasilkan me-miliki cita rasa khas teh Oolong asal tanaman teh assamica yang lebih kuat aroma dan air seduhannya dari pada teh Oolong Taiwan yang berbahan baku pucuk tanaman teh sinensis.
Produk ini dapat diproduksi oleh pabrik teh hijau rakyat dengan sedikit modifikasi teknik pengolahan maupun tambahan peralatan. Selain itu, modifikasi ini dapat memper-banyak ragam produksinya sehingga meningkatkan keunggulan kompetisinya. Teh Oolong Indonesia ini ditujukan untuk pasar dalam negeri dan Cina atau Taiwan serta negara-negara Asia Tenggara
Kembali ke atas

Prototipe Mesin Pengolah Teh Hijau Mutu Ekspor Skala Usaha Tani
Teh hijau Indonesia dikenal se-bagai komoditas domestik yang diolah lebih lanjut menjadi teh wangi siap dikonsumsi. Keadaan ini berjalan lebih dari seabad sejak teh dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1826. Namun sejak tahun 1989 citra yang melekat pada teh Indonesia sebagai produk lokal bermutu rendah telah berubah total dengan adanya permintaan pasar Maroko, Pakistan, dan Afganistan yang terus meningkat. Volume ekspor ke Pakistan tahun 1996 sebesar 1.502 ton, ke Afganistan 422 ton, tahun 1997 lebih besar lagi. Di samping itu negara-negara di Timur Tengah dan Eropa Timur merupakan pembeli baru yang belum terpenuhi. Dengan demikian teh hijau yang kebanyakan berbahan baku pucuk teh rakyat memiliki ke-sempatan untuk dapat maju bersama teh hitam sebagai komoditas ekspor penghasil devisa negara.
Pengusahaan teh rakyat dicirikan dengan pemilikan lahan sempit yang berpencar, lemah permodalan dan penguasaan teknologi serta tidak terkuasainya pasar dengan baik. Ideal-nya petani teh rakyat perlu membentuk kelompok usaha tani bersama, memiliki pabrik pengolahan, me-nguasai teknologi produksi, serta me-nguasai teknologi pemasarannya. Kelompok usaha tani demikian diharapkan dapat mandiri dalam wirausaha teh hijau mutu ekspor maupun domestik.
Untuk mempersiapkan kelompok petani teh menuju kemandirian tersebut telah dicoba untuk merakit mesin pengolah teh hijau mutu ekspor (dan domestik) skala usaha tani dengan kapasitas olah 2.000 kg pucuk segar per hektar yang dapat dihasilkan kebun teh rakyat secara berkelompok seluas ? 100 ha. Rekayasa mesin teh hijau meliputi mesin pelayu (Rotary Panner), mesin penggulung (Pressure Cap Roller 26”), mesin pengering dan penukar panas (Endless Chain Pressure Drier dan Heat Exchanger), mesin pengering ber-putar (Rotary Drier), mesin pengering akhir (Boll Tea Drier), mesin pemotong (Tea Cutter), dan mesin sortasi kering (Rotary Sifter, Reciprocating Sifter dan Winnower). Semua mesin pengolah ini dirancang dengan komponen produksi dalam negeri dengan memperhatikan kaidah-kaidah murah, mudah, efisien, dan ramah lingkungan. Mesin pe-ngering akhir (Boll Tea Drier) me-rupakan mesin yang membedakan pe-ngolahan teh hijau ekspor dan pe-ngolahan teh hijau domestik.
Kembali ke atas

Rancang Bangun Mesin Petik Teh Skala Kelompok Tani
Minat kerja sebagai tenaga pe-metik teh saat ini sudah berkurang, terutama di kawasan wisata. Dengan berkurangnya tenaga pemetik menyebab-kan sebagian pucuk tidak terpetik pada saatnya, akibatnya menghambat pertumbuhan tunas dan menurunkan mutu pucuk. Dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan mesin petik tidak menyebabkan ter-jadinya penurunan kualitas pucuk dan kesehatan tanaman. Kapasitas kerja mesin petik dapat mencapai 5 kali petikan tangan. Introdusir mesin petik diharapkan disamping dapat men-substitusi kebutuhan tenaga pemetik juga dapat meningkatkan pendapatan pemetik serta dapat menekan biaya pemetikan. Masalah yang dihadapi dalam pengembangan mesin pemetik teh pada perkebunan teh yang ada (Assamica; luas 158.000 ha) adalah bahwa mesin yang ada di pasaran kurang sesuai, karena mesin-mesin petik tersebut dirancang sesuai dengan pola tanam kebun teh yang ada di Jepang Sinensis). Oleh sebab itu dalam pengembangannya perlu modifikasi mesin petik maupun pola tanaman teh yang ada. Kegiatan ini bertujuan memenuhi kekurangan tenaga pemetik teh dengan sasaran meningkatkan kuantitas dan kualitas pucuk pada perkebunan yang kekurangan tenaga pemetik dan membangkitkan industri mesin petik teh di Indonesia. Kapasitas kerja mesin petik hasil rancangan TA 2000 seluas 0,25 ha /jam (400 – 750 kg/jam) dengan harga pokok pemetik-an Rp. 96,-/kg (biaya petik manual Rp. 175,- Rp. 200,-/kg.
Kembali ke atas